Senin, 21 Desember 2015

Pembahasan LPM Kajian No.11 : Menghindarkan Murka Alloh Karena Kebodohan











Klik immage di atas untuk memperjelas

InnAlloha ta'ala yabghodhu kulla 'alimin bidun-ya jahilin bil akhiroti (rowahu al-Hakim)

Sesungguhnya Alloh Yang Maha Luhur murka (kepada) tiap2 org yang pandai dengan (urusan) dunia , bodoh dengan (urusan) akhirat.

Kemurkaan Alloh Ta'ala kepada umat manusia, berawal ketika manusia yang diciptakan sebagai makhluq yang sempurna (fii akhsani taqwim....Quran Surah at-Tiin no.ayat 4) 


Laqod' cholaq'nal insana fii akhsani taqwiim
Niscaya Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk 

Dengan diberi akal sehat, pikiran yang normal dapat mempertimbangkan baik dan buruknya, namun manusia tersebut tidak mengindahkan pesan2 dariNYA.

Karakter manusia diciptakan dengan kondisi repot/sibuk....sebagaimana tertuang dalam Quran Surah al-Balad ayat 4 ;
Laqod' cholaqnal insaana fii kabadin
Niscaya sungguh Kami ciptakan manusia dalam (keadaan) repot/sibuk.

Keadaan yang Alloh Ta'ala ciptakan untuk manusia tentu sebagai cobaan bagi insan yang menggunakan akal pikirannya. Apakah gara2 memang sifat manusia yang serba sibuk atau mencari "suka mencari kesibukan" lantas beralasan untuk memenuhi panggilan Alloh Ta'ala? hingga urusan sabilillah "agama Alloh" dikesampingkan.

Secara psichology , jiwa manusia baik pikiran, konsentrasi, potensinya akan dicurahkan kepada sesuatu yang dianggap penting.

Yang hobbynya mancing, bagaimana agenda mancing dapat terwujud, dengan pikiran, waktu bahkan biayanya yang penting heppy.....

Saudara, urusan belajar hingga mendalami ilmu agama dengan mengkaji Kitabillah wa Sunnati nabiyihi (Quran dan Hadits) adalah upaya sebagai penyeimbang jiwa kita. 
Tentu saja kita takut jika Alloh Ta'ala murka gara2 kita sibuk mengurusi hal duniawi sampai urusan belajar mengkaji firmanNYA terabaikan. 

Tidak diingkari bahwa urusan mencari rejeki halal merupakan bekal untuk "survive" bertahan hidup termasuk untuk mencukupi kebutuhan pangan (logostik), sandang (pakaian), papan (maskanah/tempat tinggal). Namun pada saat yg sama kita sebagai manusia juga dihadapkan dengan akibat pada masa yg akan datang, ...akhirat.....yang pasti menghadang kita.


Monggo bagaimana teman2 mengatur waktu. Kewajiban ibadah yang diatur waktunya adalah sholat, "maktub" ....(isim maf'ul) = tertulis dalam Quran Surah An-Nisa (4);103

 Inna sholata kanat 'alal mu'miniina kitaban mauquta
sesungguhnya shloat adalah atas mu'min kewajiban yang ditentukan waktunya.

Kelancaran ibadah seseorang tergantung seberapa kesungguhannya. Jika niyat yang kuat sudah tertanam dalam jiwa, maka apapun kondisi situasi dan lingkungan bukanlah halangan. Sebaliknya apa yang ada disekitarnya dapat dioptimalkan demi kelancaran urusan sabilillah.

Jaman sudah canggih, manusia dimanjakan dengan berbagai fiture , media blog ini semoga saja dapat memberikan nilai lebih dalam upaya makin mendekatkan diri kepadaNYA.

Tentunya kita tidak rela dicap sama Alloh Ta'ala digolongkan orang " juhala" bodoh (maaf...memang arti lughofiah demikian).... tidak atau belum paham agama .... gara2 seorang tidak pandai mensyukuri nikmat, tidak tertarik meraih nikmat di akhirat kelak.
 



   

 


Jumat, 11 Desember 2015

Pembahasan LPM Kajian No 10 : Pewaris Ilmu Nabi Dan Peluang Ampunan Dosa-dosa


Klik immage di atas untuk memperjelas

qola Sholallohu 'alaihi wa salam al'ulama warotsatul an-biya takhiyuhum ahlus samai wa yastaghfiru lahum al-khitanu fii al bahri idza matuu yaumal qiyamah.

Bersabda sholallohu 'alaihi wa salam (Nabi Muhammad SAW) , ulama (itu adalah) pewarisnya para nabi , memintakan ampun untuk mereka ikan di dalam laut ketika mati mereka di hari kiyamat.

