Jumat, 27 September 2013

Belajar Berkeluarga

Saling menghormati antara sesama anggota keluarga
Berkeluarga , kenapa perlu belajar?
Bagi Anda yang belum mengalami ya tentu saja belum dapat merasakan, apalagi cerita....he he.
Ya, berkeluarga disini maksudnya seorang yang yang sudah dewasa dan memiliki pasangan hidup, suami maupun istri.
Seorang yang berkeluarga diawali dengan suatu "ritual" berupa ijab qobul, istilah ini sering diperdengarkan di lingkungan KUA (Kantor Urusan Agama), benar2 merupakan tonggak sejarah kehidupan manusia.
Orang2 tua dalam hal bicara secara falsafah Orang Jawa sampai menyebut sebagai 3M (Metu=kelahiran, Manten=Pengantin, Mati). Tiga hal yang dianggap keramat sehingga mereka getol mengadakan acara2 untuk mendoakan ketika terjadi tiga peristiwa tersebut.
Mendoakan tentu saja berharap mendapatkan kebaikan , syukur2 diganjar pahala besar berupa kehidupan yang menyenangkan di akhirat kelak.

Apapun persepsi orang tentang 3 peristiwa tadi, yang namanya orang sudah berkeluarga, perlu dan harus terus belajar dan belajar, kenapa?
Tujuan dari berkeluarga tentu saja tidak sebatas melalui proses reproduksi manusia sebagai menjalani taqdir, namun perlu dipahami agar dalam menjalani di kehidupan sehari-hari , hikmah sebuah mahligai rumah tangga menjadi lebih berarti.
Belajar dan terus belajar, yang namanya dua hati yang disatukan dalam satu rumah tangga, satu tujuan bersama yaitu agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, bahagia, saling pengertian, saling asah asih dan asuh.
Kalau di antara dua insan tsb paham dan mengerti dalam hal fungsi dan tugas masing2 dilandasi semangat juang untuk mencari ridho Alloh SWT dalam pelaksanaan dalam rumah tangga maka insyaAlloh akan tercipta yang namanya sakinah mawadah wa rohmah. 
 
Belajar dan terus belajar, karena sepanjang perjalanan rumah tangga selalu menghadapi permasalahan yang selalu berbeda. Bagi rumah tangga yang mana masing2 pasangan tidak mengedepankan keutuhan rumah tangga maka seakan2 permasalahan seakan tiada habis-habisnya.

Ada tips, jika diterapkan oleh masing pasangan suami-istri insyaAlloh merupakan salah satu faktor penunjang terciptanya rumah tangga yang sakinah= tenang, mawadah = tercipta suasana saling sayang menyayangi , wa rohmah =dan mendapatkan kasih sayang dariNYa.

Sebagai insan saling menyadari bahwa manusia tiada yang sempurna. Jika suami suatu saat melihat dalam diri sang istri ada sesuatu yang tidak menyenangkan , maka lihatlah sisi kebaikan istri.
Demikian juga jika sang istri menemukan sesuatu hal yang tidak menyenangkan pada pribadi suami  , maka lihatlah sisi kebaikannya.
Langkah berikutnya saling ta'afuun = saling memaafkan , saling asah= saling memberi masukan yang baik untuk meningkatkan kebaikan masing2. Kemudian saling asih = saling mengasihi, yang mana pasangan hidup kita sudah diqodarkan oleh Alloh SWT untuk menjadi pendamping hidup dalam segalan suka dan duka.
Saling asuh, istilah Jawanya saling ngemong  atau momong, terminologi ini biasanya untuk istilah orang tua/dewasa yang momong /mengasuh anak kecil.
 Namanya mengasuh tentunya memberikan toleransi , karena suatu kondisi dan situasi tertentu yang diasuh dalam keadaan yang terbatas. Pihak yang mengasuh tetap dengan sabar , juka tersakiti juga tidak membalas, bahkan tetap memberikan bimbingan karena sedang mengasuh dan tentu punya niyat yang luhur agar suatu saat nanti yang diasuh dapat memahami.
Seorang suami/istri sebagai makhluk yang punya perasaan, suatu saat ada kalanya sedang tidak enak hati, mudah tersinggung karena lelag/banyak pikiran, maka sudah selayaknya pasangan lawannya memaklumi, memaafkan sehingga suasan damai tetap tercipta.

Belajar dan terus belajar, tidak perlu merasa malu untuk mengakui kekurangan diri.
Demi indahnya kehidupan berumahtangga, amin.

 

Minggu, 15 September 2013

Semua Umatku Masuk Surga Kecuali......

Kalau bicara surga tentu ingat juga neraka.
Ya dua kata yang konon sangat kontras perbedaannya.
Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori (sohih) , bahwa semua umatku akan masuk surga, namun ada perkecualian.
Catatan:Tentu saja secara mendasar bahwa orang yang pada akhirnya di akhirat masuk surga adalah org yang di dunia mengamalkan perintah Alloh SWT baik yang wajib maupun amalan yang sunah.
Ok, langsung kita lihat haditsnya yuk !


(Klik dalil di atas ya biar lebih jelas).
Semua umatku (sabda Nabi) mestinya merujuk kepada umat Islam, yang agama non muslim tentu saja bukan umatnya Nabi Muhammad SAW karena bukan Islam, akan masuk ke surga kecuali orang yang menolak.

Statement tersebut tentu memancing rasa penasaran para sohabat, masak ada orang yang menolak untuk masuk ke surga. Karena kalau tidak masuk surga ya pastinya masuk ke neraka, berhubung di sana hanya ada dua tempa.

Setelah sohabat bertanya siapakah yang menolak ? ternyata jawaban Rosulullohi SAW mengandungi makna yang demikian dalam.
Orang yang menentangku, termasuk orang yang tidak mengindahkan pesan dan petunjuk dari Rosulullohi SAW. Hal ini erat sekali kaitannya dengan hadits lain yang mengisaratkan  bahwa barang siapa yang taat kepadaku (nabi) maka sungguh dia taat kepada Alloh. Sedangkan kitab Al-Quran Surah Nisa (4) ayat 13 menyebutkan bahwa barang siapa taat kepada Alloh dan utusannya , maka Alloh akan memasukkannya ke dalam surga.
Sebaliknya orang yang menentang kepada ku (Nabi) berarti tergolong menentang kepada Alloh SWT, hal ini karena Nabi Muhammad adalah utusan Alloh untuk menyampaikan wahyu al-Quran yang telah diterima dari Malaikat Jibril, selanjutnya oleh Rosul disebarluaskan kepada segenap manusia.
Ayat 14 masih dalam Surah An-Nisa : "barang siapa yang menentang pada Alloh dan Rosulnya dan melanggar batas2/ketentuan Nya, maka Alloh masukkan orang itu ke dalam neraka".

Maka genaplah sudah sabda Rosul memperkuat firman Alloh SWT. Dari tulisan di atastersirat pengertian bahwa orang sampai masuk neraka di akhirat kelak pertanda orang tersebut memang tidak ada kemauan sendiri untuk masuk surga, dengan cara mengikuti tuntunan rosul ketika di duniaanya.