Minggu, 29 November 2015

Pembahasan LPM Kajian No.8 : Menghindarkan penyesalan terbesar hari kiyamat

 Klik immage di atas untuk memperjelas 

qola sholallohu 'alaihi wa salam asyaddunasi khasrotan yaumal qiyamah rojulun amkanahu tolabul 'ilma fii dun-ya fa lam yatlub hu wa rojulun 'allama 'ilman fantafa'a bihi man sami'ahu min hu duna hu

Bersabda Rosulullohi SAW lebih beratnya manusia penyesalannya di hari kiyamat (adalah) seseorang yang (sebenarnya) memungkinkan baginya untuk mencari ilmu di dunia maka dia tidak mencarinya, dan seorang yang mengajarkan ilmu maka orang (lain) mengambil manfaat ilmu dari orang yang mengajarkannya selain dia sendiri.

Apa yang terjadi menimpa kepada seseorang pada hari akhirat (kiyamat) adalah merupakan akbitat dari apa yang telah dilakukannya di dunia. Manusia termasuk jin ditaqdirkan untuk beribadah kepada sang pencipta sebagaimana yang maktub (tertulis) dalam surah ad-Dzariyat (51);56.
Kesempatan yang diberikan kepada manusia selama umur hidupnya sebenarnya sangatlah kecil atau sebentar saja jika dibanding lamanya masa di akhirat. Karena akhirat adalah akhir segala-galanya, dan tiada lagi tahapan waktu sesudah itu. 

Pada hadits di atas diterangkan oleh Rosulullohi SAW bahwa orang yang sebenarnya sempat untuk belajar mengkaji secara serius ilmu agama Islam namun tidak melakukkannya maka dia menanggung persaan sesal yang sangat besar. Karena akibatnya dia tidak paham apa yang harus diamalkan untuk mendapat ridho Alloh Ta'ala. Bukan berarti orang yang tidak belajar mengaji serius karena memang tidak sempat, itu tidak begitu menyesal. Semua sama-sama menyesal, mereka telah lalai karena urusan duniawi yang telah merenggut perhatiannya sehingga urusan akhirat dianggap perkara yang remeh.

Kemudian point kedua, orang yang diberi kemampuan menyampaikan ilmu agama namun dia sendiri justru tidak mengamalkannya juga menanggung penyesalan yang sangat berat, dia melihat para murid-murid yang pernah diajari ilmu agama merasakan nikmat di akhirat. Hal ini sesuai dengan teguran Alloh SWT pada surah Shof (61);2-3 " Hai org2 yang berimankarena apa engkuaberkata pada apa yang tidak engkau amalkan, besar dosanya di sisi Alloh jika engkau berkata tentang apa yang tiada engkau mengamalkan"    

Saudara, untuk urusan akhirat dalam mencari jalan Alloh (sabilillah)  hendaknya menjadi prioritas utama, di antara jam-jam kesibukan kita. Biasanya orang akan berada pada aktivitas yang dianggapnya penting.

Sabtu, 21 November 2015

Pembahasan LPM Kajian No.7 : Menghindarkan Siksaan Neraka Sa'ir












 

Klik immage di atas untuk memperjelas


NB:Mohon diperhatikan bahwa tulisan lafadz Arabic pada posting ini berwarna hijau, sedang terjemahnya berwarna biru. Mengenai posisinya disesuaikan dengan tempatnya. Yang terpenting Saudara tidak mengalami kesulitan dalam memahaminnya. 

wa qolu lau kunna nasma'u au na'qilu ma kunna fii ashabi sa'iir (Quran Surah Al-Mulk [67];10)

Dan berkata (mereka penghuni neraka) andai ada kami (di dunia) mendengar atau kami berakal maka tidak ada kami penghuni neraka sa'ir.

Saudara-saudaraku, dalam ayat tersebut diterangkan bagaimana seorang yang masuk neraka sa'ir menyesalkan kondisi waktu di dunia yang pernah dilaluinya semasa hidup, tidak mendengarkan dan tidak berakal (menggunakan akalnya) terhadap peringatan tuhan.

Tidak mendengarkan nasihat atau ajakan dari sesama manusia untuk berbuat kebajikan memperhatikan seruan Alloh SWT dalam kitab al-Quran, serta tidak menggunakan akal sehat dan jernih untuk mengikuti jalan yang benar yang sudah didengung2kan dalam kitabillah wa sunati nabiyihi (petunjuk rosul).
   