Disebut sebagai pewaris atau ahli waris para nabi, dalam hala apa?
Dalam hadits lain lebih jelas lagi karena para nabi tidak meninggalkan harta berupa uang dirham atau dirham, melainkan mereka meninggalkan ilmu. 

Halaman blog yang relevan dengan tema ini silahkan Saudara kunjungi 

Discuse Quran Hadits : Ulama Pewaris Para Nabi

 
 


Selasa, 01 Desember 2015

Pembahasan LPM Kajian No.9 : Menghindarkan penyesalan doa sia-sia di akhirat













Klik immage di atas untuk memperjelas


NB:Mohon diperhatikan bahwa tulisan lafadz Arabic pada posting ini berwarna hijau, sedang terjemahnya berwarna biru. Mengenai posisi penulisan disesuaikan dengan tempatnya. Yang terpenting Saudara dapat mengerti arti kata demi kata dan tidak mengalami kesulitan dalam memahaminnya. 

qolu awalam taku ta'tikum rusulukum bil bayinatin ? qolu bala , fad'u wa ma dua'ul kafirina il-la fi dholalin (Quran Surah Al-Mu'min [40];50)

Berkata mereka (para malaikat) apakah belum ada datang pada kamu sekalian beberapa rosul yang membawa keterangan ? berkata (menjawab) mereka (penghuni neraka) "ya", berkata (para malaikat) maka berdoalah dan tidak ada doanya orang kafir kecuali dalam kesia-siaan. 

Saudara-saudaraku , 
doa adalah senjatanya orang iman " ad-dua-u saiful mu'minin" doa adalah senjatanya org iman. Bagaimana peran doa dalam kesuksesan seseorang?
Orang yang melakukan doa berarti dia punya suatu keyakinan, bahwa dengan doanya itu sesuatu dia berharap apa direncanakan dapat terwujud. Dalam realita orang dapat berhasil selain dengan doa juga harus dibuktikan dengan tindakan nyata.

Dalam beberapa hadits, rosulullohi SAW selain memberi contoh berdoa tentu juga dengan melakukan amalan nyata. Doa dan usaha nyata merupakan pasangan yang ideal insyaAlloh demi terwujudnya cita-cita.
Urusan akhirat merupakan perkara yang pasti dihadapi oleh satu-satunya manusia. Nasib apa yang bakal dihadapi dan dijalani selama-lamanya di kahirat merupakan hasil dari apa yang telah dilakukan di kehidupan dunianya.
Doa masih akan bermanfaat untuk mendukung amalan ketika dilakukan di dunia. Namun apabila digunakan di akhirat ketika sudah merasakan siksaan neraka, maka doa itu menjadi sia-sia.

Teman, dengan kita makin banyak mengkaji maka kesadaran itu semakin menguat, bahwa saatnya sekarang di dunia ini kita harus berbuat sebaik mungkin sebelum segalanya terlambat.

Minggu, 29 November 2015

Pembahasan LPM Kajian No.8 : Menghindarkan penyesalan terbesar hari kiyamat

 Klik immage di atas untuk memperjelas 

qola sholallohu 'alaihi wa salam asyaddunasi khasrotan yaumal qiyamah rojulun amkanahu tolabul 'ilma fii dun-ya fa lam yatlub hu wa rojulun 'allama 'ilman fantafa'a bihi man sami'ahu min hu duna hu

Bersabda Rosulullohi SAW lebih beratnya manusia penyesalannya di hari kiyamat (adalah) seseorang yang (sebenarnya) memungkinkan baginya untuk mencari ilmu di dunia maka dia tidak mencarinya, dan seorang yang mengajarkan ilmu maka orang (lain) mengambil manfaat ilmu dari orang yang mengajarkannya selain dia sendiri.

Apa yang terjadi menimpa kepada seseorang pada hari akhirat (kiyamat) adalah merupakan akbitat dari apa yang telah dilakukannya di dunia. Manusia termasuk jin ditaqdirkan untuk beribadah kepada sang pencipta sebagaimana yang maktub (tertulis) dalam surah ad-Dzariyat (51);56.
Kesempatan yang diberikan kepada manusia selama umur hidupnya sebenarnya sangatlah kecil atau sebentar saja jika dibanding lamanya masa di akhirat. Karena akhirat adalah akhir segala-galanya, dan tiada lagi tahapan waktu sesudah itu. 

Pada hadits di atas diterangkan oleh Rosulullohi SAW bahwa orang yang sebenarnya sempat untuk belajar mengkaji secara serius ilmu agama Islam namun tidak melakukkannya maka dia menanggung persaan sesal yang sangat besar. Karena akibatnya dia tidak paham apa yang harus diamalkan untuk mendapat ridho Alloh Ta'ala. Bukan berarti orang yang tidak belajar mengaji serius karena memang tidak sempat, itu tidak begitu menyesal. Semua sama-sama menyesal, mereka telah lalai karena urusan duniawi yang telah merenggut perhatiannya sehingga urusan akhirat dianggap perkara yang remeh.

