Sabtu, 31 Oktober 2015

Pembahasan LPM Kajian No.5 : Kepastian Materi Wajib Kajian Islam

Klik immage di atas untuk memperjelas 


Al 'ilmu tsalaatsatun wa ma siwa dzalika fa huwa fadhlun, ayatun muhkamatun au sunnatun qoimatun au faridhotun 'adilatun.

ilmu (itu), (ada) tiga dan apa-apa selain yang demikian (3 itu) maka keutamaan, ayat yang digunakan untuk menghukumi, atau tuntunan yang tegak atau ilmu bagi warisan yang adil.


Saudara-saudaraku di manapun berada, hadits ini memberikan pengertian bahwa ada semacam pembatasan tentang ilmu yang wajib / ada keharusan bagi umat muslim untuk menuntutnya sebagaimana posting yang lalu  Pembahasan LPM Kajian No.4 : Melaksanakan Kewajiban .
Hanya bedanya di sini Saudara dapat praktek memaknai kata demi kata dari matan/isi dalilnya, sedangkan pada posting yg dulu baru sebatas keterangan untuk menunjukkan hubungan (relevansi)nya. 

Yang dimaksudkan "ayat yang digunakan hukum" tidak lain yaitu ayat2 dalam al-Quran 30 juz. Isi kandungannya merupakan ketentuan hukum, sumber segala sumber hukum dalam Islam. Penjelasan bahwa ayat-ayat Quran sebagai dasar hukum diperuntukkan bagi manusia diperkuat pada QS.An-Nur (24);ayat 1 " (ini) Surah, Kami turunkan surat2 tersebut dan Kami wajibkan dan Kami turunkan di dalamnya ayat2 yang terang/jelas agar kamu sekalian mengingatnya"

Kemudian yang ke dua " sunnatun qoimatun" tuntunan yang tegak. Maksudnya tuntunan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Alloh SWT untuk memberi suri tauladan bagi seluruh umat manusia yang menghendaki ridho Alloh SWT juga menghendaki kebahagiaan akhirat. Relevansinya terdapat pada QS.al-Akhzab " Niscaya sungguh ada bagi kamu semua dalam diri Rosulillah contoh suri tauladan yang baik, bagi orang yang ada (dia) menghendaki Alloh (rodho dan rohmatNYA) dan hari akhir dan ingat yang banyak"

Tuntunan yang tegak , adalah tuntunan yang lurus menuju ridho dan rohmat Alloh SWT, tidak bengkok, belak-belok karena kekuatan pengaruh apapun. Pengaruh hawa nafsu manusiawi atau pengaruh duniawi terkadang dapat menyimpangkan niyat orang ibadah sehingga dalam pelaksanaannya menjadi tidak karena Alloh SWT. Niyat yang tulus karena Alloh SWT kurang lebih dapat ditengarai manakala seseorang dalam hal ibadah/urusan akhirat "tidak mundur karena dicela, tidak maju karena dipuji" dalam menetapi keyakinan atas dasar ilmu yang terdapat dalam kitabillah (quran) dan sunnati nabi (hadits shohih). 

Sunah , point kedua dalam dalil ini sekarang sudah terdeskripsi rapih dalam himpunan hadits2 sohih. Kutubusitah merupakan sebutan 6 (enam) hadits tersohih (Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Madjah dan Nasai). Dapat dibeli di toko-toko kitab.


