Senin, 10 Desember 2012

Tips Mengatur Waktu Ibadah


Saat on the way ke seorang rekan di Grabak pada tgl.5 kemarin untuk urusan PPOB (payment point online bank)…..ada sms ..ternyata dari seorang akhwat di Bogor , ….”Asalamualaikum wa rohmatullohi wa barokatuh, nyambung YM tadi, iya saya terlalu sibuk kerja sampai belum bisa ngaji lagi, Gimana ya caranya ? “

Rekan , pertanyaan ini bukan hal yg aneh . Kadang kita tersudutkan dalam dua hal yang dilematis. Kita dituntut untuk melakukan dua kepentingan dalam satu waktu yang bersamaan.
Ok, saya mau sitir sebuah hadits qudsi berkenaan dengan tema di atas.

Bismilah

ياَابْنِ اَدَمَ تَفرَّغ لِعِبَدَتِى اَمْلَأ صَدْرَكَ غِنًى وَاَسُدَّ فَقْرَكَ
 وَاِنْ لَمْ تَفْعَل مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا وَلَمْ اَشُدَّ فَقْرَكَ

Arti dari hadits itu : 
" Hai anak Adam , sempatkanlah beribadah padaku (Alloh) maka akan Aku penuhi dadamu dengan kaya dan Aku tutup rasa kefakiranmu, dan jika tidak kau kerjakan maka Aku penuhi dadamu dengan kesempitan dan tidak Aku tutupi kefakiranmu" 

Rekan2, hadist qudsi atau firman Alloh melalui lisan Rosulullohi SAW dan tidak termaktub dalam al-Quranul kariim tsb merupakan warning dari Alloh SWT kepada hambanya/anak Adam=manusia.

Pada dasarnya semua manusia berkeinginan mengenyam rasa bahagia.  Rasa bahagia itu sendiri kalau mau dicari variabel2 / faktor pendukungnya sepertinya tiada kata pasti, sifatnya hanya relatif saja.

Seorang yang hidupnya kelihatan pas-pasan, bekerja seadanya, makan sehari2 sederhana, namun kenyataanya bisa tersenyum ceria, tiada keluh kesah terucap. Kegiatan rohani/ibadah dapat lancar. 

Di sisi lain ada orang terlihat sebagai orang terpandang punya kedudukan di lembaga tempatnya bekerja, materi yang dimiliki rumah, mobil mewah, teman bergaulnya orang2 " the have" . Kehidupannya seakan tiada henti2nya dari kesibukan. Seperti tidak pernah istirahat. Keluh kesah akan keinginan yang belum tercapai. Dari wajahnya tidak mencerminkan org yang bahagia.

Nah, dari dua ilustrasi ini, menunjukkan bahwa kebendaan, kedudukan bukanlah satu2nya faktor penentu kebahagiaan seseorang. Kalau dipersempit mengutip kata-kata bijak "bahagia itu terletak pada hati" . InsyaAlloh anda setuju dengan statement itu, bukan?

Ok,
Sedangkan hati manusia itu yang mengkondisikan tiada lain hanya Alloh SWT yg Maha Kuasa atas segala sesuatu. Makanya ada doa " Allohumma ya muqolabi yanqolibu tsabit qolby 'ala dinika = Ya Alloh Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agamaMU".
 Tiada seorangpun yang tidak ingin merasakan kebahagiaan, namun toh apa yang didapatkan/yang dirasakan belum tentu sesuai dengan yang diharapkan.

Orang yang mempunyai persepsi bahwa dengan perolehan harta yang banyak melimpah akan mendapatkan kebahagiaan, sehingga sebagian besar waktu hidupnya dialokasikan untuk bekerja sampai-sampai urusan ibadah dinomorduakan. Maka dari hikmah hadits di atas akan mendapatkan hasil yang berkebalikan.
Alloh SWT justru akan membikinnya semakin sibuk, tidak punya kesempatan untuk menuntut ilmu agama atau kegiatan di jalan Alloh. Hatinya resah, rasa kekurangan selalu menguasai pikirannya.