Kemudian point kedua, orang yang diberi kemampuan menyampaikan ilmu agama namun dia sendiri justru tidak mengamalkannya juga menanggung penyesalan yang sangat berat, dia melihat para murid-murid yang pernah diajari ilmu agama merasakan nikmat di akhirat. Hal ini sesuai dengan teguran Alloh SWT pada surah Shof (61);2-3 " Hai org2 yang berimankarena apa engkuaberkata pada apa yang tidak engkau amalkan, besar dosanya di sisi Alloh jika engkau berkata tentang apa yang tiada engkau mengamalkan"    

Saudara, untuk urusan akhirat dalam mencari jalan Alloh (sabilillah)  hendaknya menjadi prioritas utama, di antara jam-jam kesibukan kita. Biasanya orang akan berada pada aktivitas yang dianggapnya penting.

Sabtu, 21 November 2015

Pembahasan LPM Kajian No.7 : Menghindarkan Siksaan Neraka Sa'ir












 

Klik immage di atas untuk memperjelas


NB:Mohon diperhatikan bahwa tulisan lafadz Arabic pada posting ini berwarna hijau, sedang terjemahnya berwarna biru. Mengenai posisinya disesuaikan dengan tempatnya. Yang terpenting Saudara tidak mengalami kesulitan dalam memahaminnya. 

wa qolu lau kunna nasma'u au na'qilu ma kunna fii ashabi sa'iir (Quran Surah Al-Mulk [67];10)

Dan berkata (mereka penghuni neraka) andai ada kami (di dunia) mendengar atau kami berakal maka tidak ada kami penghuni neraka sa'ir.

Saudara-saudaraku, dalam ayat tersebut diterangkan bagaimana seorang yang masuk neraka sa'ir menyesalkan kondisi waktu di dunia yang pernah dilaluinya semasa hidup, tidak mendengarkan dan tidak berakal (menggunakan akalnya) terhadap peringatan tuhan.

Tidak mendengarkan nasihat atau ajakan dari sesama manusia untuk berbuat kebajikan memperhatikan seruan Alloh SWT dalam kitab al-Quran, serta tidak menggunakan akal sehat dan jernih untuk mengikuti jalan yang benar yang sudah didengung2kan dalam kitabillah wa sunati nabiyihi (petunjuk rosul).
   
Sa'iir merupakan nama neraka semisal jahannam, wail, saqqor dll sudah menanti di akhirat bagi manusia yang tidak mau menggunakan anugerah yang telah diterima dari Sang Pencipta.

Inti dari ayat ini diperkuat dengan ayat lainnya yaitu Surah al-A'rof (7);179 " Dan niscaya Aku jadikan untuk jahannam , kebanyakannya dari jin dan manusia, bagi mereka mempunyai hati (namun) tidak memahami dengannya, bagi meraka mata (tetapi) tidak melihat dengannya , bagi mereka telinga (tapi) tidak mendengarkan dengannya, mereka itulah sebagaimana binatang bahkan lebih hina, mereka itulah orang2 yang lalai" 

Kalau manusia yg ditugaskan untuk beribadah kepadaNYA tapi tidak sadar, tidak paham akan posisinya sebagai makhluk yang mengemban amanah dari Alloh SWT sampai habis kesempatan hidupnya, maka mereka itu sangat rugi. Kehidupan duniawi yang hiruk pikuk, gegap gempita, glamor mungkin telah memperdayanya sehingga matanya silau sehingga lalai dari ingat akan Aloh SWT.

Maka syukurlah jika kita mendapat kesempatan untuk lebih banyak bertafakur "pikir-pikir" terhadap hikmah yang terkandung di dalam ayat dengan demikian ada harapan Alloh Ta'ala berkenan memberikan bimbingan ke jalan yang benar " shirotol mustaqiim" 

Sekarang kita masih hidup di dunia namun telah mendapat " bocoran skenario" yang akan Alloh SWT peragakan di hari akhirat. Ayat yang kita kaji di atas benar2 akan terjadi, kita yang mau belajar sehingga paham arti kandungan al-Quran sungguh merupakan anugerah yang luar biasa. 
 
