Sabtu, 30 Juni 2018

Tidak Diampuni

"Sehubungan dengan idul fitri kita saling bermaaf. Pintu maaf diperlebar. Namun ada seseorang dari awal puasa sudah minta maaf, di pertengahan puasa terjadi perselisihan sampai hari raya. Mereka meminta maaf namun salah satunya menolak. Bagaimana mensikapi hal ini ustadz ? padahal Alloh saja maha pengampun"

Tulis seorang Mahasantri Kajian Artamita ke WA japri saya. Masuk tanggal 17 Juni namun maaf Ibu, baru ini dapat menanggapi.

Sehubungan soalan tersebut, alkhamdulillah ada dalil yang mendekati yaitu terdapat pada hal.49 Kitabul Adab fii Muchtarul Adilah.

Dari Abi Huroiroh dari nabi sholallohu 'alaihi wa salam, bersdabda " Dibuka beberapa pintu surga tiap hari Senin dan Kamis maka diampuni dalam dua hari itu setiap hamba yang tidak syirik kepada Alloh kecuali orang-orang yang ada dendam diantara dia dan saudaranya. Maka dikatakan tunggulah dua orang ini sehingga damai keduanya " Hadits Riwayat Abu Dawud.

Ancaman orang yang terdapat rasa dendam dalam hatinya maka dosanya tidak diampuni, meskipun dia sudah muchlisina lahudiin / memurnikan agama Alloh (tidak syirik).

Masih di kitab yang sama pada halaman 48 baris pertama judul babnya " Bab orang yang membiarkan saudaranya muslim" Dari abu Ayyub al-anshory sesungguhnya Rosulallohi Saw bersabda " Tidaklah khalal bagi seorang muslim yang yahjur (jothak) /membiarkan saudaranya di atas tiga hari. Di mana keduanya bertemu ini berpaling dan ini berpaling, dan paling baik diantara keduanya adalah ayng yang memulai salam (mengajak damai)" HR.Abu Dawud.

Hadits berikutnya masih di halaman yang sama, dari Abu Huroiroh berkata, Rosulullohi Saw bersabda " Tidaklah khalal bagi seorang muslim membiarkan (njothak) saudaranya di atas tiga hari, maka barang siapa yang membiarkan saudaranya di atas tiga hari maka mati masuk neraka " HR.Abu Dawud

Sedangkan setiap hamba beriman yang tadwa (takut kepada 'adzab Alloh) senantiasa berharap diampuni.

"


Selasa, 19 Juni 2018

Sisa-sisa Romadhon


Beberapa hari meninggalkan bulan Romadhon, masih membekas dalam memori bagaimana giat umat memanfaatkan bulan penuh barokah.
Selama satu bulan penuh umat Islam beribadah di bulan Romadhon ibarat melalui lorong dengan situasi dan kondisi meningkatnya suhu keimanan banyak kefadholan yang dapat diambil untuk memperbanyak bekal amalan. Jika peluang itu tidak dapat dimanfaatkan maka tergoloong umat yang rugi. Dalam bulan Romadhon amal kebaikan dilipatgandakan demikian pula amal kejelekan.
Dari Abu Huroiroh berkata Rosulullohi Saw bersabda “ Ketika seseorang memperbaiki Islamnya maka setiap kebaikan yang dia amalkan ditulis baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus lipatan, dan setiap kejelekan yang diamalkan ditulis semislanya (tdk dilipatkan)” Hadits Riwayat Buchori.
Bagaimana indikasi seorang muslim memperbaiki Islamnya ?
Memperbaiki Islam berarti meningkatkan kebaikan, meningkatkan kualitas Islamnya.
Apa saja yang dapat ditingkatkan ?
Nah momentum bln Romadhon inilah ada beberapa point yang dapat dipertahankan untuk terus diamalkan di bulan-bulan berikutnya. 