Untuk yang point ke-3 dari dalil di atas "fariidhotun 'adilatun" ilmu tatacara membagi warisan yang adil. Pengertian "adil" bukan berarti membagi sesuatu yang masing-masing sama besar nominalnya. Karena dilihat dari istilah bahasa Arab dalam hal sholat ada berdiri " i'tidal" itu asal kata " 'adala" =lurus. Berdiri i'tidal=berdiri tegak lurus (setelah selesai ruku'). Jari adil itu lurus sesuai aturan yang ada.Terkadang terdengar (dalam hal pernikahan) istilah bagi suami harus adil jika punya istri dua, misalnya. Adil dalam hal ini tidak harus membagi segalanya menjadi dua sama besarnya tetapi menempatkan sesuatu sesuai dengan proporsinya. Jadi adil itu aturan yang harus ditetapi sesuai petunjuk dari Alloh dan Rosulillahi SAW. Dengan demikian meskipn suami mempunyai istri satu juga harus adil.
OK. lanjut,
Hukum waris yang adil juga sudah ditentukan aturannya dalam Quran dan Hadits. Hukum adil (sbg contoh saja) jika seorang ayah wafat meninggalkan 2 (dua) orang anak , laki-laki dan perempuan, maka aturan warisan dalam QS.Nisa (4);11 " yushikumullohu fii auladikum li dzakari mitslu khadzil un tsayaini...." Alloh wasiyat kepada kamu sekalian dalam (hal pembagian kpd) anak-anak kalian, bagi seorang laki-laki (menerima) semisal dua anak perempuan. Contoh perhitungan: jika bagian anak ada Rp.6.000.000,- maka bagi anak laki2 mendapat Rp.400.000,- sedangkan yang anak perempuan Rp.2.000.000,- 
Itu dikatakan aturan yang "adil" karena sesuai hukum yang diputuskan Alloh SWT, sekalipun manusia (yang elum/tidak ridho dengan hukum warisan) mengatakan kalau mau adil yang dibagi sama besarnya masing2 Rp.3.000.000,-. Itulah hukum warisan, semua sudah ada ketentuannya.

Dalam kenyataannya point yang ketiga yaitu " ilmu bagi warisan yang adil" juga sudah tersusun di dalam al-Quran dan Hadits. Jadi kalau kitab yang dikaji ada2 (dua) tetapi kewajiban menuntut ilmu ada 3 (tiga) yaitu ayat-ayat quran, tuntunan nabi dan ilmu warisan yang adil. Perlunya ditekankan bab warisan termasuk wajib dikaji karena boleh jadi seorang muslm baru sebatas mengkaji quran dan hadits tapi belum mengkaji sampai bab warisan, nah dalil ini rasanya sudah komplit sebagai " tadzkiroh" peringatan buat kita. 
Kesimpulan dari hadits di atas sesuai dengan judulnya , kita dapat dengan jelas manakah materi pokok atau "pakem" yang harus dipelajari bagi muslim wal muslimah dalam hal belajar mengkaji ilmu agama.

Semoga jelas, dapat dipahami, jika masih ada yng perlu ditanyakan jangan sungkan-sungkan menghubungi no HP, atau komentar blog, dll.

 Lampiran : Hikmah Nahwu Sharaf Bag.04

Pada postingan LPM no.4 sudah ditampilkan skema pembagian kalimat menurut jenisnya ada 3 ( tiga) , maka kali ini kita jelaskan lebih lanjut: 

I.  حَرْفٌ harfun / harf / huruf. 


Ialah kalimat yang tidak dapat dipahami secara utuh sebelum disambung dengan kalimat lain. Kalau menurut bhs.Indonesia harf  ini dikenal dengan kata penghubung atau kata tugas atau kata sambung. 
contoh harf إِنْ /in =jika, اَوْ / au= atau, إِذَا /idza=ketika, وَ /wa= dan,مِنَ /mina=dari, ثُمَّ /tsumma=kemudian. 

Huruf tidak memiliki tanda-tanda khusus seperti halnya isim dan fi'il. Untuk mengetahui huruf, dapat diperhatikan dari artinya.

II. فِعْلٌ fi'lun atau فِعِلْ fi'il atau الفعل al-fi'lu 


 yaitu kata yang menunjukkan arti kata kerja disertai dengan waktu, contoh يَقْرَأُ yaq'ro-u sedang membaca,  قَرَأَ qoro-a telah membaca, يَكْتُبُ yak-tubu sedang membaca, كَتَبَ kataba telah membaca.