 

Rabu, 11 November 2015

Pembahasan LPM Kajian No.6 : Menetapi Prosedur Ilmu Sebelum Amalan






Klik immage di atas untuk memperjelas 

wa laa taq-fu maa laisa la ka bi hi 'ilmun inna asm'a wa al-basoro wa al-fuada kul-lu ulaaika kana 'anhu mas-ula

Dan jangan engkau kerjakan apa-apa yang tiada bagi engkau dengannya ilmu, (karena) sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati, semua mereka ada dari semua itu akan ditanyakan.

Yang dimaksud tidak boleh mengerjakan sebelum tahu ilmunya, adalah dalam konteks peribadatan


Dengan kata lain jangan mengamalkan dulu urusan ibadah sebelum mengkaji ilmunya" istilahnya " العلم قبل العمل / al'ilmu qobla al-'ul ilmu lebih dulu sebelum beramal. Jangan sampai sudah beramal padahal belum berilmu.
Ibadah adalah perintah Alloh SWT kepada hambanya yang terdiri dari jin dan manusia, sebagaimana surah Adhariat (51); 56. Tata cara peribadatan juga sudah diatur secara lengkap di dalam kitab al-Quran dan mengikuti tuntunan Rosululloh SAW di dalam kitab Hadits. Dengan mengkaji dasar2 ilmu beribadah maka amalannya dapat sesuai dengan kehendak Alloh SWT , yang kelak akan memberikan pahala/imbalan di hari kiyamat. Inilah prosedur yang tepat. Karena barang siapa beramal dengan suatu amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan rosul maka, amalan itu kelak akan ditolak oleh Alloh SWT alias tidak diberi pahala. Dalam hadits lain disebutkan = barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atas amalan itu perkaraku, maka amalan itu ditolak. 

Betapa ruginya seorang beribadah kepada Alloh SWT niyatnya mencari bekal untuk menghadapNYA di akhirat kelak, sudah semangat dengan keyakinan, mengeluarkan tenaga , waktu bahkan biaya tidak sedikit namun kenyataannya di akhirat amalannya tidak sah gara-gara dalam ibadahnya tidak sesuai dengan pedoman yang telah digariskan dalam Quran dan Hadits. Cara beribadah mulai dari cara mendapatkan ilmu belum mengikuti prosedur yang benar sebagaimana yang dituntunkan. InsyaAlloh dalam kesempatan lain akan dibahas arti kata dalil terkait, supaya kita semua lebih mantap dan yakin.

Alloh SWT yang maha memberi dan maha kuasa atas segala sesuatu.Syariat (aturan) agama telah Alloh Ta'ala gariskan di dalam kitabillah dan tuntunan pelaksanaanya di dalam hadits2 mulai hal yang paling mendasar hingga semua persoalan. Yang perlu digarisbawahi adalah perlunya umat Islam terus belajar mencari ilmu dengan mohon bimbingan dan petunjuk kepadaNYA, karena Alloh juga yang maha menunjukkan. Ketika seorang hamba sudah berserah diri dan sungguh-sungguh berharap dimudahkan, maka Alloh SWT dengan idzinNYa akan mempertemukan dengan hidayah, aamin.



 Lampiran : Hikmah Nahwu Sharaf Bag.05

III.اِسْمٌismun/isim atau al-isim

 

Isim adalah kalimat atau lafadz yang menunjukkan arti kata benda , termasuk di dalamnya nama tempat, kata sifat, nama orang, binatang atau lainnya dan tidak mengandung keterangan waktu. 