  • Puasa. Amalan wajib di bln Romadhon dapat dilanjutkan dengan berpuasa sunah. Tapi jangan lupa jika puasa Romadhon kemarin punya hutang ya dibayar/Qodho. Untuk puasa sunah di bulan syawal ada enam hari. Berdasarkan dalil riwayat Muslim dari Abu Ayub al-anshory Rosulullohi Saw bersabda “ Barang siapa berpuasa Romadhon kemudian mengikutkan enam hari di bln Syawal maka sebagaimana puasa satu tahun”. Selepas bln Syawal bisa dilanjutkan dengan puasa sunah lainnya, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Nabi Dawud, Puasa ‘Arofah, Puasa ‘Asyura, juga Puasa putih.
  • Sholat Malam. Sholat tarawih yang dilaksanakan selama bulan Romadhon memberikan pelatihan kpd umat untuk qiyamul lail- berdiri sholat malam. Di luar bulan Romadhon dapat dilestarikan untuk semakin taqorub ilallohi. Banyak mohon ampun atas segala dosa, mendoakan untuk org tua dan anak2. Hal yang penting dijaga adalah witirnya. Sholat malam itu mastna-matsna (dua-dua rokaat salam) jika kawatir mendekati fajar maka tutuplah dengan witir. Jumlah rokaat ganjil. Bahkan dalam hadits riwayat Abu Dawud dari Abdulloh bin Buroidah dari bapaknya berkata, bersabda Rosulullohi Saw “ al-witru /witir adalah haq (penting) maka barangsiapa yang tidak witir mk bukan golonganku, witir itu haq mk barangsiapa yang tidak witir berarti nukan golonganku, witir itu haq mk barangsiapa yang tidak witir mk bukan golonganku”. Jika sholat malam maka witir seperti wajib. Sehingga jika terpaksa bangun sdh mendekati fajar maka langsung saja kerjakan sholat witir dulu. Doanya belakangan.Sholat sunah dapat terus diperbanyak seperti sholat rowatib yang mengiringi sholat wajib selain ba'da subuh dan ba'da ashar. Kemudian sholat tasbih, sholat khajat, istichoroh, ba'da wudhu.
  • Zakat Fitrah. Fungsinya zakat untuk mensucikan amalan puasa dari perbuatan lahan dan fasik juga member makan orang miskin. Bahkan hadits lain menyebutkan bahwa amalan puasa tergantung di bawah mendung, kecuali setelah dizakati maka amal puasa sampai kepada Alloh Swt. Semangat zakat hendaklah diteruskan dengan sering bersodaqoh dan infaq di jalan Alloh sebagai wujud jihad (memperjuangan dengan harta) li takunu kalimatullohi al-a’la, agar menjadikan kalimat (Agama Alloh) luhur. 
  • Tilawatil Qur’an. Selama bln Romadahon di masjid, mushola, rumah-rumah banyak orang membaca Qur’an. Tidak sedikit yang mentarget khatam satu kali. Ada juga yang lebih satu kali. Membaca Qur’an pahalanya banyak sekali berdasar hadits riwayat Tirmidzi dari Abdulloh bin Mas’ud Rosulullohi Saw bersabda “ Barang siapa yang membaca satu khuruf dari kitabillah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan ditulis semisal sepuluh kebaikan, aku tidak berkata alif-lam-mim satu khuruf, tetapi alif satu khuruf lam satu khuruf dan mim satu khuruf  ”. Jika di dalam bln Romadhon membacanya agak cepat karena mengejar khatam, maka di bulan-bulan berikutnya membacanya lebih pelan sambil meresapi makna kandungannya. Syarat untuk mampu meresapi makna yang terkandung di dalamnya, perlu mengkaji lebih dulu arti kata demi kata (artamita) dari ayat-ayat dalam Al qur’an. 
 
Dari empat point sisa-sisa Romadhon ini bab Tilawatil Quran yang lebih ditekankan. Dengan membiasakan  Tilawatil Qur’an sesuai dengan mad (panjang-pendek bacaan), machrojul khuruf, hukum tajwid insyaAlloh mendapat pahala besar, namun tidak kalah pentingnya adalah mengetahui kandungan makna di balik ayat-ayat firman Alloh Swt. Di awal surat Albaqoroh (2) ayat 2 “Itulah (Qur’an) kitab yang tiada keraguan menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa”.

Selasa, 29 Mei 2018

Undangan Dari Alloh Swt

Jika diundang seseorang lalu kita datang tentunya dia senang.
Coba jika tidak datang, sudah begitu tidak ngasih kabar lagi. Kecewa rasanya

Aturan sesama muslim ada hal yang wajib. Salah satunya adalah mengabulkan undangan. Bagaimana jika yang mengundang adalah Alloh Swt ?
Jika mengabulkan tentu membuat Alloh Swt ridho, dan kemarahan Alloh Swt akan dirasakan terutama di akhirat berupa adzab yang sangat pedih.

Yuk baca lebih lanjut apa itu undangan Alloh Swt.