Note:
  1. Fi'il dalam bahasa Indonesia dinamakan Kata Kerja atau dalam bhs.Inggris verb , setiap kata (dlms tata bahasa Arab) yang menunjukkan kata kerja.
  2. Dalam penggunaannya fi'il pasti menunjukkan waktu terjadinya suatu perbuatan apakah itu masa lampau, waktu yang akan datang atau sekarang/sedang berlangsung.
Untuk mengetahui bahwa suatu kalimah itu termasuk fi'il dapat dilihat dengan cara yang pertama melihat artinya, jika artinya berhubungan dgn kata kerja maka itulah kalimah fi'il. Kemudian cara yang kedua dengan melihat tanda-tandanya sebagai berikut:
  • Diawali lafadz قَدْ /qod = sungguh telah, contoh : قَدْ اَفْلَحَ /qod aflakha , maka aflakha adalah kalimah fi'il.
  • Diawali dengan huruf س /sin ; contoh : سَيَقُوْلُ  / sayaqulu = akan berkata (dia laki-laki), يَقُوْلُ yaqulu adalah kalimah fi'il . Untuk سَ /sa , pada sayaqulu , menunjukkan waktu yang dekat.
  • Diawali dengan huruf سَوْفَ  /saufa , contoh : سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ /saufa ta'lamun= akan mengerti kamu sekalian. تَعْلَمُوْنَ adalah kalimah fi'il. سَوْفَ saufa menunjukkan jangka waktu yang masih lama/panjang.
  • Diakhiri dengan ta ta'nis sakinah  تْ  ta mati yang menunjukkan jenis perempuan, contoh جَاءَتْ / ja-at =(telah) datang ,  قَالَتْ /qolat = (telah) berkata

III.    اِسْمٌ ismun/isim atau الإسْمٌ al-isim

  untuk Bagian III , insyaAlloh bersambung pada posting berikutnya

Kamis, 22 Oktober 2015

Pembahasan LPM Kajian No.4 : Melaksanakan Kewajiban













Klik immage di atas untuk memperjelas

Qola Sholallohu 'alaihi wa salam ut' lubul 'ilma walau bis-shin fa inna tolabal 'ilma fariidhotun 'ala kulli muslim innal malaikata tadho'u ijnikhataha ridhon bima yat'lubu

Bersabda (Rosulullohi ) SAW mencarilah (kamu sekalian) ilmu walaupun (sampai ) di negeri Cina, sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya (menghormati,melindungi) kepada orang yang mencari ilmu karena ridho dengan apa yang dia cari. Hadits Riwayat 'Abdul Bar

Hadits lain yang senada dengan tema di atas berbunyi " carilah ilmu walaupun diantaramu dan ilmu itu ada terbentang lautan api ". 

Pada hadits pertama, bahwa mencari ilmu itu wajib dalam artian keharusan atas suatu konsekuensi sebagai hamba yang sudah berikrar dirinya muslim , orang yang menyerah. Kewajiban atau keharusan itu juga terbatas kepada suatu komunitas muslim. Kalau bukan muslim menurut hadits di atas tidak terkena kewajiban menuntut ilmu. 

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi tiap muslim, dengan kata lain tiap-tiap orang Islam wajib mencari ilmu. 

Boleh jadi timbul pertanyaan, ilmu apakah yang wajib dicari itu ? Apakah orang tua yang tidak mampu membaca tulisan tetap terkena kewajiban menuntut ilmu pengetahuan umum, ilmu fisika, ilmu alam dll?
Nah tentu saja ilmu yang dimaksud di sini juga ada pembatasan masalahnya. 

Yang dimaksud harus dipelajari dan jika tidak dilaksanakan terkena sanksi adalah 3 (tiga) macam ilmu yaitu ayatun muhkamatun (Alquran) kemudian sunah yang tegak (tuntunan rosul yang tegak) dan ilmu faroidh (bagi waris yang adil) diuraikan dalam Hadits Riwayat  Abu Dawud dalam Kitab Faroidh.


Hadits Riwayat Abu Dawud tersebut memberikan kepada kita kejelasan mana saja ilmu yang wajib dicari. Jika tidak ada pembatasan maka betapa sulitnya aplikasi/penerapan hadits di atas. Karena tiap-tiap orang Islam itu kan juga terdiri berbagai lapisan masyarakat kelompok umur, dengan berbagai latar belakang kemampuan. 