Nah, dari hadits di atas dapat diambil semacam resep atau tips bahwa untuk mendapatkan suasana hati agar tenang, damai memiliki "rasa kaya" maka nomorsatukan urusan ibadah.
Atur waktu sebaik2nya, kalau perlu bikin jadwal. Tentu kalau urusan solat 5 waktu sudah dibuatkan jadwal oleh Alloh karena sholat adalah keawajiban bagi org iman yang diatur waktunya. Namun untuk kegiatan di jalan Alloh seperti mengkaji ilmu agama, menghadiri majelis ta'lim dsb hendaklah bikin jadwal. Satu minggu 2 kali atau 3 kali atau kurang lebihnya. Selalu beryukur atas pemberianNYA dengan menginfaqkan sebagian rejeki untuk di jalan (agama) Alloh.

Dengan demikian itu diharapkan Alloh berkenan membimbing, memberikan hidayah serta merodhoi hidup kita. Diberikan dapat mengenyam sedikit rasa bahagia sebagian kecil rohmat Alloh yang tiada terkira.

Yakinlah bahwa Alloh yang mengatur rejeki hambanya. 
semoga bermanfaat.


 







Sabtu, 24 November 2012

Apakah Al-Quran Itu ?

Arti kata Qur’an
Asal kata “Qur’an adalah Qoro’a berarti bacaan. Kata Qur’an berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru’ (dibaca).
Adapun definisi Al-Qur’an adalah : Kalam (firman) Alloh yang merupakan mukjizat dan diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir , membacanya adalah merupakan ibadah (perintah dalam agama)”
Al-Qur’an turun kepada Rosululloh SAW dengan berbagai macam cara / keadaan :
  1. Malaikat memasukkan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Dalam cara seperti ini Nabi Muhammad SAW tidak melihat suatu apapun, hanya merasakan bahwa wahyu sudah ada di dalam hatinya.
  1. Malaikat menampakkan dirinya dengan perwujudan seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata, sehingga Nabi Muhammad memahami dan hapal betul dengan apa yang dikatakan oleh malaikat tersebut.
  1. Wahyu datang kepada Rosululloh SAW ditandai dengan suara gemerincing sebagaimana bunyi lonceng. Cara seperti ini membuat Nabi Muhammad SAW merasakan berat sekali. Terkadang keningya berpeluh keringat, meskipun wahyu turun pada saat musim dingin. Apabila wahyu turun saat Nabi naik unta maka terkadang untanya terpaksa berhenti dan duduk karena beratnya saat dinaiki oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit : “ Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rosululloh SAW, aku lihat ketika wahyu turun kepada Nabi Muhammad SAW, maka beluau seakan–akan diserang demam yang berat dan keningnya bercucuran keringat laksana permata. Setelah selesai turunnya wahyu barulah beliau kembali seperti biasa”.
  1. Malaikat menampakkan diri kepada Rosululloh SAW benar-benar seperti rupanya yang asli sebagaimana tertuang dalam Al-Quran surat An-Najm (53) ayat 13 dan 14 “ Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada saat yang lain (kedua) ketika (ia berada) di sidrotul muntaha.
Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan dan 22 hari atau total 23 tahun. Di mana 13 tahun Nabi berada di Makah dan 10 tahun di Madinah.
Dengan turunnya Al-Qur’an secara bertahap tersebut mempunyai beberapa hikmah sebagaiberikut :
  1. Lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Manusia akan enggan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan apabila perintah dan larangan itu diturunkan dalam jumlah banyak dan dalam satu waktu sekaligus. Hal ini diungkap oleh Bukhori menurut riwayat ‘Aisyah RA.
  1. Dari sekian banyak ayat dalam keseluruhan Kitab Al-Qur’an terdapat beberapa ayat mansukh (yang diralat pelaksanaannya) dan ada ayat yang berfungsi sebagai nasikh / penggantinya. Suatu perkara (hukum) tertentu yang pada waktu awal terbentuknya Islam ,diperbolehkan (mengingat kondisi masyarakat), maka pada waktu berikutnya perkara tersebut diperingatkan dan sebelum ayat turun secara keseluruhan, akhirnya dilarang. Hal ini tidak akan terwujud apabila Al-Quran diturunkan dalam waktu sekaligus.