Baca lanjutannya 



Selasa, 22 Mei 2018

I'tishom

Puasa Romadhon hari ini memasuki ke-7.
Informasi tentang G.Merapi yang mengalami beberapa kali letusan dishare ke beberapa grup WA. Ikut mewarnai nuansa kewaspadaan warga dusun saya dan sekitarnya. Maklum tahun 2010 yang lampau ikut mengungsi di jl.Magelang. ;)

Agar tidak terlewat momentum barokah, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan di hadapan alloh, maka di sela2 waktu saya gunakan untuk tilawah sambil tadabur. Sudah hari ke-7 namun baru sampai juz 6. Yah....minimal dalam satu bulan Romadhon minimal khatam 1 kali.
Sampai pada Surah An-nisa ayat 174-175 saya berhenti. Dan membuka netbook menulis kandungan ayat tersebut.

Baca lanjutannya

Senin, 30 April 2018

Awas Rugi

Rugi alias tidak untung. Tapi rugi dalam keterangan kali ini bukan sekedar tidak untung karena jual belinya tidak mendatangkan hasil. Tapi rugi yang mengakibatkan kesengsaraan yang tidak dapat diukur.

Jika rugi urusan materi duniawi dapat dicarikan ganti. Rugi yang dirasakan di akhirat tidak dapat diulangi. Orang yang rugi menyesal di akhirat minta kepada Alloh Swt agar dikembalikan ke dunia kembali.
Ini doa, permintaan yang sudah terlambat. Tidak mungkin Alloh Swt mengabulkan QS.As-sajadah (32):12.

Lanjut Membaca

Senin, 23 April 2018

Da'wah Sesat

Seorang teman di group WA kemarin , Senin, 23-4-18 mempertanyakan "terus group dakwah masuk yg mana ?" Saya menanggapi "mohon bersabar untuk jawaban harus saya tunjukkan dalilnya, Saya carinya dulu".
Perbincangan singkat namun bagi saya pribadi termasuk urusan berat. Urusan terkait urusan agama. Kadang orang menilai sensitif, jika tidak terbuka. Inilah dalil yang saya bilang, sudah ketemu.
Mohon maaf jika tidak berkenan. Manusia hanya berusaha, Alloh Swt lah yang menentukan sesat-benar, haq-batal.

Baca lanjutannya.


Sabtu, 31 Maret 2018

Bersyukur


Gimana , kecelakaan  di mana ? gak apa, alkhamdulillah cuma lecet.
Sering saya dengar dialog singkat semacam itu.
Sebagaimana yang saya alami hari Minggu 18/2/2018. Saat akan mengisi sosialisasi sekaligu kajian Metode Ekutubu di Temanggung.
Karena route yang belum hapal jalan menikung menanjak pula. Saya rem rupanya jalan seperti licin.

Lanjut membaca

Minggu, 18 Maret 2018

Syafa'at Buat Siapa

Syafaat, pertolongan Alloh Swt yang tentunya sangat dinantikan hamba ketika hari kebangkitan.
Syafaat artinya pertolongan.
Sering terdengar harapan sekaligus doa seorang mengatakan "sholawat soho salam mugi katetepno kagem Rosulullohi Saw ingkang tansah kito antu-antu syafa'atipun wonten ing yaumil akhir samangke".
Dalam Bhs Indonesia "Sholawat serta salam semoga ditetapkan untuk Rosulullohi Saw yang selalu kita harapkan syafaatnya di hari akhirat kelak".

Lanjut membaca

Senin, 19 Februari 2018

KTH, Media Belajar Arti Kata

  
KTH menyingkat kepanjangan Kitab Ta'sisu Himmati

Kata kitab berasal dari Bhs.Arab kataba-yaktubu-kitabun (telah menulis-dia menulis- tulisan)
Tentu saja konteknya yang berbahasa Arab seperti Kitab Suci Al-Qur'an, kitab hadits dll.

Penerbit : Deepublish (CV.Budi Utama)
Jl.Rajawali, Gang Elang 6 No.3 Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta.
Cetakan Pertama Februari 2017.
ISBN : 978-602-401-733-0

Penulis : Hari Wuryanto
Tata Letak Isi : Cinthia Morris Sartono.