Dalam susunan bhs Arab suatu kata dapat digolongkan isim atau kata benda dengan mendeteksi ciri-cinya sebagaiberikut : 
  • 1.Diakhiri dengan kasroh yaitu tanda baris di bawah huruf, contoh : اللهِ , النّاسِ , الأرْضِ ( Alloh, ardhi=bumi, An-Nasa = manusia).
  • 2.Diakhiri dengan fatkhah tanwin (ً ) : بَيْتً  baitan=rumah  , dhomah tanwin ( ٌ ): رَجُلٌ rojulun =seorang laki-laki  atau kasroh tanwin ( ٍ ): contoh عَالِمٍ 'alimin = org yg mengetahui/pandai.
  • 3.diawali dengan alif lam ( ال ) apakah itu syamsiyyah contoh:  النَّجْمُ  an-najmu = bintang , maupun qomariyah contoh:  البَلَدِ al-baladi=bumi. Maksudnya ال syamsiyah (matahari) jika alim lam (baca- al) dibaca pecah bercampur dengan huruf selanjutnya. Pada contoh di atas al-najmu dibaca an-najmu, (sinar matahari pecah). Sedang pada ال qomariyah jika alif lam (al) dibaca utuh , terpisah dengan huruf yang mengikutinya, pada contoh al-balad tetap di baca jelas "al-balad" , qomariyah=bulan, sinarnya utuh..... ;).
  • 4.Diawali dengan huruf qosam ( وا ; بأ ; تأ )=kata sumpah  وَاللهِ  تاللهِ
  • 5.Diawali dengan huruf jar yang membuat huruf terakhirnya menjadi berbaris kasroh. Jika suatu kata Arab diawali huruf jar yang berjumlah 9 (sembilan) maka pasti dia itu isim=kata benda. Contoh [1] مِنْ min/mina (dari), penerapannya pada   مِنَ الْأَرْضِ  minal ardhi =dari bumi ; [2] إِلَى ila (ke) : contoh إِلَى السُّوْقِ /ilas suqi = ke pasar ; [3] عَنْ 'an (dari) contoh عَنْ عَلِيَِ /'an 'ali =dari 'Ali ; [4] عَلَى  'ala (atas), contoh : عَلَى الْأَرْضِ  'ala al-ardhi=atas bumi ; [5] فِي fi (dalam) contoh فِي الْبَيْتِ fil baiti = di dalam rumah ; [6]  رُبَّ  rub-ba (banyak/sedikit) contoh   رُبَّ رَجُلٍ كَرِيِمٍ rubba rojulin karim  = banyak/sedikit org laki-laki yang mulia ; [7] الْبَاءُ ba' (dengan) contoh بِالْقَلَمِ /bil qolam = dengan pena ; [8] الْكَافُ kaf (seperti) contoh : كَالْقَمَرِ  kal qomar  = seperti bulan ; [9] اللاَمُ lam (kepunyaan) contoh :  لِلهِ  lillahi  (kepunyaan Allloh).
  • 6. Dilihat dari artinya menunjukkan kata benda atau nama orang ,contoh  قَلَمُهُ  qolamuhu = pensilnya; عَائِشَةُ Aisyah /nama orang, dll.
  • 7. Jika dimasuki huruf  مَ مِ مُ  di depannya. Jika kalimah مُسْلِمُ  ;  مِرْوَحٌ  ; مَكْتَبٌ                 
 

Sabtu, 31 Oktober 2015

Pembahasan LPM Kajian No.5 : Kepastian Materi Wajib Kajian Islam

Klik immage di atas untuk memperjelas 


Al 'ilmu tsalaatsatun wa ma siwa dzalika fa huwa fadhlun, ayatun muhkamatun au sunnatun qoimatun au faridhotun 'adilatun.

ilmu (itu), (ada) tiga dan apa-apa selain yang demikian (3 itu) maka keutamaan, ayat yang digunakan untuk menghukumi, atau tuntunan yang tegak atau ilmu bagi warisan yang adil.


Saudara-saudaraku di manapun berada, hadits ini memberikan pengertian bahwa ada semacam pembatasan tentang ilmu yang wajib / ada keharusan bagi umat muslim untuk menuntutnya sebagaimana posting yang lalu  Pembahasan LPM Kajian No.4 : Melaksanakan Kewajiban .
Hanya bedanya di sini Saudara dapat praktek memaknai kata demi kata dari matan/isi dalilnya, sedangkan pada posting yg dulu baru sebatas keterangan untuk menunjukkan hubungan (relevansi)nya. 

Yang dimaksudkan "ayat yang digunakan hukum" tidak lain yaitu ayat2 dalam al-Quran 30 juz. Isi kandungannya merupakan ketentuan hukum, sumber segala sumber hukum dalam Islam. Penjelasan bahwa ayat-ayat Quran sebagai dasar hukum diperuntukkan bagi manusia diperkuat pada QS.An-Nur (24);ayat 1 " (ini) Surah, Kami turunkan surat2 tersebut dan Kami wajibkan dan Kami turunkan di dalamnya ayat2 yang terang/jelas agar kamu sekalian mengingatnya"

Kemudian yang ke dua " sunnatun qoimatun" tuntunan yang tegak. Maksudnya tuntunan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Alloh SWT untuk memberi suri tauladan bagi seluruh umat manusia yang menghendaki ridho Alloh SWT juga menghendaki kebahagiaan akhirat. Relevansinya terdapat pada QS.al-Akhzab " Niscaya sungguh ada bagi kamu semua dalam diri Rosulillah contoh suri tauladan yang baik, bagi orang yang ada (dia) menghendaki Alloh (rodho dan rohmatNYA) dan hari akhir dan ingat yang banyak"

Tuntunan yang tegak , adalah tuntunan yang lurus menuju ridho dan rohmat Alloh SWT, tidak bengkok, belak-belok karena kekuatan pengaruh apapun. Pengaruh hawa nafsu manusiawi atau pengaruh duniawi terkadang dapat menyimpangkan niyat orang ibadah sehingga dalam pelaksanaannya menjadi tidak karena Alloh SWT. Niyat yang tulus karena Alloh SWT kurang lebih dapat ditengarai manakala seseorang dalam hal ibadah/urusan akhirat "tidak mundur karena dicela, tidak maju karena dipuji" dalam menetapi keyakinan atas dasar ilmu yang terdapat dalam kitabillah (quran) dan sunnati nabi (hadits shohih). 

