Sabtu, 19 Februari 2011

Inilah 3 Penyebab Malaikat (Rohmat) Tidak Masuk ke Rumah !


Sabda Nabi Muhammad SAW " Tidak masuk (siapa) malaikat ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing, gambar timbul, dan orang yang junub".

Catatan : kata siapa dalam kurung merupakan kata sambung atau kata bantu bahwa kata berikutnya adalah pelaku /subyek atau "isim fail ".

Keterangan , Malaikat yang tidak masuk ke dalam rumah adalah malaikat kebaikan yang menebarkan rohmat. Bukannya malaikat maut, kalau malaikat yang satu ini tidak peduli bagaimanapun dan di manapun seorang hamba kalau sudah habis batas umurnya maka akan didatangi dan dicabut nyawanya.

Anjing, cukup jelas. Dikisahkan ketika Malaikat Jibril akan menemui Nabi Muhammad SAW, setelah sampai rumah Nabi ternyata Malaikat tidak mau mendekat. Setelah Nabi bertanya ternyata malaikat menjawab bahwa di rumah /depan pintu ada seekor anjing.
Memelihara anjing bagi seorang mu'min adalah banyak mudhorotnya karena najisnya termasuk najis berat.

Kemudian penjelasan gambar timbul adalah gambar yang menyerupai makhluk hidup yang bernyawa, dan gambar itu dapat diraba. Relief termasuk, terlebih patung. Beda kalau hewan asli buatan Alloh yang dikeringkan dibikin sebagai hiasan misalnya, itu "laa ba'sa" tidaklah bahaya.

Sedangkan Orang Junub maksudnya orang yang menanggung keadaan yang mewajibkan mandi junub namun belum melaksanakan mandi junub secara benar atau sudah melaksanakan mandi junub namun belum sah karena tidak /belum sesuai dengan petunjuk Rosulullohi SAW.
Keadaan yang mewajibkan manji junub atau janabat antara lain seorang yang mimpi atau tidak lalu keluar sperma/mani, suami dan istri yang selesai dari berhubungan badan (jima'), seorang yang habis memandikan jenazah, atau kaum wanita yang selesai /telah selesai dari haidh/menstruasi.

Mengingat pentingnya dalil di atas maka perlu diperhatikan betul2 agar malaikat kebaikan tetap sudi masuk ke dalam rumah , agar rumah kita menjadi damai, bersinar dan barokah.


Senin, 14 Februari 2011

Demi Kebaikan, Bolehkah Berbohong ?

Melalui Forum Interaktif Belajar Islam di Madrasahonline.net
Saudara Azmi Desatrio menulis sbb :

Assalamu'alaikum wr wb

Bagaimana hukumannya berbohong tapi demi kebaikan?

Untuk membahas pertanyaan di atas dalil yang relevan di bawah ini



'An Asma' binti Yazida qolat qola Rosulullohi SAW laa yakhilul kadhibu il-la fii tsalatsin, yukhaditsu rojulu imroatahu liyurdhiyaha wal kadhiba fil kharbi wal kadhiba liyushliha baina nas.

Ok langsung kita artikan kata per kata dari hadits itu,

Dari Asma' binti Yazid, dia berkata (bahwa) Rosulullohi SAW bersabda tidak halal berbohong kecuali dalam 3 perkara, yaitu seorang laki2 (suami) berbohong kepada istrinya (bertujuan) untuk menyenangkan istrinya, berbohong dalam peperangan dan berbohong untuk mendamaikan sesama manusia.

Jadi begini, pada dasarnya berbohong/dusta atau berucap pada sesuatu tetapi tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya adalah perbuatan dosa dan dilarang dalam agama Islam, namun dalam urusan tertentu berbohong menjadi diperbolehkan bahkan dalam keadaan darurat sangat diperlukan dan harus "berbohong".

Seorang suami yang dibelikan baju oleh istrinya, dalam hati kecilnya tidak suka dengan baju itu, namun untuk menyenangkan istri dia jadi berbohong. Ketika ditanya " mas ini aku belikan baju buat suamiku tersayang, dipake ya...." lantas baju itu dipakai. Bahkan sering kali dipakai. Ditanya lagi sama istrinya " wah bajunya dipake terus ya mas..." dijawabnya " Terimakasih ya mah, aku suka sekali sama baju ini" dengan penuh semangat.
Padahal kenyataan dalam hati kecil " uh baju apaan ini , aku gak selera biar aja aku pakai terus supaya cepat rusak dan gak layak pakai lagi".
Nah itu kan bohong tapi hasilnya baik, istri jadi bangga. Coba kalau dari pertama suaminya jujur....wah bisa2 istrinya jadi mogok gak mau masak.....berabe.