Latar Belakang Penulisan :

 Budaya tulis menulis sudah sejak lama dilakukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan secara umum. Bahkan penulisan dokumen yang termasuk kuno sudah dimulai sejak jaman Nabi Sulaiman A.s. Ketika sidang majelis yang tidak dihadiri burung Hud-hud,. Nabi Sulaiman mengancam menyembelih jika si Hud-hud tidak dapat menjelaskan dengan jelas akan ketidakhadirannya, Tidak lama kemudian Hud-hud datang dengan menceritakan akan pemandangannya melihat di negeri Saba'.
Seorang Ratu beranama Bilqis beserta masyarakatnya yang menyembah matahari bukannya Alloh Swt penciptanya.
Raja Sulaiman sebagai pembawa risalah pada jamannya ingin ber-amar ma'ruf kepada Ratu Bilqis dan rakyatnya. Kemudian mengutus burung Hud-hud " pergilah engkau membawa kitabku , jatuhkanlah kepada mereka lalu berpalinglah lihat bagaimana respon mereka". Akhir kisahnya Ratu Bilqis menjadi insaf beriman kepada Alloh Swt. Kisah yang diabadikan haq dalam Surah An-Naml (27):20-44. 

Kitab yang disabdakan Nabi Sulaiman "idzhab bikitabi" pergilah dengan (membawa) kitabku. Bukan berarti Hud-hud membawa kitab dalam bentuk buku, tetapi berupa selembar kertas dengan tulisan pesan.

Dengan pesan yang terdokumen menjadi kekuatan secara fisik. Jika bukan dalam bentuk tulisan, sulit sekali Hud-hud yang jenis burung harus menyampaikan kepada Ratu Bilqis golongan manusia.
Dalam bentuk dokumen , tulisan dapat bertahan lama selama tulisan masih dapat dibaca dengan jelas.

Penggunaan KTH Untuk Kajian Islam

Sebelum Rosulullohi Muhammad Saw diwafatkan oleh Alloh Swt Islam adalah agama yang sudah sempurna (QS.Almaidah [5]:3. Cara peribadatan hamba kepada Sang Kholiq sudah khatam ditulis di dalamnya. Sebagai hamba yang menghendaki rohmat dan menjauhi murkaNya tentu saja bersiap sedia dan tawakal menjalankan perintah untuk mempelajarinya.

Untuk dapat memahami Kitab Suci Al-Qur'an Rosulullohi Saw memberikan contoh kepada para sohabat.
Sebagaimana hadits yang diriwayat dari Ibni Abas dan dihimpun Abu Dawud Rosulullohi Saw bersabda " tasma'un- wa yusma'u minkum - wa yusma'u miman sami'a minkum" kalian mendengarkan- dan didengar dari kalian - dan didengar dari org yang mendengar kepada kalian.

Kondisi mendengarkan pada masa itu berarti posisinya berdekatan tanpa alat bantu.
Secara bersambung atau estafet saling memberi pendengaran satu orang yang langsung mendengar dari Rosululloh Saw, kemudian kepada yang tidak hadir , begitu seterusnya.

Pendengaran menjadi cara yang paling akurat dijalankan Rosulullohi Saw dalam mengembangkan ilmunya kepada para sohabat. Demikian pula sohabat dipesan untuk menyampaikan pendengaran dari nabi kepada orang lain. Rosulullohi Saw bersabda "Semoga Alloh Swt memberi sinar kepada orang yang mendengar dariku hadits kemudian menyampaikannya , meskipun banyak orang yang diberi pendengaran lebih hapal daripada org yang memberi pendengaran " hadits riwayat Ibnu Majah dari Abdurohman bin Abdulloh dari bapaknya.

Majelis Ta'lim Bina Istiqomah yang kami rintis sejak tahun 1991 hingga sekarang juga menjalankan pembinaan umat dengan kajian langsung mendengarkan.

Untuk mewujudkan niyat berbagi ilmu maka kami susun KTH agar masyarakat luas yang terkendala faktor jarak dan waktu dapat ikut mengikuti kajian jarak jauh.


Adapun KTH adalah penguat ingatan dalam bentuk lembaran /fisik.

Isi KTH

Sesuai namanya Ta'sisu asal kata al-uss- asas , pondasi. Sedang himmati dari al-hamma.Kitab yang berisikan dalil-dalil dari Al-Quran dan Hadits dengan tema asal-usul motivasi. Jumlah 39 tema tetapi ada 41 dalil karena no.26 ada 26.A dan 26.B. Dengan mengkaji kitab ini maka kandungan maknanya dapat meningkatkan semangat belajar agama Islam secara lebih mendalam dan serius. 

Teknik Kajian 

Cara mengkaji KTH menggunakan Metode Ekutubu, insyaAlloh dijelaskan di bab terpisah.