Sunah , point kedua dalam dalil ini sekarang sudah terdeskripsi rapih dalam himpunan hadits2 sohih. Kutubusitah merupakan sebutan 6 (enam) hadits tersohih (Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Madjah dan Nasai). Dapat dibeli di toko-toko kitab.


Untuk yang point ke-3 dari dalil di atas "fariidhotun 'adilatun" ilmu tatacara membagi warisan yang adil. Pengertian "adil" bukan berarti membagi sesuatu yang masing-masing sama besar nominalnya. Karena dilihat dari istilah bahasa Arab dalam hal sholat ada berdiri " i'tidal" itu asal kata " 'adala" =lurus. Berdiri i'tidal=berdiri tegak lurus (setelah selesai ruku'). Jari adil itu lurus sesuai aturan yang ada.Terkadang terdengar (dalam hal pernikahan) istilah bagi suami harus adil jika punya istri dua, misalnya. Adil dalam hal ini tidak harus membagi segalanya menjadi dua sama besarnya tetapi menempatkan sesuatu sesuai dengan proporsinya. Jadi adil itu aturan yang harus ditetapi sesuai petunjuk dari Alloh dan Rosulillahi SAW. Dengan demikian meskipn suami mempunyai istri satu juga harus adil.
OK. lanjut,
Hukum waris yang adil juga sudah ditentukan aturannya dalam Quran dan Hadits. Hukum adil (sbg contoh saja) jika seorang ayah wafat meninggalkan 2 (dua) orang anak , laki-laki dan perempuan, maka aturan warisan dalam QS.Nisa (4);11 " yushikumullohu fii auladikum li dzakari mitslu khadzil un tsayaini...." Alloh wasiyat kepada kamu sekalian dalam (hal pembagian kpd) anak-anak kalian, bagi seorang laki-laki (menerima) semisal dua anak perempuan. Contoh perhitungan: jika bagian anak ada Rp.6.000.000,- maka bagi anak laki2 mendapat Rp.400.000,- sedangkan yang anak perempuan Rp.2.000.000,- 
Itu dikatakan aturan yang "adil" karena sesuai hukum yang diputuskan Alloh SWT, sekalipun manusia (yang elum/tidak ridho dengan hukum warisan) mengatakan kalau mau adil yang dibagi sama besarnya masing2 Rp.3.000.000,-. Itulah hukum warisan, semua sudah ada ketentuannya.

Dalam kenyataannya point yang ketiga yaitu " ilmu bagi warisan yang adil" juga sudah tersusun di dalam al-Quran dan Hadits. Jadi kalau kitab yang dikaji ada2 (dua) tetapi kewajiban menuntut ilmu ada 3 (tiga) yaitu ayat-ayat quran, tuntunan nabi dan ilmu warisan yang adil. Perlunya ditekankan bab warisan termasuk wajib dikaji karena boleh jadi seorang muslm baru sebatas mengkaji quran dan hadits tapi belum mengkaji sampai bab warisan, nah dalil ini rasanya sudah komplit sebagai " tadzkiroh" peringatan buat kita. 
Kesimpulan dari hadits di atas sesuai dengan judulnya , kita dapat dengan jelas manakah materi pokok atau "pakem" yang harus dipelajari bagi muslim wal muslimah dalam hal belajar mengkaji ilmu agama.

Semoga jelas, dapat dipahami, jika masih ada yng perlu ditanyakan jangan sungkan-sungkan menghubungi no HP, atau komentar blog, dll.

 Lampiran : Hikmah Nahwu Sharaf Bag.04

Pada postingan LPM no.4 sudah ditampilkan skema pembagian kalimat menurut jenisnya ada 3 ( tiga) , maka kali ini kita jelaskan lebih lanjut: 

I.  حَرْفٌ harfun / harf / huruf. 


Ialah kalimat yang tidak dapat dipahami secara utuh sebelum disambung dengan kalimat lain. Kalau menurut bhs.Indonesia harf  ini dikenal dengan kata penghubung atau kata tugas atau kata sambung. 
contoh harf إِنْ /in =jika, اَوْ / au= atau, إِذَا /idza=ketika, وَ /wa= dan,مِنَ /mina=dari, ثُمَّ /tsumma=kemudian. 

Huruf tidak memiliki tanda-tanda khusus seperti halnya isim dan fi'il. Untuk mengetahui huruf, dapat diperhatikan dari artinya.

