Selasa, 21 Juni 2016

Pembahasan LPM Kajian no.27 : Ingin Menerima Kiriman Amal Jariyah ?



Klik gambar di atas untuk memperbesar

'an Abi Ghuroiroh anna Rosulallohi SAW qoola idza mata al-insanu in-qoto'a 'anhu il-la min tsalaatsatin asy-ya min shodaqotin jariyatin au 'ilmin yun-tafa'u bihi au waladin sholikhin yad'u lahu.

Dari Abi Ghuroiroh sesungguhnya Rosulalllohi SAW bersabda ketika mati manusia putus darinya kecuali tiga perkara dari sodakoh yg mengalir atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak sholih yang mendoakan padanya.


Manusia diciptakan oleh Alloh SWT diberi otak. Secara ilmu biologi adalah materi organ tubuh yang ada di dalam tengkorak kepala. Sebagaimana makhluk lain juga diberi otak. Nah, bedanya otak manusia dapat berfungsi lebih universal yaitu dapat dipakai untuk berakal, berpikir. Inilah bedanya dengan makhluk lain. Kalau hewan, ayam misalnya, dia punya otak tapi tdk dapat berpikir. Adapun dia mencarikan makan untuk anaknya, burung membuat sarang itu insting, naluri yang berhenti di situ tidak berkembang.

Dengan akal dan pikiran itulah seseorang kemudian mempunyai hasrat dan kemauan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Peribadatan adalah salah satu upaya untuk mendapatkan imbalan kebaikan atau nilai pahala pada masa yang akan datang. 

Menurut ketentuan dalam Kitabillah dan Sunah atau tuntunan Rosululloh SAW, suatu saat kelak di mana seseorang sudah tidak dapat beramal karena sudah meninggalkan dunia, masih ada tiga perkara yang tetap mengalirkan pahala kepada seorang yang pernah "menanamkan sumber kebaikan" tersebut.

Yang pertama adalah "sodakoh jariyah". Kepemilikan harta benda akan habis menjadi tiga kategori, menjadi pakaian yang dipakai sampai robek, menjadi makanan yang terbuang di wc dan yang disodakohkan di jalan Alloh SWT. Yang disodakohkan itulah yang kelak akan menjadi harta yang sebenarnya dan tidak dapat dicuri orang lain karena diterima [jika sesuai syarat dan ketentuan Alloh], dijaga , bahkan dilipatgandakan disisiNYA.
Diantara yang disodakohkan itulah ada yang disebut jariyah, terus mengalirkan balasan kebaikan selama bentuk sodakoh tetap digunakan. Contoh, sodakoh jariyah untuk membangun tempat ibadah, pondok pesantren, mushola, membelikan kitab Quran, Hadits dll. Tentu beda dengan sodakoh yang sifatnya sekali hais pakai, sodakoh makanan, minuman, pakaian dll.

Kemudian ilmu yang diambil manfaatnya juga dapat terus mengalirkan pahala. Senada dengan sabda Rosulallohi SAW " Barang siapa mengajak kepada petunjuk maka baginya mendapatkan kebaikan/pahala semisal pahalanya orang yang mengikuti tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang mengamalkan....alhadits" hadits riwayat Abu Dawud.
Upaya menyeru kepada kebajikan cukup banyak hadits yang intinya memberikan nilai pahal yang besar. Menyebarluaskan ilmu agama juga terasa lebih mudah dibanding bersodakoh di jalan Alloh SWT terutama dari sisi material. Keduanya merupakan bagian yang penting demi tegaknya kalimatulloh.

Yang ketiga adalah "anak sholih yang mendoakan".
Salah satu keberuntungan orang tua jika mempunyai anak sholih yang senantiasa mendoakan orang tuanya dikala masih hidup hingga setelah meninggal dunia. Anak sholih mendoakan untuk orang tuanya dapat dikabulkan oleh Alloh SWT jika memenuhi beberapa syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan.