KTH di dalamnya ada LPM (Lembaran Praktek Makna) untuk mempraktekkan cara yang dilakukan para santri menngali ilmu di pondok pesantren. 

Kemudahan Mengkaji

Atas idzin Alloh Swt , alkhamdulillah kami dapat berbagi pengalaman ilmu saat dulu belajar di ponpes, kemudian memulai merintis kajian kecil-kecilan di mushola kampung sendiri. Dengan dukungan IT (Teknologi Informasi) cukup dengan Hp yang terkoneksi internet kaum muslimin wal muslimat serta masyarakat umum dapat mengikuti kajian jarak jauh.
Suatu kemudahan yang amat sayang jika disia-siakan.

















Sabtu, 03 Februari 2018

Alloh Swt Tdk Adil ?

Sebagai makhluk ciptaan Alloh Swt secara fitrah diberi perasaan takut. Rasa takut yang mengarah kepada ancaman siksaNya dan sebaliknya berharap ridho dan rohmatNya itulah yang disebut taqwa.


Menghayati Al-Qur'an Menambah Ketaqwaan. 

Sepulang dari sholat subuh dari masjid yang hanya berjalan 100 meter, Sabtu 3/2/2018 sebagaimana biasanya langsung duduk di meja depan membuka Al-qur'an untuk tilawah. Sebenarnya membaca  tiga ayat juga sudah baik. Namun rasanya kurang kurup kalau benar2 hanya itu. Saya memang tidak membaca banyak. Paling dua halaman. Saya sering terhenti untuk tadabur yaitu mengulangi menghayati kandungan maknanya. Terutama ketika sampai pada bagian yang sulit dicerna pengertiannya.
Dengan menghayati makna yang terkandung di dalamnya dapat menambah rasa taqwa kepadaNya.

Betulkah Alloh Swt Tidak Adil ? 

Kemarin pagi yang saya baca Surah An-Nakhl (16) ayat 37 "in takhrish 'ala hudahum fa innaAlloh laa yahdi man yudhil-lu wa ma lahum min nashirin " jika engkau (Muhammad) ingin sekali mereka mendapat petunjuk maka sesungguhnya Alloh Swt tidak akan menunjukkan kepada orang yang telah menyesatkannya dan tidak ada penolong bagi mereka.
Sepintas memahami ayat ini seolah Alloh Swt kejam, Rosulullohi Saw yang seorang hamba pilihan berusaha memberi petunjuk kepada orang disayangi toh akhirnya orang tersebut tidak diberi hidayah oleh Alloh Swt sehingga meninggal dunia tidak beriman. Jika sudah demikian pastilah di akhirat tergolong orang yang rugi.
Jadi ingat ayat 56 surah al-Qosos (28) " Innaka laa tahdi man akhbab-ta walakinnAlloha yahdi man yasya' , wa huwa a'lamu bil muhtadiin" Sesungguhnya engkau tidak dapat menunjukkan kepada orang yang kau cintai tetapi sesungguhnya Alloh menunjukkan kpd orang yang Alloh menghendaki ' dan Alloh maha mengetahui orang yang mendapat petunjuk.

Mengamati ayat ini ada dua pengertian yang dimaksud :

1) Bukan Alloh Menganiaya Hamba.
QS.At-Taubat (9);70 "Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata  maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri".
Alloh maha pengasih dan penyayang kepada hambanya. Mereka dibinasakan di muka bumi dan di akhirat dimasukkan menerima adzab yang abadi, karena tidak mengindahkan firmanNya.

2) Sifat ketidakpercayaan hamba.
QS.An Nakhl (16);104. "Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh (Al Quran), Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih".

Kaidah praduka tidak bersalah.
Alloh Swt sudah mengutus Rosulullohi Saw kepada semua manusia, dengan menyampaikan wahyu yang dihimpun dalam muskhaf Al-Qur'an. Sekarang sudah dapat diperoleh dengan mudah. Hidayah adalah milik Alloh Swt. Jika seseorang tidak percaya terhadap keterangan yang dibawa Rosulullohi Saw. Jika ketika dibacakan ayat beserta keterangannya ada orang yang tidak percaya, maka Alloh tidak akan memberi hidayah.  

Masih ada ayat maupun hadits yang relevan yang disimpulkan bahwa Alloh Swt tidak menganiaya kepada hamba. Alloh Swt maha adil.