II. فِعْلٌ fi'lun atau فِعِلْ fi'il atau الفعل al-fi'lu 


 yaitu kata yang menunjukkan arti kata kerja disertai dengan waktu, contoh يَقْرَأُ yaq'ro-u sedang membaca,  قَرَأَ qoro-a telah membaca, يَكْتُبُ yak-tubu sedang membaca, كَتَبَ kataba telah membaca.

Note:
  1. Fi'il dalam bahasa Indonesia dinamakan Kata Kerja atau dalam bhs.Inggris verb , setiap kata (dlms tata bahasa Arab) yang menunjukkan kata kerja.
  2. Dalam penggunaannya fi'il pasti menunjukkan waktu terjadinya suatu perbuatan apakah itu masa lampau, waktu yang akan datang atau sekarang/sedang berlangsung.
Untuk mengetahui bahwa suatu kalimah itu termasuk fi'il dapat dilihat dengan cara yang pertama melihat artinya, jika artinya berhubungan dgn kata kerja maka itulah kalimah fi'il. Kemudian cara yang kedua dengan melihat tanda-tandanya sebagai berikut:
  • Diawali lafadz قَدْ /qod = sungguh telah, contoh : قَدْ اَفْلَحَ /qod aflakha , maka aflakha adalah kalimah fi'il.
  • Diawali dengan huruf س /sin ; contoh : سَيَقُوْلُ  / sayaqulu = akan berkata (dia laki-laki), يَقُوْلُ yaqulu adalah kalimah fi'il . Untuk سَ /sa , pada sayaqulu , menunjukkan waktu yang dekat.
  • Diawali dengan huruf سَوْفَ  /saufa , contoh : سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ /saufa ta'lamun= akan mengerti kamu sekalian. تَعْلَمُوْنَ adalah kalimah fi'il. سَوْفَ saufa menunjukkan jangka waktu yang masih lama/panjang.
  • Diakhiri dengan ta ta'nis sakinah  تْ  ta mati yang menunjukkan jenis perempuan, contoh جَاءَتْ / ja-at =(telah) datang ,  قَالَتْ /qolat = (telah) berkata

III.    اِسْمٌ ismun/isim atau الإسْمٌ al-isim

  untuk Bagian III , insyaAlloh bersambung pada posting berikutnya

Kamis, 22 Oktober 2015

Pembahasan LPM Kajian No.4 : Melaksanakan Kewajiban













Klik immage di atas untuk memperjelas

Qola Sholallohu 'alaihi wa salam ut' lubul 'ilma walau bis-shin fa inna tolabal 'ilma fariidhotun 'ala kulli muslim innal malaikata tadho'u ijnikhataha ridhon bima yat'lubu

Bersabda (Rosulullohi ) SAW mencarilah (kamu sekalian) ilmu walaupun (sampai ) di negeri Cina, sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya (menghormati,melindungi) kepada orang yang mencari ilmu karena ridho dengan apa yang dia cari. Hadits Riwayat 'Abdul Bar

Hadits lain yang senada dengan tema di atas berbunyi " carilah ilmu walaupun diantaramu dan ilmu itu ada terbentang lautan api ". 

Pada hadits pertama, bahwa mencari ilmu itu wajib dalam artian keharusan atas suatu konsekuensi sebagai hamba yang sudah berikrar dirinya muslim , orang yang menyerah. Kewajiban atau keharusan itu juga terbatas kepada suatu komunitas muslim. Kalau bukan muslim menurut hadits di atas tidak terkena kewajiban menuntut ilmu. 

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi tiap muslim, dengan kata lain tiap-tiap orang Islam wajib mencari ilmu. 

Boleh jadi timbul pertanyaan, ilmu apakah yang wajib dicari itu ? Apakah orang tua yang tidak mampu membaca tulisan tetap terkena kewajiban menuntut ilmu pengetahuan umum, ilmu fisika, ilmu alam dll?
Nah tentu saja ilmu yang dimaksud di sini juga ada pembatasan masalahnya. 

Yang dimaksud harus dipelajari dan jika tidak dilaksanakan terkena sanksi adalah 3 (tiga) macam ilmu yaitu ayatun muhkamatun (Alquran) kemudian sunah yang tegak (tuntunan rosul yang tegak) dan ilmu faroidh (bagi waris yang adil) diuraikan dalam Hadits Riwayat  Abu Dawud dalam Kitab Faroidh.


Hadits Riwayat Abu Dawud tersebut memberikan kepada kita kejelasan mana saja ilmu yang wajib dicari. Jika tidak ada pembatasan maka betapa sulitnya aplikasi/penerapan hadits di atas. Karena tiap-tiap orang Islam itu kan juga terdiri berbagai lapisan masyarakat kelompok umur, dengan berbagai latar belakang kemampuan. 