Kemudian saat dalam peperangan seseorang berhasil ketangkap sama musuh lalu diinterograsi " di mana markasmu" dia jawab " saya tidak tahu" . Itu juga bohong. Tapi tujuannya baik yaitu menyelamatkan pasukannya yang jumlahnya banyak. Dia tetap berbohong sekalipun disiksa hingga dibunuh, prinsipnya biar aku disiksa hingga mati yang penting pasukanku selamat. Ya, kalau jujur maka dalam waktu tidak lama seluruh pasukan dengan segala perlengkapan akan dibinasakan musuh.
Bohong dalam perang adalah strategi supaya dapat mempertahankan diri atau menang.

Lalu berbohong untuk mendamaikan antara sesama manusia yang sedang berseteru, itu juga boleh.
Biasa seorang yang sedang tidak suka pada orang lain, dia akan mencari partner untuk memperkuat posisinya, dan merongrong lawan seterunya.
Bagaimana melihat antara sesama saudara beriman yang sedang berseteru , tentu saja tidak nyaman dan berusaha bagaimana biar antara mereka dapat ishlah / berdamai kembali.
Si rojul (seorang yang akrab dengan kedua orang yang berseteru ) ditanya sama Suto " gimana si Noyo menurutmu ? benerkan omonganku, dia tuh orangnya licik dan apa yang kau dengar darinya saat membicarakanku? " Nah si rojul ambil inisiatif untuk -berbohong- " ah tidak kok, tadinya memang dia begitu tapi sekarang dia berubah, sepertinya dia sudah sadar dan kemarin saat ketemu saya, dia berkirim salam buatmu ".
Karena itikad baik dari rojul tadi Si Suto pun jadi sadar juga, secara bertahap mereka mau menyadari kesalahannya dan saling memaafkan hingga berdamai kembali.
Itu juga boleh, justru kalau dilihat usahanya si rojul bahkan mendapatkan pahala karena telah berjasa mendampaikan diantara dua orang iman yang memangnya harus bersaudara.

Ok, jadi intinya berbohong demi kebaikan itu boleh. Tentu saja kebaikan itu ukurannya dilihat dari hasil akibat terakhir dari proses bohon itu. Si istri jadi tetap bangga dan setia kepada suami, pasukan perang dapat selamat bahkan menang dalam peperangan, dan dua orang yang tadinya berseteru menjadi damai kembali.

Catatan: seandainya memungkinkan , paparan dalil yang masih belum diartikan harap diprint out. Silahkan mempraktekkan mengartikan kata demi kata dengan cara menyontek dalil yang bagian bawah sudah ada artinya.
Simpan baik-2 sebagai ilmu simpanan yang tidak mungkin dicuri.

Ada ketidakjelasan dalam apapun hal, jangan sungkan2 layangkan pertanyaan ke dalam kolom komentar.


TTD
Hari Wuryanto, S.Pd
085868841535/082138073697










Senin, 07 Februari 2011

Bagaimana Cara Talqin dan Bolehkah Ziarah Kubur ?

Pada 4 Februari lalu Saudara Fadhli Abda melemparkan pertanyaan melalui Forum Interktif Belajar Islam.....

assalamu'alaikum...wr.....wb.
pak hari ini ada 2 pertanyaan berhubung masalah talkin manyit, bisakah ustad menjelaskanya dan adakah dalilnya
yang ke 2.masalah ziarah kubur karna ada faham yang mengharamkan ziarah kubur
alasan mereka nabi tidk melakukannya dan ada juga yang membolehkannya
mohon ustd jelaskan secara detail beserta dalailnya.

Baik !, kita akan bahas satu per satu, untuk membahas soalan ini saya sudah siapkan "jurus" dalilnya berikut ini

I. Bab Talqin

(Klik untuk melihat tampilan lebih besar)

Untuk mengetahui pengertiannya kita artikan kata demi kata,

Keterangan dari hadits di atas bahwa, sabda Rosulullohi SAW menyerukan kepada kita semua agar men-talqin , istilah mengajarkan atau menuntun kepada orang yang akan hampir meninggal dunia agar mengikuti membaca kalimah tahlil " laa ilaha il-laAlloh" tiada sesembahan kecuali Alloh.