Sa'iir merupakan nama neraka semisal jahannam, wail, saqqor dll sudah menanti di akhirat bagi manusia yang tidak mau menggunakan anugerah yang telah diterima dari Sang Pencipta.

Inti dari ayat ini diperkuat dengan ayat lainnya yaitu Surah al-A'rof (7);179 " Dan niscaya Aku jadikan untuk jahannam , kebanyakannya dari jin dan manusia, bagi mereka mempunyai hati (namun) tidak memahami dengannya, bagi meraka mata (tetapi) tidak melihat dengannya , bagi mereka telinga (tapi) tidak mendengarkan dengannya, mereka itulah sebagaimana binatang bahkan lebih hina, mereka itulah orang2 yang lalai" 

Kalau manusia yg ditugaskan untuk beribadah kepadaNYA tapi tidak sadar, tidak paham akan posisinya sebagai makhluk yang mengemban amanah dari Alloh SWT sampai habis kesempatan hidupnya, maka mereka itu sangat rugi. Kehidupan duniawi yang hiruk pikuk, gegap gempita, glamor mungkin telah memperdayanya sehingga matanya silau sehingga lalai dari ingat akan Aloh SWT.

Maka syukurlah jika kita mendapat kesempatan untuk lebih banyak bertafakur "pikir-pikir" terhadap hikmah yang terkandung di dalam ayat dengan demikian ada harapan Alloh Ta'ala berkenan memberikan bimbingan ke jalan yang benar " shirotol mustaqiim" 

Sekarang kita masih hidup di dunia namun telah mendapat " bocoran skenario" yang akan Alloh SWT peragakan di hari akhirat. Ayat yang kita kaji di atas benar2 akan terjadi, kita yang mau belajar sehingga paham arti kandungan al-Quran sungguh merupakan anugerah yang luar biasa. 
 
 

Rabu, 11 November 2015

Pembahasan LPM Kajian No.6 : Menetapi Prosedur Ilmu Sebelum Amalan






Klik immage di atas untuk memperjelas 

wa laa taq-fu maa laisa la ka bi hi 'ilmun inna asm'a wa al-basoro wa al-fuada kul-lu ulaaika kana 'anhu mas-ula

Dan jangan engkau kerjakan apa-apa yang tiada bagi engkau dengannya ilmu, (karena) sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati, semua mereka ada dari semua itu akan ditanyakan.

Yang dimaksud tidak boleh mengerjakan sebelum tahu ilmunya, adalah dalam konteks peribadatan


Dengan kata lain jangan mengamalkan dulu urusan ibadah sebelum mengkaji ilmunya" istilahnya " العلم قبل العمل / al'ilmu qobla al-'ul ilmu lebih dulu sebelum beramal. Jangan sampai sudah beramal padahal belum berilmu.
Ibadah adalah perintah Alloh SWT kepada hambanya yang terdiri dari jin dan manusia, sebagaimana surah Adhariat (51); 56. Tata cara peribadatan juga sudah diatur secara lengkap di dalam kitab al-Quran dan mengikuti tuntunan Rosululloh SAW di dalam kitab Hadits. Dengan mengkaji dasar2 ilmu beribadah maka amalannya dapat sesuai dengan kehendak Alloh SWT , yang kelak akan memberikan pahala/imbalan di hari kiyamat. Inilah prosedur yang tepat. Karena barang siapa beramal dengan suatu amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan rosul maka, amalan itu kelak akan ditolak oleh Alloh SWT alias tidak diberi pahala. Dalam hadits lain disebutkan = barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atas amalan itu perkaraku, maka amalan itu ditolak. 

Betapa ruginya seorang beribadah kepada Alloh SWT niyatnya mencari bekal untuk menghadapNYA di akhirat kelak, sudah semangat dengan keyakinan, mengeluarkan tenaga , waktu bahkan biaya tidak sedikit namun kenyataannya di akhirat amalannya tidak sah gara-gara dalam ibadahnya tidak sesuai dengan pedoman yang telah digariskan dalam Quran dan Hadits. Cara beribadah mulai dari cara mendapatkan ilmu belum mengikuti prosedur yang benar sebagaimana yang dituntunkan. InsyaAlloh dalam kesempatan lain akan dibahas arti kata dalil terkait, supaya kita semua lebih mantap dan yakin.