Namun yang harus diingat bahwa Alloh Swt maha kuasa, dan melakukan apapun yang dikehendaki.
Alloh Swt tidak ditanya namun hambanya ditanya di akhirat tentang amalannya.

Hal terpenting bagi hamba yang dapat dilakukan adalah senantiasa berdo'a dan berusaha dengan mengikuti petunjuk utusanNya.
Semoga Alloh Swt senantiasa menetapkan kita dalam hidayahNya, mendapat pertolongan di dunia hingga akhiratnya, aamin.

 







Minggu, 28 Januari 2018

Waspada Dakwah



Da’wah Islam Rohmat Seluruh Alam


Islam adalah nama agama yang Alloh sebut dalam Al-quran surah al-maidah ayat 3 ……alyauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa rodhitu lakumul islama diinan…..

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama bagimu dan telah Aku tamatkan nikmatKu dan Aku telah ridho Islam sebagai agama.”
Islam Sebagai Rohmat
Rohmat adalah kasih sayang. Di dalam surah Alfatikhah kata ar-rohman artinya Alloh maha pengasih. Sifat Alloh mengasihi “li jami’I kholqihi” untuk kesemua makhluknya. Sedangkan Ar-rokhiim artinya penyayang namun berlaku “lil mu’miniina khossoh” bagi orang iman khusus.
Surah An-nabia (21);107 “Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Risalah yang dibawa Rosululloh Muhammad Saw berlaku mulai saat diberi wahyu hingga akhir jaman menjelang hari kiyamat. Berbeda dengan para rosul sebelumnya yang hanya berlaku pada jamannya sebelum diganti rosul berikutnya.
Da’wah Dengan Rohmat
Berasal dari da’a- yad’u-da’watun(da’wah) isim /kata benda, ajakan. Merupakan amal yang mulia karena mengajak manusia minadhulumati ila nnur. Dari alam kegelapan menuju alam cahaya.
Da’wah memang sepatutnya dengan kasih sayang bukan paksaan. Laa ikroha fid-diin tiada paksaan dalam agama. Toh sudah jelas mana yang benar diantara yang menyimpang. 
Waspada Dakwah Sesat
Dakwah adalah ajakan. Penting untuk dimaklumi bagi semua warga masyarakat bahwa tidak semua ajakan itu mengarah kepada kebenaran. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Huroiroh, Rosulullohi Saw bersabda “ Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala semisal pahala orang yang mengikuti, tanpa sedikitpun mengurangi dari kebaikan orang yang mengikuti. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan maka baginya mendapat dosa semisal orang yang mengikuti, tanpa sedikitpun mengurangi dari dosa orang yang mengikuti”.
 
Sebagai warga masyarakat agar senantiasa waspada kepada setiap ajakan. Karena di akhir jaman terjadilah dakwah atau ajakan justru mengarah ke pintu jahanam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bagian kitabul fitan. Para sohabat bertanya kepada Rosulullohi Saw tentang kebaikan, namun Khudzaifah bin Zaman bertanya tentang kejelekan karena khawatir kejelekan itu menimpanya.Rosulullohi Saw menjawab “ Betul (kelak ada masa dimana tersebar) dakwah/ajakan menuju beberapa pintu jahanam, barang siapa mengabulkan ajakan itu akan masuk ke neraka jahanam.  Khudzaifah bertanya, wahai Rosulalloh jelaskanlah kepadaku cirri-ciri mereka. Jawaban rosul “ Mereka dari kulit2 kita (secara tampilan orang Islam) mereka berbicara dengan lisan kita ( fasih berbicara dengan dalil bahasa Arab).
 
Dari hadits itu, maka sepatutnya kaum muslimin wal muslimat tidak secara serta merta mengikuti setiap dakwah meskipun terlihat dengan bahasa dan tampilan yang menarik perhatian.
Pesan Rosulullohi Saw dalam hadits riwayat Malik dalam kitab Muwato’ “ Telah aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya. Yaitu Kitabilah (alQuran) dan Sunah nabinya Alloh (hadits2 sokhih)
Kaum muslimin wal muslimat agar senantiasa mohon petunjuk (hidayah) kepada Alloh Swt agar program dakwah dapat berhasil membawa manusia menuju kepada keselamatan hidup di dunia hingga akhirat.
Dakwah Islam yang benar adalah rohmatan lil ‘alamin. Bukti kasih sayang Alloh kepada hamba di seluruh alam yang mentaati dan mengindahkan firmanNYA.