Jika menuntut ilmu agama ( Quran, Hadits dan Faroidh) itu diwajibkan kepada tiap muslim, memang sudah sepatutnya. Cara beribadah yang sesuai dengan tuntunan Rosulullohi SAW , hukum2, perilaku budi pekerti semua memang sudah terangkum rapih dalam kitab pedoman Islam tersebut. Adapun mengenai pelaksanaan menuntut ilmu agama, manusia diperintahkan untuk saling membantu satu sama lainnya. 

Ok, lanjut.
Sesungguhnya para malaikat menghormati, ......seperti orang sedang berjalan di jalanan memakai topi, kemudian bertemu dengan org yang disegani maka dia akan bicara dan buka topi sebagai tanda hormat. Atau juga membentangkan sayap untuk melindungi org yang mencari ilmu agama, berada di jalan Alloh SWT.  

Pada hadits pertama dan ke-dua, bahwa meski ada kesulitan dalam mencari ilmu namun karena pentingnya ilmu teap didorong untuk mengerjakan. Dari Arab (Makah-Madinah) menuju Cina, bukan jarak yang pendek, terlebih waktu itu belum ada alat transportasi secanggih sekarang. Namun Rosululloh SAW tetap menyuruh berangkat. Sedang hadits ke-dua meski ada penghalang lauan api, bagaimana usaha kita agar berhasil sampai seberang untuk mendapatkan ilmu agama. Motivasi yang sangat kuat.

Terus bagaimana praktek kita mengkaji ilmu agama pada era canggih ini ?

" Sebaik-baik kalian adalah orang yang (paling) bermanfaat bagi sesama manusia ", termasuk dalam hal belajar ilmu agama, siapa yang dapat memberikan bantuan kemudahan, dialah juga yang mendapat peluang pahala besar di sisiNYA.



Saudaraku, hadits yang kita berikan arti per kata dan dan hadits yg kedua sebagai penunjang , sama2 kedudukannya untuk memberikan pesan rosul betapa pentingnya menuntut ilmu.

Program blog ini yang dikreasi untuk membantu sesama yang ingin belajar mengkaji ilmu Islam dengan dukungan kecanggihan internet , rasanya merupakan alat yang "memanjakan" Saudara menikmati kajian di rumah. 

Cukup dengan biaya akses internet yang relatif murah, meski dalam keterbatasan minimal Saudara sudah dapat melaksanakan kewajiban , menuntut ilmu.
Jangan sampai sudah tersedia berbagai alat pendukung kemudahan, namun kita kurang termotivasi karena lemahnya semangat " tolabul 'ilmi "


Lampiran : Hikmah Nahwu Sharaf Bag.03

POKOK - POKOK PEMBAHASAN
ILMU NAHWU DAN SHOROF


Dilihat dari bentuknya tulisan dala bahasa Arab ada 3 (tiga)
  • 1. Huruf ( حرف ) , adalah tulisan paling kecil , dalam bhs.Indonesia adalah buruf abjad, A,B,C,D dst
  • 2. Kata ( كلمة ) , kata adalah gabungan beberapa huruf dan mempunyai arti ( saya اَنَا , makan اَأْكُلُ , roti اَلْخُبْزَ ).
  • 3. Kalimat ( قَوْل , كَلَام ) merupakan gabungan beberapa kata yang mengandung makna lengkap. Kata pada point 2 digabung menjadi اَنَا اَأَكُلُ الْخُبْزَ saya makan roti. 

Dalam penerapannya lihat rinciannya di bawah ini.

Kalimat yaitu lafadzh yang mempunyai arti, baik satu huruf, dua huruf ataupun lebih. Kalau dalam Bahasa Indonesia, kalimat dalam bahasa Arab tadi disebut dengan "kata".
Sedangkan kalimat dalam bahasa Indonesia kalau bahasa Arabnya dinamakan jumlah mufidah atau kalam atau qoul.