Syarat pertama ; Kondisi anak/orang yang mendoakan
QS.al-A'rof [7]; Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan terhadap beberapa ayat KU dan mereka sombong [tidak menerima] dari ayat tersebut, maka tidak dibukakan pintu langit baginya, dan mereka tidak akan masuk surga sehingga unta masuk ke lubang jarum, dan seperti demikianlah Aku membalas kepada orang2 yang berdosa.
Ungkapan "tidak dibukakan pintu langit" maksudnya tidak diterima doa dan ibadah lainnya. Jika org tersebut mendoakan kepada Alloh untuk org tuanya, maka menurut ayat tersebut, tidak diterima.

Syarat kedua ; caranya mendoakan Supaya amal ibadah diterima Alloh SWT dipersyaratkan mengikuti contoh yang telah Rosulullohi SAW ajarkan. Jika tidak mentaati peraturan ini, misal dengan menambah. mengurangi atau merubah dari aturan syariat sehingga tidak sesuai lagi dengan yang rosul ajarkan, maka amalan juga ditolak. Amalan tersebut tergolong bid'ah.
" Alloh menolak untuk menerima amalan orang ahli bid'ah sehingga dia meninggalkan bid'ahnya" hadits riwayat Ibnu Madjah kitab muqodimah.

Syarat ketiga ; kondisi orang yang didoakan 
Dikisahkan dalam Kitab Suci Alquran pada surah Hud [11];41-47 dimana Nabi Nuh diprintah Alloh SWT untuk membuat kapal dan terletak di pegunungan. Hal demikian makin mengundang rasa kebencian orang-orang kufur yang semakin mengejek kepadanya. Hingga saat wahyu Alloh SWT agar Nabi Nuh diperintah Alloh SWT untuk mengajak umatnya naik kapal karena pelajaran kepada orang kufur akan segera dimulai. Pada ayat 42 " Hai anakku naiklah kapal bersamaku, dan janganlah kau jadi bersama orang-orang kafir " Ternyata putra Nabi Nuh yang bernama Kan'am tersebut menolak ajakan sang ayah, akhirnya mati tenggelam bersama orang-orang kufur ketika Alloh SWT memerintah langit dan bumi menenggelamkan seluruh permukaan bumi.
Seketika Nabi Nuh memohon kepada Alloh SWT " wahai tuhanku dialah Kan'am ahliku ". Secara tegas pada ayat 46 Alloh SWT menjawab " hai Nuh sesungguhnya dia bukanlah ahlimu, sesungguhnya dia [amalnya] tidak sholih. maka jangan kau minta apa-apa yang tiada bagimu ilmunya, Aku nasihati engkau jangan jadi engkau orang yang bodoh/jahiliyah"
Saudara-saudaraku,seorang Nabi saja yang punya kedekatan kepada Alloh SWT jika mendoakan orang yang kufur maka doa itu tidak akan diterima, tidak nyambung, terlebih kita yang manusia biasa.

Teruslah, mari kita belajar dan terus belajar mengkaji agar kita benar-benar paham seperti apa harusnya amalan yang benar menurut Alloh SWT, karena Dialah yang kelak akan menilai. 


   




Sabtu, 11 Juni 2016

Pembahasan LPM Kajian no.26-C : Rahasia Petunjuk Alloh SWT









Klik tampilan di atas untuk memperjelas

.....wa innalloha la hadil-ladziina amanuu ila shirotim mustaqiim

....Dan sesungguhnya Alloh niscaya menunjukkan kepada orang2 yang beriman menuju jalan yang benar.


Petunjuk Alloh SWT atau rohmat Alloh diberikan kepada umatnya yang dikehendaki, yachtashu birohmatihi man yasya' wallohu dhul fadhlil 'adhiim QS.Ali Imron [3];74.

Dari ayat itu apakah menunjukkan Alloh SWT tidak adil, pilih kasih ?