Jika menuntut ilmu agama ( Quran, Hadits dan Faroidh) itu diwajibkan kepada tiap muslim, memang sudah sepatutnya. Cara beribadah yang sesuai dengan tuntunan Rosulullohi SAW , hukum2, perilaku budi pekerti semua memang sudah terangkum rapih dalam kitab pedoman Islam tersebut. Adapun mengenai pelaksanaan menuntut ilmu agama, manusia diperintahkan untuk saling membantu satu sama lainnya. 

Ok, lanjut.
Sesungguhnya para malaikat menghormati, ......seperti orang sedang berjalan di jalanan memakai topi, kemudian bertemu dengan org yang disegani maka dia akan bicara dan buka topi sebagai tanda hormat. Atau juga membentangkan sayap untuk melindungi org yang mencari ilmu agama, berada di jalan Alloh SWT.  

Pada hadits pertama dan ke-dua, bahwa meski ada kesulitan dalam mencari ilmu namun karena pentingnya ilmu teap didorong untuk mengerjakan. Dari Arab (Makah-Madinah) menuju Cina, bukan jarak yang pendek, terlebih waktu itu belum ada alat transportasi secanggih sekarang. Namun Rosululloh SAW tetap menyuruh berangkat. Sedang hadits ke-dua meski ada penghalang lauan api, bagaimana usaha kita agar berhasil sampai seberang untuk mendapatkan ilmu agama. Motivasi yang sangat kuat.

Terus bagaimana praktek kita mengkaji ilmu agama pada era canggih ini ?

" Sebaik-baik kalian adalah orang yang (paling) bermanfaat bagi sesama manusia ", termasuk dalam hal belajar ilmu agama, siapa yang dapat memberikan bantuan kemudahan, dialah juga yang mendapat peluang pahala besar di sisiNYA.



Saudaraku, hadits yang kita berikan arti per kata dan dan hadits yg kedua sebagai penunjang , sama2 kedudukannya untuk memberikan pesan rosul betapa pentingnya menuntut ilmu.

Program blog ini yang dikreasi untuk membantu sesama yang ingin belajar mengkaji ilmu Islam dengan dukungan kecanggihan internet , rasanya merupakan alat yang "memanjakan" Saudara menikmati kajian di rumah. 

Cukup dengan biaya akses internet yang relatif murah, meski dalam keterbatasan minimal Saudara sudah dapat melaksanakan kewajiban , menuntut ilmu.
Jangan sampai sudah tersedia berbagai alat pendukung kemudahan, namun kita kurang termotivasi karena lemahnya semangat " tolabul 'ilmi "


Lampiran : Hikmah Nahwu Sharaf Bag.03

POKOK - POKOK PEMBAHASAN
ILMU NAHWU DAN SHARAF


Dilihat dari bentuknya tulisan dala bahasa Arab ada 3 (tiga)
  • 1. Huruf ( حرف ) , adalah tulisan paling kecil , dalam bhs.Indonesia adalah buruf abjad, A,B,C,D dst
  • 2. Kata ( كلمة ) , kata adalah gabungan beberapa huruf dan mempunyai arti ( saya اَنَا , makan اَأْكُلُ , roti اَلْخُبْزَ ).
  • 3. Kalimat ( قَوْل , كَلَام ) merupakan gabungan beberapa kata yang mengandung makna lengkap. Kata pada point 2 digabung menjadi اَنَا اَأَكُلُ الْخُبْزَ saya makan roti. 

Dalam penerapannya lihat rinciannya di bawah ini.

Kalimat yaitu lafadzh yang mempunyai arti, baik satu huruf, dua huruf ataupun lebih. Kalau dalam Bahasa Indonesia, kalimat dalam bahasa Arab tadi disebut dengan "kata".
Sedangkan kalimat dalam bahasa Indonesia kalau bahasa Arabnya dinamakan jumlah mufidah atau kalam atau qoul.

Contoh "kalimah" dlm bhs Arab atau "kata"  dalam bhs.Indonesia
Kalimat, dalam referensi lain disebut "kalam"

مِنْ  (min) = dari 

يَقْرَأُ  (yaq ro'u) = membaca

اَلْبَيْتُ (al baitu) = rumah

يَكْتُبُ  (yaktubu) = menulis     

كِتَابٌ (kitabun) = kitab atau buku

إِلَى (ila) = ke 

وَ (wa) = dan

اُكْتُبْ  (uk tub) = tulislah      

PEMBAGIAN KALIMAT ( الكلمة )

Kalimat dalam Bahasa Arab dilihat dari jenisnya ada 3 macam



bersambung......