Contoh "kalimah" dlm bhs Arab atau "kata"  dalam bhs.Indonesia
Kalimat, dalam referensi lain disebut "kalam"

مِنْ  (min) = dari 

يَقْرَأُ  (yaq ro'u) = membaca

اَلْبَيْتُ (al baitu) = rumah

يَكْتُبُ  (yaktubu) = menulis     

كِتَابٌ (kitabun) = kitab atau buku

إِلَى (ila) = ke 

وَ (wa) = dan

اُكْتُبْ  (uk tub) = tulislah      

PEMBAGIAN KALIMAT ( الكلمة )

Kalimat dalam Bahasa Arab dilihat dari jenisnya ada 3 macam



bersambung......




Rabu, 14 Oktober 2015

Pembahasan LPM Kajian No.3: Tinta Tulisan Membandingi Darah Syuhada'


 









Klik image di atas untuk memperjelas

Yuzanu yaumal qiyamati midadul 'ulama wa damus-syuhada' fa yurja'u midadul 'ulama 'ala damus-syuhada'

Ditimbang pada hari kiyamat tinta ulama dan darah syuhada', maka diulangi (ditimbang) tinta ulama mengalahkan atas darahnya para orang yang mati syahid Riwayat Hadits Ad-Dailamy.

Sebagaimana posting penjelasan pada posting LPM No.1 Memproleh Lipatan Pahala Besar  bahwa setiap amalan seorang mu'min diperlihatkan baik amalan itu baik maupun buruk.
Amal sholih (amal kebaikan) dalam kaitannya dengan perjuangan menghidupkan dan melestarikan ilmu agama mendapat nilia yang tinggi di sisi Alloh SWT. 
Hamba Alloh yang memperjuangkan dan membela di jalan Islam dengan fisik terlebih ketika agama ini menghadapi ancaman, sehingga mengorbankan jiwa raga sampai meninggal dunia, mereka termasuk hamba yang mati syahid. 

Medan perjuangan untuk mengembangkan dan melestarikan agama Alloh tidak akan menyempit akan tetapi tetap terbuka bagi siapa saja yang mempersungguh di jalanNYA, meskipun masa-masa ini Islam tidak menghadapi ancaman serius sebagaimana ancaman peperangan.

Berjuang dengan ilmu pengetahuan pada masa sekarang sangat dibutuhkan. Menjadi ulama yang benar-benar mendalami ilmu agama Islam kemudian mempertahankan ilmunya untuk menjaga umat merupakan amal sholih yang terus terbuka lebar.
Ulama, bentuk jama' dari "alim" adalah orang yang mendalami agama dan kemudian tidak diam dengan ilmunya, namun ikut serta dalam pembinaan umat dalam arti yang sebenarnya.
Ulama dan pejuang syahid , keduanya mempunyai peran penting dalam upaya pelestarian agama Alloh SWT. Jika pejuang syahid membela agama dengan pedang, tetapi ulama berjuang membela dengan pena.

Saudara2ku, jika seseorang mengkaji ilmu agama dengan sungguh2 dan menuliskan penanya untuk kaitannya memperdalam ilmu Quran dan Sunah/hadits, maka dengan sendirinya tergolong dijalan ulama.

Timbangan amal antar keduanya di hari kiyamat sebanding, bahkan sampai diulangi dan hasilnya timbangan tinta ulama dapat mengalahkan timbangan darah syuhada'. Dari hadits di atas , tentu saja orang yang menulis saat mengaji benar-benar serius tujuannya untuk diri sendiri dan bercita-cita menyebarluaskan kepada lingkungannya demi tegakknya kalimatulloh (agama Alloh).

Lampiran : Hikmah Nahwu Sharaf Bag.02

Mempelajari tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan sharaf ) merupakan jembatan /sarana untuk memahami kandungan Kitab Suci al-Quran dan Kitab Sunah/hadits yang memang berbahasa Arab, sehingga mempelajari keduanya dirasa penting bahkan sebagian kalangan mengatakan wajib, meski bukan seperti wajibnya puasa, sholat dll. 