Bahkan , kalimah <yudhil-lu man yasya'> Alloh menyesatkan kepada orang yang dikehendaki, terdapat pada 3 tempat dalam al-Qur'an, 
Adakah Alloh SWT bersifat kejam ? 

ok mari kita bahas satu persatu, tulisan pada posting ini sekaligus menyimpulkan dari ketiga kali posting dalil [26.A +26.B dan 26.C] yang terangkum dalam satu tema "Memahami Rahasia Menjemput Hidayah Alloh SWT"

Di awali pada postingan LPM 26.A ;
yang mana pada Surah al-Fatikhah ayat 6-7 "ihdinash-shirotol mustaqiim" 

Kalimat yang dibaca ketika berdiri dalam tiap rokaat sholat tersebut merupakan doa seorang hamba memohon kepada Alloh agar ditunjukkan menuju shirotol mustaqiim=jalan yang benar/lurus. Dengan memahami setiap penggalan lafadz Arab dalam bacaan sholat melalui belajar arti kata demi kata insyaAlloh bertambahlah khusu', lisannya melafadzkan doa sekaligus dalam hati mengikuti dengan artinya. 

Hidayah yang membawa seorang berada pada jalannya para Rosul dan orang2 solih, mendapat pertolongan dan diselamatkan dunia hingga akhirot, merupakan dambaan setiap umat.

Jika seseorang sudah mendapatkan signal hidayah Alloh sehingga masuk wilayah shirotol mustaqiim maka hamba tersebut merasa lapang hatinya menerima Islam apa adanya, semua ketentuan yang terdapat dala Kitab Quran dan Sunah [tuntunan rosul] dalam hadits, dia ridho menerima. Istilahnya dari hukum yang ringan, sedang sampai yang menurut umumnya dibilang berat, tetap Alloh SWT menqodarkan hamba tersebut sanggup menerima dan mengamalkan mastato'na , se maksimal kekuatannya. 

Hal ini dapat diteropong melalui QS.al-An'am [6];125
Maka barangsiapa yang Alloh SWT menghendaki untuk menunjukkan / memberi hidayah, maka Alloh melapangkan dada/hatinya terhadap Islam.....al-ayah dst.

Termasuk tentu saja dalam beribadah mengikuti ketentuan yang terdapat dalam QS.an-Nisa[4];59 

Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Alloh, dan kepada rosul dan yang mengurusi agama kalian, jika kalian berselisih dalam sesuatu [segala urusan melaksanakan perintah Alloh] maka kembalikanlah urusan itu kepada Alloh [kaji lagi Qurannya] dan rosulnya [buka kembali haditsnya] demikian itulah cara/tafsir yang baik.

Itu ciri di dunianya.
Sedangkan hasilnya di akhirat kelak dapat diamati QS.an-Nisa [4];69 
Dan barangsiapa yang taat Alloh dan utusan maka mereka itu bersama para orang2 yang telah diberi ni'mat atas mereka [antara lain] para nabi, orang sidik, syuhaha', orang sholih dan merekalah sebaik-baiknya teman.

Jika Alloh berkenan memberi hidayah kepada sesorang, wah... itu bejo kemayangan /keberuntungan yang sangat besar. Karena hidayah tidak ada yang menjual, meski ada toko hidayah.....-]  sangat mahal, tidak dapat diukur dengan nilai duniawi sebesar apapun. Karena di akhirat kelak digolongkan bersama para nabi, orang sidik, para pahlawan perang syahid, orang2 sholih, tidak perlu takut, tidak mungkin akan dimasukkan neraka, tapi akan katut/terbawa ke surga....Allohuakbar.

Kemudian pada postingan LPM 26.B ;
Dari permohonan hamba tersebut, sebenarnya Alloh SWT memberikan jawaban kepada semua umatnya yaitu tertera pada QS.al-An'am[6];153

Dan sesungguhnya ini Quran adalah jalanKU yang benar/lurus, maka ikutilah dia, dan jangan engkau ikuti beberapa jalan [lainnya] maka engkau berpcahbelah dengannya, demikian ini Alloh wasiyat kepada kaluan agar kalian bertaqwa.

