Minggu, 21 Februari 2016

Pembahasan LPM Kajian No.17 : Memiliki Alat Peneropong Canggih Dari Alloh SWT













Klik immage di atas untuk memperjelas 

Qod ja-akum bashoiru min robbikum fa man abshoro fa li nafsihi wa man 'amiya fa 'alaiha wa ma ana 'alaikum bi hafiidzin

Sungguh (telah) datang kepada kamu sekalian alat melihat dari tuhan kamu sekalian maka barang siapa yang melihat maka manfaat bagi dirinya dan barang siapa yang buta maka berat atasnya dan tidaklah saya (nabi) atas kamu sekalian dengan menjaga. 

Saudara, bashoiru = alat teropong untung melihat maksudnya tidak lain adalah ayat-ayat Qur an sendiri.

Dengan mencintai - mempelajari - hingga paham arti kandungannya maka berarti menggunakan ayat sebagai teropong untuk melihat-mengetahui hukum2 yang ada sebagaimana yang sudah Alloh SWT tentukan.

Kecanggihan teropong / ayat2 ciptaan Alloh SWT ini dapat melihat segala macam yang di luar kita seperti mencermati kisah yang terjadi di masa lalu, apa yang sedang berlangsung sekarang bahkan cerita yang akan Alloh peragaan kelak di hari akhir. Ayat2 Qu'ran yang didukung penjabarannya oleh sabda nabi dalam hadits bahkan dapat sekaligus untuk bercermin terhadap manusia penggunanya. Instropeksi diri apakah pengertian, keyakinan hingga amalannya sudah sesuai dengan ketentuan sebagaimana yg dikehenaki Alloh dan Rosulullohi SAW.......Allohu akbar.

Barang siapa yang mau menggunakan teropong di atas maka manfaatnya akan dirasakan sendiri, sedangkan bagi yang "buta" maksudnya membutakan diri terhadap ayat2 Alloh, menghabiskan umur yang diberikan tetapi hidupnya menutup mata dari peringatan Alloh, maka makhluk yang model begini diancam dengan siksaan sebagaimana tertuang dalam surah al-A'rof (7);179 " Dan niscaya sungguh Kami jadikan /menyediakan untuk jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, bage mereka hati (tapi) tidak memahami terhadapa quran, dan bagi mereka mata tetapi tidak -yubshiruu-melihat kepada ayat, dan bagi mereka telinga tetapi tidak mendengarkan kepada ayat, mereka itulah sebagaimana binatang bahkan lebih sesat/hina "

Hidup di dunia dengan tidak mengindahkan peringatan sang pencipta merupakan perilaku kebodohan, tentunya kita hamba yang dianugerahi akal pikiran yang normal tidak akan membiarkan diri dalam kebodohan yang akan merugikan diri sendiri. Ini perlu penyadaran yang mendasar, lihat postingan relevan yang lalu di sini  

salah satu usaha menghilangkan kebodohan adalah dengan belajar... (maaf bahasanya terkadang dianggap merendahkan...kalaw bhs halusnya "ketidaktahuan ' ).

Lebih detail lagi bahwa Quran sebagai alat meneropong, kiyas/analoginya seseorang yang mengikuti lomba mencari jejak. Dia berada di tempat yang tinggi, kemudian ia diminta untuk mencari rumah kecil yang sudah digambar dalam peta. Hal yang harus dia ingat agar memenangkan lomba adalah, menentukan sasaran yang tepat sebelum melangkahkan kaki, karena batasan waktu juga diberlakukan. Maka jika dia ingin berhasil harus lebih dulu menentukan sasaran dengan melalui route yang juga jelas. Teropong menjadi vital penggunaannya. Dalam batasan waktu yang ditentukan belum menemenukan rumah sebagai sasaran maka dinilai gagal, kalah dalam lomba.

Saudara, aplikasi/penerapan kias di atas bahwa manusia hidup di dunia sebenarnya dibatasi umur untuk menentukan dan menapaki route demi meraih sasaran "jalan kembali" di kehidupan nikmat di akhirat. Kitabillah al-Quran adalah jawabannya.
Jika sampai habis umur masih belum menemukan jalan kembali maka tentu saja akan tersesat..na'udzubillah.

Kemudian pada bagian akhir ayat disebutkan "dan tidaklah aku (nabi) sebagai org yang menjaga atas kalian".
Dari hasil leterangan yg didapat pengertian ayat tersebut " mansukhun" pengertiannya. Kalau aslinya pengertian bahwa rosul sebagai pembawa risalah menjaga keselamatan hambanya karena sudah dijaga.