  1. Turunnya ayat al-Quran secara bertahap sesuai dengan peristiwa –peristiwa yang terjadi, dapat lebih memberikan kesan dan penghayatan di dalam hati.
  1. Dapat mempermudah dalam penghafalan. Hal ini merupakan jawaban Alloh SWT atas pertanyaan kaum musyrik mengapa Kitab Al-Quran tidak diturunkan secara sekaligus? . Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Furqon (25) ayat 32, : “ ….mengapakah Al-Quran tidak diturunkan kepadanya dalam waktu sekaligus?....kemudian terjawab dalam ayat itu pula “……demikianlah dengan cara begitu kami (Alloh) akan menetapkan (Quran) di dalam hatimu”……..
  1. Dari sekian jumlah ayat dari Al-Qur’an ada yang merupakan jawaban dari suatu pertanyaan atau penolakan atas suatu pendapat ataupun perbuatan.
Al-Quran merupakan penghubung antara makhluk dan penciptanya, sebagaimana sabda Rosulullohi SAW yang diriwayatkan oleh Tobroni :” alaisa tasyhaduna an laa ilaha il-la Alloh wa an-ni rosululloh ? qo lu bala . Qola in-na hadhal Qur’ana torofuhu bi yadillahi wa torofuhu bi aidikum fa tamas-saku bi hi fa in-nakum lan tadhil-lu wa lan tahliku ba’da hu abada”.
Artinya : Tidakkah engkau (sohabat) menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Alloh dan sesungguhnya akulah utusan Alloh? Mereka (para sohabat) berkata “ya”.
(Nabi meneruskan sabdanya) Sesungguhnya Qur’an ini satu ujung di tangan Alloh dan satu ujung di tangan kamu semua, untuk itu pegang teguhlah maka sesungguhnya kamu tidak akan tersesat dan tidak akan rusak setelah (selama) berpegang teguh itu”
Muskhaf / lembaran kertas atau bahan lain yang ditulisi firman Alloh yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang bentuknya kita sudah tidak asing lagi, ternyata memiliki pengertian yang demikian mendalam. Satu ujung Al-Quran (di sudut / sisi sebelah sana) berada di tangan Alloh dan satu ujung (sebelah sini) berada di tangan kita. Berarti Al-Qur’an ini berada ditengah di antara Alloh SWT dan kita manusia ciptaanNYA.
Beruntunglah manusia yang tergerak untuk membuka hatinya, mau berusaha mengerti dan memahami akan maksud firman / kalam / ucapan Alloh SWT yang terkandung di dalam Kitab Suci Al-Qur’an.
Alloh Maha Baik dan Maha Penyayang, banyak sekali peringatan ataupun nasihat yang apabila diperhatikan dengan seksama justru akan berakibat baik dan itulah wujud kasih sayang Alloh terhadap hambanya, seandanya hamba mau menyadari.
Al-Quran sebagai pedoman, petunjuk arah sepanjang perjalanan hidup manusia, apapun isyarat yang ada di dalamnya baik rambu-rambu amar (perintah) ataupun larangan kalau diikuti niscaya akan membawa kepada keberuntungan dan kebahagiaan hidup yang sejati di akhir nanti.
Maka berpegang teguhlah kepada Kitab Suci Al-Qur’an dengan cara belajar mendalami kandungan makna kata demi kata, ayat demi ayat, dan surat demi surat didasari rasa cinta kepada Alloh SWT, tekun dan sabar mengharap ridhoNYA.
Langkah berikutnya adalah meyakini dan mengamalkan apa yang sudah kita peroleh dari pengkajian sedapat yang kita mampu (Alloh SWT Maha Tahu akan kemampuan hamba), maka Rosululloh SAW menjamin kita tidak akan tersesat dan tidak akan rusak (menyimpang dari kebenaran) selamanya.
Sudah siapkah Saudara membuka hati untuk mulai menerima kandungan Al-Quran agar menjadi orang yang beruntung?
Sudahkah Saudara memiliki Al-Quran pribadi sebagaimana buku harian , sebagai ekspresi rasa cinta kepada Sang Penulisnya , Alloh SWT ?
Bagaimana pendapat Saudara, jangan lupa berikan komentar !