Alloh SWT yang maha memberi dan maha kuasa atas segala sesuatu.Syariat (aturan) agama telah Alloh Ta'ala gariskan di dalam kitabillah dan tuntunan pelaksanaanya di dalam hadits2 mulai hal yang paling mendasar hingga semua persoalan. Yang perlu digarisbawahi adalah perlunya umat Islam terus belajar mencari ilmu dengan mohon bimbingan dan petunjuk kepadaNYA, karena Alloh juga yang maha menunjukkan. Ketika seorang hamba sudah berserah diri dan sungguh-sungguh berharap dimudahkan, maka Alloh SWT dengan idzinNYa akan mempertemukan dengan hidayah, aamin.



 Lampiran : Hikmah Nahwu Sharaf Bag.05

III.اِسْمٌismun/isim atau al-isim

 

Isim adalah kalimat atau lafadz yang menunjukkan arti kata benda , termasuk di dalamnya nama tempat, kata sifat, nama orang, binatang atau lainnya dan tidak mengandung keterangan waktu. 

Dalam susunan bhs Arab suatu kata dapat digolongkan isim atau kata benda dengan mendeteksi ciri-cinya sebagaiberikut : 
  • 1.Diakhiri dengan kasroh yaitu tanda baris di bawah huruf, contoh : اللهِ , النّاسِ , الأرْضِ ( Alloh, ardhi=bumi, An-Nasa = manusia).
  • 2.Diakhiri dengan fatkhah tanwin (ً ) : بَيْتً  baitan=rumah  , dhomah tanwin ( ٌ ): رَجُلٌ rojulun =seorang laki-laki  atau kasroh tanwin ( ٍ ): contoh عَالِمٍ 'alimin = org yg mengetahui/pandai.
  • 3.diawali dengan alif lam ( ال ) apakah itu syamsiyyah contoh:  النَّجْمُ  an-najmu = bintang , maupun qomariyah contoh:  البَلَدِ al-baladi=bumi. Maksudnya ال syamsiyah (matahari) jika alim lam (baca- al) dibaca pecah bercampur dengan huruf selanjutnya. Pada contoh di atas al-najmu dibaca an-najmu, (sinar matahari pecah). Sedang pada ال qomariyah jika alif lam (al) dibaca utuh , terpisah dengan huruf yang mengikutinya, pada contoh al-balad tetap di baca jelas "al-balad" , qomariyah=bulan, sinarnya utuh..... ;).
  • 4.Diawali dengan huruf qosam ( وا ; بأ ; تأ )=kata sumpah  وَاللهِ  تاللهِ
  • 5.Diawali dengan huruf jar yang membuat huruf terakhirnya menjadi berbaris kasroh. Jika suatu kata Arab diawali huruf jar yang berjumlah 9 (sembilan) maka pasti dia itu isim=kata benda. Contoh [1] مِنْ min/mina (dari), penerapannya pada   مِنَ الْأَرْضِ  minal ardhi =dari bumi ; [2] إِلَى ila (ke) : contoh إِلَى السُّوْقِ /ilas suqi = ke pasar ; [3] عَنْ 'an (dari) contoh عَنْ عَلِيَِ /'an 'ali =dari 'Ali ; [4] عَلَى  'ala (atas), contoh : عَلَى الْأَرْضِ  'ala al-ardhi=atas bumi ; [5] فِي fi (dalam) contoh فِي الْبَيْتِ fil baiti = di dalam rumah ; [6]  رُبَّ  rub-ba (banyak/sedikit) contoh   رُبَّ رَجُلٍ كَرِيِمٍ rubba rojulin karim  = banyak/sedikit org laki-laki yang mulia ; [7] الْبَاءُ ba' (dengan) contoh بِالْقَلَمِ /bil qolam = dengan pena ; [8] الْكَافُ kaf (seperti) contoh : كَالْقَمَرِ  kal qomar  = seperti bulan ; [9] اللاَمُ lam (kepunyaan) contoh :  لِلهِ  lillahi  (kepunyaan Allloh).
  • 6. Dilihat dari artinya menunjukkan kata benda atau nama orang ,contoh  قَلَمُهُ  qolamuhu = pensilnya; عَائِشَةُ Aisyah /nama orang, dll.
  • 7. Jika dimasuki huruf  مَ مِ مُ  di depannya. Jika kalimah مُسْلِمُ  ;  مِرْوَحٌ  ; مَكْتَبٌ