Adapun pengertian yang berlaku bahwa keselamatan hamba adalah tergantung bagaimana upaya hamba hamba itu sendiri untuk dapat masuk surga selamat dari neraka.
Rosululloh memberikan pertolongan /syafa'at kepada hamba yang sudah benar2 mengikuti syariatnya.

semoga kita diberikan kekuatan kesobaran dalam menapaki route kehidupan untuk mencapai ni'mat di kehidupan akhirat. aamin 

Rabu, 10 Februari 2016

Pembahasan LPM Kajian No.16 : Ruhnya Islam Dan Tiyang Keimanan








Klik immage di atas untuk memperjelas

Al'ilmu khayatul iiman wa 'imadul iiman

Ilmu (itu) hidupnya Islam dan tiyangnya keimanan.

Hidupnya Islam dengan ilmu, memang demikian adanya. Islam adalah dinulloh -agamanya Alloh SWT yang mana konsep pemikiran , petunjuk, suri tauladan, tamtsil/gambaran2, perintah, larangan, semuanya sudah tertuang secara gamblang di dalam Kitab Suci al-Quran 30 juz. Konsep pedoman agama Islam tersebut sudah tersusun secara sempurna di louh al-mahfudz "papan yang terjaga" . Sedangkan yang kita jumpai di dunia ini adalah mushaf lembaran yang dicetak oleh manusia untuk memudahkan kita mempelajarinya. Demikian juga kitab hadits yang mana isinya adalah uraian teladan Rosulullohi SAW.

Selagi masih berwujud lembaran kertas maka kitab al-Quran dan kitab hadits  tentu saja semacam benda mati. Terpajang rapih pada rak di toko kita, toko buku berdampingan dengan buku-buku lain yang juga dijual di sana.

Dengan memahami isi dan kandungan al-Quran dan hadits dengan mengikuti kaidah cara mempraktekkannya maka dengan sendirinya akan terbentuk suatu amalan-amalan. Petunjuk yang dapat memotivasi dan menggerakkan anggota badan manusia.

Maka dengan kita mengkaji quran dan Hadits merupakan cara awal untuk menghidupkan Islam.

Komunitas berkumpulnya umat seperti di masjid, surau, majelis ta'lim, pondok pesantren dapat "hidup" ma'mur-ramai karena ilmu.

Contoh riel: suatu masjid yang senantiasa dipakai kajian ilmu secara rutin maka masjidnya menjadi hidup, masjid yang difungsikan sebatas solat berjamaah seakan menjadi mati.

Ilmu juga sebagai tiyangnya keimanan. Iman itu pekerjaan di dalam hati yang didasari keyakinan. Untuk meyakini sesuatu tentu saja butuh materi informasi tentu memerlukan ilmu pengetahuan. Keyakinan agama seseorang akan menjadi kokoh jika dia dapat mengenyam materi yang bersumber dari Quran dan Hadits menjadi ilmu pengetahuan yang masuk ke dalam hati sanubari.

Saudara-saudaraku , mari hidupkan Islam di dalam hati kita dengan harapan kemudian dapat tergerak menular kepada anggota keluarga kita, famili, tetangga, masyarakat umum dll.

Senin, 01 Februari 2016

Pembahasan LPM Kajian No.15 : Ilmu Bekal Mencapai Sukses Dunia - Akhirat











Klik immage di atas untuk memperjelas

NB: untuk mencari arti kata , amati ketikan untuk warna hijau adalah lafadz Arabiyahnya sedangkan warna biru adalah terjemahan dalam Bhs.Indonesia. Semoga Saudara yang ingin mengerti dan dapat praktek mengartikan kata demi kata tidak mengalami kesulitan.

wa qola Ali karromallohu waj hahu man aroda dun-ya fa'alaihi bil 'ilmi wa man aroda al-akhirota fa 'alaihi bil 'ilmi wa man aroda huma fa 'alaihi bil 'ilmi
Dan berkata (siapa) Ali semoga Alloh memuliakan wajahnya , barang siapa menghendaki dunia maka atasnya ilmu, dan barang siapa menghendaki akhirat maka atasnya ilmu dan barang siapa menghendaki keduanya maka dengan ilmu.

Hadits ini demikian jelas bahwa apapun yang akan diraih memerlukan pengetahuan yang memadai. Ilmu sebagai persyaratan tercapainya sesuatu terkadang mengikuti pola yang sudah teratur, formal seperti sekolah, kuliah, kursus ketrampilan dll. Namun ada yang sifatnya langsung praktek di lapangan misalnya ingin menjadi tukang kayu, maka boleh jadi langsung diajari dengan cara menjadi kenek/pembantu.

Untuk memperolah keduniaan sekecil apapun tingkatannya memerlukan ilmu pengetahuan.

Terlebih ingin mencari kesuksesan akhirat.

Tidak sedikit seruan dari Alloh SWT melalui firman yang terangkum dalam Kitabillah /al Quran ataupun dari Rosulullohi SAW dengan sabdanya yang sekarang kita jumpai dalam kitab hadits.

Sampai ditegaskan oleh Alloh SWT jangan kau amalkan apapun urusan agama /ibadah selagu kalian belum/tidak tahu ilmunya. 

Saudara2 ku , bagaimana mengikuti kajian hingga posting ke-15 ini saya harap tidak ada kesulitan yang berarti.