Pentingnya mempelajari Bahasa Arab dengan tujuan untuk memahami Kitabillah juga diserukan dalam al-Quran sendiri yaitu QS.12;2 (Quran Surah 12/Yusuf, ayat 2)


أِنَّا أَنْزَلْنَا هُ قُرْأَنًا عَرَبِيَّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

> inna an zalna hu qur-anan 'arobiyyan la'allakum ta'qiluun<
" Sesungguhnya Kami (Alloh) turunkan al-Qur'an dalam bacaan dengan bahasa Arab agar kalian memahaminya"

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab pada waktu itu juga turun kepada Rosulullohi SAW suku Quraisy yang sehari-hari juga berbahasa Arab,...... itu saja diperintah agar memahami. 
Kenapa ? 
Al-Quran merupakan petunjuk dan pedoman hidup bagi orang yang beriman, dengan berpegang teguh kepadanya akan mendapat rohmat dan kefadholan dariNYA. Bukti Alloh SWT maha belas kasih kepada hambanya. Orang Arab masih perlu memahami al-Quran karena jumlah ayatnya konon 6666 (tetapi saya menghitung ayatnya 6237.....ya saya belum tahu cara mereka menghitung), banyaknya ayat yang terhimpun dalam 114 surah, mengandung banyak sekali pengertian. Perlu kesungguhan dan juga bimbingan agar kita dapat memahami dan mengamalkan.

Terlebih kita yang orang a'jam (di luar bahasa Arab), disamping memahami untuk mengamalkan, kita juga masih harus belajar tranlasi =terjemah ke dalam bahasa yang kita pahami. Mungkin dimaknai ke dalam bhs Jawa, Sunda, Madura, bahkan bhs Inggris atau bhs lain. Intinya memahami bahasa Arab ke dalam bhs yang sekira dapat paham, kalau itu cerita dapat mengimani, kalau perintah dapat menjalankan dengan niyat karena mengharap rohmatNYa, jika isinya larangan juga dapat menjauhi.

Semangat untuk mempelajari bhs.Arab juga dimotivasi oleh sohabat Umar bin Khotob :


  اَحْرِصُوْا عَلَى تَعَلُّمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَإِنَّهُ جُزْءٌ مِنْ دِينِكُمْ 


Ahrishu 'ala ta'allumil lughotil 'arobiyati fa innahu juz un min dinikum

" Bersemangatlah dalam mempelajari bahasa Arab, karena sesungguhnya bahasa Arab merupakan bagian dari agamamu "

sedangkan hadits menurut riwayat Tobrony, menggeluti bahasa Arab karena beberapa pertimbangan,

اَحِبُّوْ الْعَرَبَ لِثَلاَثٍ لِأَنِّي عَرَبِيٌّ وَالْقُرْاَنَ عَرَبِيٌّ وَ كَلَامَ اهْلِ

 الْجَنَّةِ فِي الْجَنَّةِ عَرَبِيٌّ

 
ahibbul 'aroba li tsalatsin li anni 'arobiyyun wal qur ana 'arobiyyun wa kalama ahlil janah fil jananti 'arobiyyun

"Cintailah bahasa arab karena 3 perkara, karena sesungguhnya saya berbahasa Arab, dan al-Quran berbahasa Arab dan bahasa penghuni surga di dalam surga berbahasa Arab" 

Cinta, mempunyai arti yang luas. Bukan saja dalam arti "senang" antara laki-laki dan perempuan tapi lebih dari itu. Cinta kepada tuhan, cinta kepada pekerjaan dll.
Dengan mencintai sesuai maka akan melakukannya dengan sepenuh hati, dengan tulus dan jika menghadapi hambatan maka tetap dengan senang hati "enjoy"  secara konsisten karena merupakan bagian dari jiwanya.

Cinta mungkin dekat juga dengan hobby. Orang yang hobby memancing meskipun tidak memperoleh hasil atau hasilnya sedikit tetapi tidak bosan, padahal untuk mewujudkan hobbynya itu perlu mengeluarkan isi kantong yang boleh jadi tidak sedikit.
Dengan cinta mempelajari bahasa arab, dengan cinta mengkaji al-Quran dan Sunah/hadits dan dijadikan sebagai hobby, maka besar sekali fadhilah (keutamaannya) karena jika diniyati lillahi ta'ala semata mengharap ridho dan wajah Alloh SWT niscaya mendapat pahala besar, insyaAlloh.


Kunjungi juga posting relevan, klik link di bawah ini : 

Memperoleh lipatan pahala yang sangat banyak