Jika hamba mohon ditunjukkan kemudian Alloh SWT menjawab berupa seruan agar mengikuti Quran dan dilarang mengikuti jalan selain Quran, maka jika diikuti benar maka insyaAlloh akan berhasil mendapat hidayah hingga digolongkan oleh Alloh menjadi umat terbaik.

Lalu apakah setiap orang yang mohon hidayah lantas serta merta Alloh SWT memasukkan ke dalam golongan yang selamat ? 
Wallohu a'lam = dan Alloh lebih tahu

Meski Alloh Yang Maha Tahu namun bolehlah kita hamba berusaha belajar untuk mengetehui , apa yang sudah menjadi firmanNYA yang sudah terbentang dalam kitabillah. 

Apa rahasianya Alloh SWT memberikan hidayah kepada hamba yang dikehendaki saja ?

Lanjut ke posting LPM No.26.C
QS.al-Haji[22];54
Wa innalloha lahadil-ladziina amanu ila shiroti mustaqiima

Dan sesungguhnya Alloh niscaya memberi petunjuk kepada orang yang beriman.
Dan sesungguhnya Alloh niscaya memberi petunjuk kepada orang yang beriman.

Seseorang akan berada pada posisi atau akan dapat berhasil pada bidang tertentu yang dia anggap penting. Keberhasilan dalam bidang tertentu dapat diraih dengan ketekunan yang merupakan wujud dorongan jiwa yang kuat dan adanya kepercayaan.
Karena rasa percaya yang kuat bahwa dengan dapat meraih apa yang perjuangkan akan memperoleh kepuasan, ketentraman, kebahagiaan, maka dalam usahanya seseorang akan bersungguh-sungguh mengerahkan kemampuan pikiran, tenaga juga biaya.

Ketika seseorang memohon agar diberi hidayah, kemudian ditunjukkan agar mengikuti Quran, sekarang kembali tergantung kepadanya, apakah dia percaya sungguh dengan pengertian yang terkandung di dalamnya?
Apakah ada ketertarikan minat untuk lebih dalam tentang Quran, sanggup dan ridho mempelajari dengan cara-cara yang juga sudah maktub/tertulis di dalamnya?
Sebagaimana diajarkan oleh Rosulullohi SAW dalam hal mengkaji atau mempelajari ilmu agama juga harusnya mengikuti kaidah-kaidah yang telah dicontohkan bersama para sohabat.
Mencari ilmu juga harus pakai ilmu <golek banyu pikulan warih> pepatah dlm Bhs.Jawa. Mencari air yang banyak dengan wadah besar juga perlu bekal air minum yang sedikit buat minum di jalan [karena mencari airnya jauh].

Betapa banyak orang berniyat belajar ilmu agama,namun juga banyak ragam cara dan model yang mereka lakukan. Jika cara belajarnya tidak mengikuti sebagaimana yang dicontohkan nabi, maka akan berbeda juga hasilnya.

Jika kondisi ini belum kondisi itu belum "terinstall" dalam diri seseorang, maka rasanya sulit bagi Alloh SWT untuk memberikan hidayah shirotol mustaqiim kepadanya.
Rasa percaya sebagai bagian pengertian "orang-orang yang beriman" yang akan diberi hidayah oleh Alloh SWT, hendaknya betul-betul percaya secara totalitas, tidak setengah2.

Alloh hanya memberi hidayah hanya kepada orang yang percaya, jika tidak percaya sepenuhnya maka Alloh SWT tidak akan memberinya.

Adil bukan?

