Kamis, 21 Januari 2016

Pembahasan LPM Kajian No.14 : Alat Kokoh Berpegang Teguh Agar Tidak Tersesat












Klik immage di atas untuk memperjelas 

wa qola shollallohu 'alaihi wa salam taroktu fii kum amroini lan tadhillu ma tamassaktum bihima kitabillahi wa sunnati nabiyihi

Dan bersabda sholallohu 'alaihi wa salam telah aku di dalam kamu sekalian dua perkara tidak akan tersesat kamu sekalian selama berpegang teguh dengan keduanya (yaitu) AL-Quran dan sunah/ajaran nabinya Alloh.

NB: Agar memudahkan mengetahui arti kata demi kata dari setiap postingan dalil Quran atau Hadits, silahkan mengamati dengan perbedaan warna. Untuk lafadz Arabic berwarna hijau sedangkan untuk terjemahan dalam bhs.Indonesia berwarna biru.

Saudara-saudaraku di mana saja, bagaimanapun keadaanya, bersyukur kepada Alloh SWT masih berkenan memberikan kepada kita mengoptimalkan sisa-sisa umur untuk diisi amal sholih memperbanyak bekal saat menghadapNYA kelak. 

Empat belas posting telah kita lalui dari rencana total 39 insyaAlloh hingga khatam. Apa yang dapat saya dan Saudara ambil dari hikmah belajar kajian di sini berharap Alloh SWT memberikan petunjuk ke jalan kebenaran dan keselamatan.  

Ok, kita lanjut 

Hadits yang kita posting ini barangkali sudah tidak asing di telinga Saudara2, karena memang cukup populer.
Sabda Rusulullohi SAW ini merupakan wasiat kepada kamum muslimin yang ditinggalkannya bahwa dengan berpegangteguh kepada apa yang rosul ajarkan, maka tidak akan tersesat.

Yang perlu digarisbawahi dari sabda rosul di sini adalah " dengan berpegang teguh maka tidak akan tersesat"

Ada dua hal yang menjadi prinsip di sini, 
bahwa jika tidak berpegang kepada kitabillah dan sunah/tuntunan rosul akan tersesat, karena demikian banyaknya ajakan, pendapat, pandangan  dari manusia yang tidak bersumber kepada aslinya petunjuk rosul, begitu menggoda dan meninabobokkan mayoritas umat. Kebanyakan dalam hal tuntunan ibadah lebih tertarik kepada perkara yang kelihatan mudah dilakukan terlebih sudah lama membudaya di kehidupan masyarakat meskipun tidak jelas sumber hukumnya baik dari Kitabillah maupun hadits rosul.

Yang kedua Rosululloh cukup melafadzkan "tidak akan tersesat"  bagi sesiapa yamg benar berpegangteguh. Sedangkan pada hari akhir kelak yang ada hanya dua pilihan, keselamatan (menuju surga) atau tersesat (tidak berhasil sampai surga alias masuk neraka). Begitu dalam pengertian apa yang Rosululloh sabdakan sebagai wasiat bagi kita umat sepeninggal beliau.

Dalam hal seseorang menjalankan ibadah, sebagaimana telah difirmankan Alloh SWT dalam Quran Surah Adzariat (51) ayat;56 " Tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah (menyembah) kepadaKU" , hendaknya betul diniyati karena Alloh semata. Godaan dan rayuan yang menghadang hendaknya disikapi sebagai ujian dariNYA. Jika tidak diniyati sungguh2 maka dapat mudah terpengaruh , tertipudaya oleh keadaan , situasi di sekitarnya

Coba kita amati ketentuan dari Alloh SWT yang dipatenkan pada surah Al-An'am (6); ayat 116 " Dan jika engkau (Muhammad SAW) taat kepada kebanyakan orang di bumi niscaya mereka menyesatkanmu jauh dari jalan Alloh, tidak mengikuti mereka melainkan kepada persangkaan, dan tidak ada mereka selain mengada-ada / berbuat dusta"
 