Jumat, 16 November 2012

Birrul Lil Walidaini Menurut Rosulullohi SAW


Birrul walidaini, بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ya, “tetembungan” / kata ini bukan asing ditelinga kita bukan?. Sering kita dengar saat seorang anak  atau ahli waris “nylameti” kepada orang tua yang sudah meninggal.
Birrul walidaini seakan mengandung hipnotis yang bermuatan doktrin, karena dikaitkan dengan acara ritual tahlil selama 3 hari (kadang masih ada yang 7 hari) setelah meninggalnya seseorang, kemudian hari ke 40, 100, nahun (satu tahun), dua tahun, juga nyewu (1000 hari), termasuk di dalamnya “nyadran” pada saat menjelang puasa Romadhon.
Termasuk doktrin , karena barang siapa tidak melakukannya atau tidak mengikuti masyarakat pada umunya maka akan dicap sebagai  anak yang tidak berbakti kepada orang tua, tidak birul walidaini. Keyakinan yang demikian dipegang teguh oleh kalangan masyarakat yang kolot/ortodok , sempit wawasan serta ilmu pengetahuan agamanya serta tertutup pemikirannya untuk menerima perubahan kearah kemajuan.  

Namun benarkah demikian birrul walidaini menurut aslinya ajaran Islam ?

Rekan2 , sebagai umat muslim tentunya dituntut untuk berpikir, bersikap dan bertindak mengikuti tuntunan Rosulillahi SAW. Karena memang demikianlah perintah “ingkang akaryo jagad” dalam Kitab Suci al-Quran Surah Ali Imron (3); 30 sebagaimana postingan saya di atas , artinya 

“ Katakanlah (hai Muhammad) , jika kalian cinta pada Alloh maka ikutilah aku, (dengan begitu) maka Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa jika kita menginginkan mendapat kasih sayang /rohmat Alloh maka caranya adalah dengan mengikuti tuntunan dan petunjuk Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Alloh untuk kita ambil suri tauladannya.

Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa kalau seorang hamba dalam hidupnya , pandangan, sikap dan amalannya mengikuti tuntunan rosulillahi SAW maka dengan sendirinya dosa2nya akan diampuni oleh Alloh. 

Termasuk usaha untuk berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidaini) sebagai balas budi akan kebaikan orang tua semasa si anak masih kecil, maka hendaknya niyat yang sangat mulia tersebut juga mengikuti tuntunan rosulullohi SAW yang benar-benar sesuai dengan sumber data dan fakta yang otentik menurut kitab al-Quran dan Hadits, dengan dalil di atas kertas putih.

Sudah jelas bahwa doa kita kepada kedua orang tua adalah “ robighfir li wa li walidaya warham huma kama robbayani soghiro”, namun bagaimana amalan pendukung lainnya (cak-cakane)?

Apakah ada dalilnya bahwa jika seseorang anak melakukan suatu amalan kemudian orang tuanya mendapatkan sesuatu ? (dengan catatan : syaratnya ada bukti dalil dari ayat berapa atau hadits apa?).
Baik, mari kita lihat dalil sebagai berikut, (Hadist Abu Dawud , silahkan bisa dibeli di toko kitab atau pinjam untuk difotocopy).




“Barang siapa membaca al-Quran dan mengamalkan dengan apa2 yang di dalamnya, maka kedua orang tuanya diberi mahkota (kuluk) yang bersinar pada hari kiyamat, yang mana sinarnya lebih indah daripada terang sinarnya matahari di rumah dunia, lalu bagaimana persangkaan kalian terhadap orang yang mengamalkan sendiri ?”.

Kenapa orang tuanya diberi mahkota ?

Karena orang tua lah yang mendidik anaknya mempelajari agama yang benar dengan cara menuntun bacaan al-Quran memahami makna dan mengamalkannya, atau paling tidak ketika anaknya belajar dari orang lain, orang tuanya mendukung, memberikan restunya, tidak menghalangi. Sehingga orang tuanya ikut berjasa dalam pembentukan dasar aqidah anaknya sesuai syariat al-Quran dan Sunah (Hadits).