Jadi lafadz di atas " yachtashu bi rohmatihi man yasya...." Alloh mengkhususkan dengan rohmat hidayahnya kepada orang yg dikehendaki, jelas bukan berarti Alloh SWT pilih kasih. Seorang tidak ditunjukkan karena dasarnya dia sendiri tidak "beriman" terhadap ketentuan2 yang sudah ditetapkan dlm kitabillah. Mereka hanya mengamalkan aturan2 yang sekiranya mudah dan menyenangkan, namun ketika menghadapi aturan yang memerlukan perjuangan atau keberanian, mereka menghindari.

Untuk mendapatkan hidayah Alloh SWT sehingga sampai tempat shirotol mustaqiim perlu banyak perjuangan dan doa. Mulai dari hal-hal yang kecil seprti cara belajar mengaji, agar betul mengindahkan rambu-rambu yang telah digariskan dalam Kitabillah dan dicontohkan oleh Rosulullohi SAW dalam berbagai hadits-hadits shohih.
Disertai doa mohon juga diberi ksabaran dan ketabahan, karena jalan menuju golongan selamat sebenarnya tidak mudah.

" Surga dipagari dengan kebencian dan neraka dipagari dengan hawa nafsu".

Semoga kita ditetapkan dalam hidayah hingga digolongkan umat yang diselamatkan, aamin


Rabu, 01 Juni 2016

Pembahasan LPM Kajian no.26-B : Jawaban Ihdinas-Shirotol Mustaqim



Klik gambar di atas untuk memperbesar

Wa anna hadza shiroty mustaqima fatabi'uhu wa laa tattabi'u subula fa tafar-roqo bikum 'an sabilihi dzalikum washokum bihi la'al-lakum tattaqun.

Dan sesungguhnya ini (qur'an) adalah jalanKU yang lurus, maka mengikutilah kalian, dan janganlah kau mengikuti beberapa jalan (selain Quran) maka berpecahbelah kalian dari jalan Alloh, demikian (Alloh) wasiat kepada kalian agar kalian bertaqwa. 

Menengok postingan sebelumnya (ke-26) tentang permohonan kepada Alloh SWT yang dipanjatkan oleh setiap umat yang menjalankan sholat, maka inilah rahasia jawaban dari Alloh SWT.
Tidak lain umat manusia agar mempelajari Kitab Quran lebih dalam lagi.

Untuk mendapatkan petunjuk menuju jalan kebenaran sehingga berada pada jalan yang sama dilalui para pendahulu yang telah Alloh berikan ni'mat keimanan dan hidayah maka dalam mencari petunjuk/hidayah umat Islam agar kembali kepada Kitabillah dan dilarang mengikuti pedoman, petunjuk, ucapan selain yang terdapat dalam al-Quran.

Mengapa, jika dalam ta'al-lam/belajar selain Quran masih dicampir dengan pengertian yang didapat dari luar quran maka akan tersesat dari jalannya Alloh SWT.

Langkah kongkritnya segeralah miliki kitab, kemudian datang atau menghubungi tempat2 kajian yang menyelenggarakan kajian Quran mulai dari bacaan, makna dan keterangan.

Seseroang dapat paham apakah itu perintah, larangan maupun cerita2 ketauladanan karena mereka mengerti maksudnya. Kajian dengan sebatas membaca meskipun khatam berulang kali namun boleh jadi apa yang diamalkan justru berlawanan dari kandungan ayat yang dibaca.

Dengan makin tersedianya Kitab Quran dari berbagai penerbitan menjadikan kita para pengguna dimanjakan dalam keleluasaan memilih jenis, warna, sampul dll, namun sebagus apapun mushkhaf al-Quran kalau tidak dikaji keterangannya, tidak akan banyak memberi arti dalam kehidupan.

Ikuti terus kajian arti kata demi kata "artamita" semoga dengan berjalannya waktu , Alloh SWT mempertemukan kita dengan hidayah menuju keselamatan dunia-akhirat, 
aamin.

Tulisan yang relevan:

Menerima Anugerah Besar Dari Alloh SWT
  
 http://artamita.blogspot.co.id/2016/04/pembahasan-lpm-kajian-no21-menerima.html