Rosulullohi SAW saja yang sudah mendapat wahyu langsung dari Alloh SWT masih diperingatkan dengan tegas. Terlebih kita umatnya jika tidak betul2 mengindahkan maka besar kemungkinan akan tersesat jalan.
Besarnya godaan yang dirasakan umat yang hendak benar2 konsekuen dengan ajaran kemurnian agama Islam di tengah umat kebanyakan diibaratkan hendak menyeberang sungai yang cukup besar arusnya. Jika tidak punya pegangan yang kuat dan ingat dengan tujuan awal ingin melewati sungai sampai berhasil mendarat di seberang sana, niscaya akan terbawa arus.
  
Berpegangteguh kepada kitabillah dan sunah nabi dalam prakteknya yaitu dengan mengkaji, mengetahui bacaan lafadz Arabiahnya lalu mengerti arti, maksud dan tujuannya. Dari hasil kajian ini jika ada cerita dipercaya, jika ada perintah dilaksanakan, jika ada larangan dijauhi. 
Dalam mengamalkan jika ada ujian/cobaan ya tetap disikapi dengan sobar dan penuh "tawakal" berserah diri kepadaNYA.

Ujian yang Alloh berikan kepada hamba yang sungguh ingin mencari ridho dan rohmat, harus tetap dihadapi dengan keyakinan akan mendapat pertolongan dan kemudahan. Setiap kesulitan yang dihadapi harus terus ditembus, karen dibalik kesulitan ada kemudahan " inna ma'al 'usyri yusron " sungguh beserta kesulitan (ada) kemudahan.
 
Kitabillah dan sunah/hadits Rosul merupaka alat yang kokoh agar kita tidak tersesat, agar kita tidak hanyut terbawa arus.

Dengan senantiasa kita memohon petunjuk disertai dengan usaha menelusuri jejak sabdanya semoga kita semakin didekatkan menuju hidayah dan rohmanNYA, aamin. 
 
 

Senin, 11 Januari 2016

Pembahasan LPM Kajian No.13 : Menempati Derajat Tinggi di Sisi Alloh SWT

Klik immage di atas utk memperjelas

"yarfa'illahu ladziina amanu walladziina utul 'ilma darojaatin wallohu bima ta'maluuna chobiir"

Mengangkat (siapa) Alloh (kpd) orang2 yang beriman dan orang2 yang diberi ilmu, derajatnya. Dan Alloh dengan apa-apa yang kamu amalkan maha waspada.  

Orang yang beriman - kalau dulu pak guru agama di SD memberikan singkatan LAH , KAT, TAB, SUL, KIR, DAR - maksudnya percaya kepada Alloh, Malaikat, Kita, Rosul, hari Akhir dan Qodar.
Percaya dalam artian mengimani bukan sekedar habis di bibir saja namun masuk ke dalam hati hingga tercermin dalam ucap, sikap dan perilaku.


عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ليس الإيمان بالتحلي ولا بالتمني

 ولكن ما وقر في القلب وصدقته الأعمال

Dari Abu Huroiro berkata , bersabda Rosulullohi SAW bersabda : Tidaklah iman itu dngena hayalan dan angan-angan, namun apa yang menetap didalam hati dan amalannya membenarkannya.

Orang yang beriman tersebut boleh jadi di hadapan manusia biasa-biasa saja, tetapi Alloh Ta'ala mengangkat derajatnya. Hal ini dapat saja terjadi, karena perbedaan cara pandang. Manusia menilai derajat seseorang kemungkinan dari sisi strata sosial, kepemilikan harta benda atau latar belakang pendidikan.

Tetapi tidak bagi Alloh SWT, "amalan dan hati " adalah yang menjadi ukuran, sebagaimana maktub dalam hadits 

 إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم....