Orang tua yang diberi mahkota tentu saja terangkat derajatnya, tentu saja dengan syarat orang tuanya juga satu syariat / aqidah dengan anaknya yaitu “mengimani” kitabilah wa sunati nabi SAW. Sama2 mengkaji , membaca quran dan mengamalkan isinya. Mengaji hanya dengan membaca saja meski khatam beberapa kali kalau tidak mengerti maksudnya maka tidak akan dapat mengamalkan perintah dan menjauhi larangan yang mestinya ditetapi.
Itulah cara birrul walidaini menurut tuntunan rosul yang jelas benar dan cocok dengan dasar pedoman agama Islam yaitu Quran dan Sunah/hadits  dan berhasil jika diyakini dan diamalkan.
Rekan2, lalu bagaimana sikap kita dengan ide birrul walidaini dengan “cak-cakan” nya seperti yang disebut di awal tulisan ini?  Bagaimana pula hukum amalan tersebut menurut kacamata syariat agama bersumber kepada quran hadits?

Sejauh ini penulis belum mendapatkan sumber yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan mengenai dasar dari al-Quran maupun Hadits tentang amalan “nylameti” seperti di atas. Silahkan barangkali ada rekan yang mau bertanya kepada ahlinya amalan tersebut.
Beberapa kalangan berpendapat bahwa yang namanya berdoa itu kan baik toh yang dibaca kalimat dzikir, takbir (Allohu akbar), tasbih (subhanalloh) , tahlil (laa ilaha illalloh) dsb. Namun hitungan 3/7 hari , 40, 100 dst , siapa yang menentukan aturan itu? Juga hitungan jumlah tahlil serta urut2 an nya kalau memang betul2 tuntunan nabi pasti terdapat dalam Kitab Suci al-Quran atau dalam Hadits Sohih.

Perlu diingat rekan2,
bahwa amalan ibadah yang dilakukan manusia sedangkan rosul tidak mengajarkan maka itu tergolong bid’ah, sekalipun sudah membudaya dan mengakar kuat di masyarakat menjadi semacam mitos, tradisi secara turun temurun.
Karena tuntunan ibadah untuk mendapatkan pahala, meminta ampunan semua sudah diberikan petunjuk yang komplit, baku dan “ pakem “ oleh Alloh dalam al-Quran dan dicontohkan oleh Rosulullohi SAW.

Orang berbuat bid’ah atau mengada-ada kan amalan yang tidak dicontohkan oleh nabi maka akan mengakibatkan amalan orang itu tidak akan diterima oleh Alloh SWT.
Pada prinsipnya kita tetap berusaha menjaga diri dan keluarga dari api neraka sebagaimana yang diamanahkan dalam Quran Surah at-Tahrim ;6, namun kita juga harus pandai-pandai menjaga diri agar selamat di dunia dan akhirat. Cara seperti ini berarti kita terapkan habluminalloh (hubungan dengan Alloh) juga hablumina nas (hubungan dengan sesame manusia).

Paling penting adalah menjaga niyat dan batin kita masing2. Kalau terpaksa mendatangi acara ritual tersebut ya kita niyati saja untuk menjaga kerukunan, ngemong masyarakat atau momong keluarga.
Dengan begitu mereka yang mengundang kita tetap senang, merasa “praja” karena banyak tamu yg datang, sedangkan kita tetap terjaga. Mari kita sayangi jaga amal kita jangan sampai rusak dan ditolak di akhirat gara2 kita ikut2an mengamalkan gerakan yang seperti ibadah namun sebenarnya di dalamnya terkandung bid’ah bahkan syirik…..na’udzu billah min dzalik.
Semoga Alloh memberikan manfaat.

Tentang Penyebab Rusaknya Amalan Seseorang dan akibatnya kelak di padang mahsyar diusir dari telaga Kautsar tidak diperkenankan mendekat, artikel mengenai hal ini insyaAlloh akan ditulis pada pertemuan yang akan datang.