"Sesungguhnya Alloh tidak memandang kepada rupa/wajah kamu sekalian dan harta kamu semua tetapi (Alloh SWT) menilai hati kamu dan amalan kamu semua" Hadits Riwayat Imam Muslim

Hukum keadilan dari Yang Maha Adil , coba kalau Alloh SWT menilai dari wajah, mungkin artis2 sinetron atau peserta kontes miss world yang mendapat score tinggi, sedangkan yang wajah pas-pasan ini berada di barisan ujung ekor belakang.... ;)

Kita bernafas lega....bersyukurlah..

Wajah dan harta adalah juga pemberian Alloh SWT, untuk urusan wajah nyaris manusia hanya pasrah/sak dremo diberi yang seperti apa juga gak bakal bisa protes.
Namun soal hati dan amalan, insyaAlloh semua manusia diberi ruang dan wak tu yang sama sebagai saran pendekatan dan mendapat tempat derajat di sisiNYA baik di dunia maupun sampai di akhirat.

Orang iman secara umumnya diangkat derajatnya, terlebih yang mempunyai ilmu kalamullloh (kefahaman ilmu Quran dan Sunah) maka Alloh SWT mengangkat lebih tinggi lagi.

" .....wa inna fadlal 'alimi 'ala 'abidi kafadhlil qomari 'ala sairil kawakibi"

dan sesungguhnya kefadholan ulama atas hamba (yg bukan ulama) adalah sebagaimana gambarannya bulan mengalahkan bintang-bintang kesemuanya" Hadis Riwayat Ibnu Majah.

Pada ayat di atas disebut " dan orang-orang yang diberi ilmu"....ini merupakan kata penghalus yang menampakkan hasil dari suatu usaha.

Layaknya orang mengatakan " rejeki itu pemberian Tuhan "...memang tidak salah kalimat ini, karene memberitakan suatu hasil dari proses  sebelumnya.
Tentu kita sadar bahwa " orang diberi rejeki oleh Alloh SWT " tentu ada proses sebelumnya yaitu orang tersebut mau berusaha bekerja keras. Adakah Alloh SWT memberi rejeki kepada manusia sekonyong uang satu tas jatuh dari langit menimpa genteng rumah org yang meminta rejeki ?

Demikian pula orang diangkat derajatnya karena ilmu agama yang Alloh berikan, tentu seseorang telah berusaha mencari ilmu dengan cara yang telah ditentukan. Sepertinya tidak ada ceritanya, orang bangun tidur langsung pandai bisa ngajar mengaji sebagaimana yang Rosulullohi SAW sampaikan kepada para sohabatnya.

Lewat blog ini, meski ini bukan guru mengaji karena ini hanya media saja, namun paling tidak kita sudah sangat bersyukur dipertemukan dalam ide yang sama.
Dalam waktu sisa-sisa usia kita, semoga diberikan kesempatan dapat mengikuti kaidah mencari ilmu dengan cara istima' , menjumpai langsung mendengar kepada penyampai ilmu pembawa dan pewaris ilmu Rosulullohi SAW.



 
 

Jumat, 01 Januari 2016

Pembahasan LPM Kajian No.12 : Upaya Menjadi Hamba Yang Khusu'















Klik immage di atas untuk memperbesar 

Innama yachsyalloha min 'ibadihi al'ulama innalloha 'aziizun ghofur

Sesungguhnya (yang) khusyuk (kpd) Alloh dari hambanya Alloh (adalah) 'ulama', sesungguhnya Alloh maha mulia lagi maha pengampun.

Ayat di atas menjelaskan bahwa untuk menjadi hamba yang khusyuk /takut kepada Alloh terlebih duhulu menjadi 'ulama.

Pertanyaannya , dapatkah seseorang mencapai derajat 'ulama ?  dan bagaimana caranya ?

Saudara, arti kata 'ulama / اَلْعُلَمَاءُ  (isim jama') , عَالِمٌ - يُعَلِمُ - عَلَمَ -('alama, yu'alimu, 'aliimun = mengetahui, memberitahu, orang yang mengetahui ).


Isim mufrod nya  عَالِمٌ aliimun = orang yang mengetahui (satu orang).

Orang yang khusyuk/takut adalah orang yang mengetahui.
Jika tidak mengetahui maka bisa saja orang tidak takut.

Contoh riel : saya dan umumnya orang takut atau merasa jijik dengan pacet /sejenis lintah tapi lebih kecil. Kejadian kira2 tahun 1988 saat teman2 kuliah main ke rumah , kita semua 4 (empat) orang mancing di kolam sebelah pekarangan rumah.
Singkat cerita, setelah mancing dapat secukupnya ....makan (tentunya dengan ikan perolehan mancing)....kembali ke kampus.....masih sempat nongkrong di kampus.
nah ....adegan dimulai.....teman saya bilang..." Har...itu di lehermu apa?.....setelah teman saya mengamati        ternyata PACET ! ......masyaAlloh perasaan saya waktu itu ...terkejut, takut, jijik......hi ih .....kesal ...tapi masih terkendali ..tidak panik. Tentu saja saya minta tolong teman untuk mencabutnya....kill it ...membunuhnya.

Rupanya makhluk itu mulai menempel ke leher saya sejak masih di area kolam ikan yang di sekilingnya ditumbuhi tanaman perdu, dan lembab.
Pacet sudah nebeng di leherku selama kurang lebih 2 jam termasuk perjalanan Magelang-Yogyakarta. 

Baru sadar, baru merasa takut karena tahu bahwa ada pacet di leher ini. Sebelum mengetahui dan menyadari , tak ada sedikitpun rasa takut.

Saudara, kehidupan yang kita alami ini , nanti , besuk, kelak, hingga masa akhir nanti apa yang akan terjadi menimpa kita, tiada seorangpun tahu...

Dunia dan seisinya diciptakan oleh Alloh Yang Maha Berkehendak bukan tanpa rencana, namun semua sudah terencana rapih dan dibuatkan naskah yang sekarang dapat kita mengintipnya di dalam Kitab Suci al-Quran.

Kehidupan yang seolah tenang seperti ini, tersimpan berbagai misteri , banyak hal kita tidak ketahui namun haq adanya.
Salah satunya adalah " al-maut" yang pasti menjeput kita, entah kapan. Ketika seseorang meninggal-kan dunia, maka peristiwa besar akan dialami di dalam alam kubur. Waktu yang terus berjalan tidak mungkin dapat dihentikan terlebih diputar balik. Bagaimana malaikat malaikat meng-eksekusi ciptaan Alloh yang sudah terlanjur memasuki alam kubur......betapa ngerinya keadaan waktu itu ...banyak dipaparkan dalam hadits2 sohih.

Seorang dapat takut ...khusyuk kepada Alloh jika mengetahui akan semua atau banyak hal2 tentang ilmu akhirat. Namun kondisi takut ini jangan menunggu orang memberitahu kita di saat sudah genting atau terkena musibah...seperti saya yang sudah terlanjur ditempeli pacet.....namun harus sengaja dikondisikan.

Sengaja kita makin mendalami /mengkaji ilmu agama, ikuti kajian Quran dan Hadits , tidak cukup hanya dengan mampu membaca lafadh arabiyah seperti tilawah dan Qiroah murotal, namun lebih dari itu mengerti dan paham maksdunya.

Seorang yang mengetahui ilmu agama itulah namanya " aaliimun" satu orang, kalau jumlah orangnya banyak " 'ulama".

Dengan mengetahu banyak ilmu agama serta menghayatinya dengan sendirinya instyaAlloh menjadi orang yang takut/khusu' kepada Alloh Ta'ala.

Mari lanjutkan terus kajian ilmu agama ini, semoga kita tergolong di dalamnya.
Allohumma aamin.