Seorang yang mendekati saat meninggal dunia boleh jadi tidak dapt berpikir secara jernih lagi, perasaan takut dapat menyebabkan orang menjadi lupa perkara yang penting. Dengan dituntun diharapkan dapat mudah dan lancar membaca kalimah "dhikrulloh" . Sebuah hadits riwayat Abu Dawud menurut penuturan sohabat Muadz bin Jabal, Rosul bersabda bahwa barang siapa yang
akhir ucapannya " laa ilaha il-lalloh" maka dia masuk surga.
Tentu saja jangan justru hal ini menjadi ketergantungan bahwa untuk dapat masuk surga cukup dengan mengandalkan ucapan di akhir hayat. Adalah langkah yang bijaksana manakala dari sekarang juga kita segera berserah diri untuk mendekatkan diri kepada Ilahi, belajar dan mengindahkan apa yang menjadi kehendakNYA dalan Kitab suci al-Quran.
Kemampuan seseorang di akhir hayat berucap tahlil juga boleh jadi merupakan pemberian dari Alloh atas amal selama hidupnya agar makin menyempurnakan nikmat Alloh kepada hamba yang dicintainya.


II.Bab Ziarah Kubur

ok , yuk langsung kita artikan

Keterangan :
Sungguh saya telah melarang kamu jika pergi ke kuburan, (namun sekarang) sungguh telah diidzinkan (oleh Alloh) bagi Muhammad untuk ziarah ke kubur ibunya, maka berziarahlah kalian ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akhirat.

Pada awalnya memang Rosulullohi SAW melarang umatnya ziarah (pergi) ke kuburan karena dikawatirkan tercampuri dengan pemikiran2 jahiliyah kaum musyrikin, yang "mengeramatkan" roh kakek nenek moyang yang sudah meninggal dunia.
Karena perbuatan menganggap roh arwah orang yang mempunyai kelebihan , mampu sebagai "washilah" atau perantara terkabulnya doa adalah jelas perbuatan menyekutukan Alloh (syirik) dan bakal menuai dosa berat di akhirat.
Namun akhirnya pada masa berikutnya Rosululloh SAW diperbolehkan oleh Alloh untuk ziarah ke kubur ibunya, dengan tujuan untuk mengingatkan akan kematian. Bahwa ternyata saudara-saudara kita sudah ditanam di dalam areal pekuburan, suatu saat pasti kita juga akan menyusulnya.

Setiap saat kita mendengar berita meninggalnya seseorng, atau saat kita ta'ziyah/melayat maka rasanya kita ini juga dekat dengan kematian. Suhu iman tiba-tiba melonjak naik. Nah betapa baiknya manakala suhu iman ini dijaga agar tetap dalam keadaan tinggi dengan cara sengaja mendatangi kuburan, syukur dapat bertafakur (berpikir /merenung) kapan saya bakal mengalami nasib sama , dimandikan, digotong lalu ditinggal sendirian di kamar yang sempit lagi gelap menunggu eksekusi dua malaikat. Sensasi alam kubur segera menjemput.

Jadi teman-teman, dan special Saudara penanya Mas Fadhli Abda , demikian yang dapat saya sampaikan.
Semoga bermanfaat, jangan lupa , jika ada yang belum jelas, apakah penampakan dalil sudah dapat jelas dibaca? atau bagaimana , nah silahkan tinggalkan komentar.

Rabu, 02 Februari 2011

Tips: Menghindarkan Penyesalan Besar

Masih melanjutkan posting yang lalu, kita bahas pertanyaan seputar " Penyampai Ilmu Agama yang Tidak Mengamalkan " berikut saya tampilkan dalil dengan tema terkait

dan di bawah ini arti kata demi kata dari hadits riwayat Ibnu 'Asakir tersebut

Rangkaian artinya :
" Paling beratnya manusia penyesalan di hari kiyamat adalah seorang sebenarnya memungkinkan baginya mencari ilmu (mengkaji ilmu agama) di dunia tetapi dia tidak mencarinya, dan seorang yang mengajarkan ilmu agama tetapi orang yang diajarkan mengambil manfaat (dengan mengamalkan) selain yang mengajarkan".


Ilmu pengetahuan adalah pembuka wawasan cakrawala seseorang. Dengannya manusia dapat mewujudkan aktualisasi diri, mengembangkan dan meningkatkan taraf hidup.

Menurut terminologi (istilah dalam pemahaman) agama yang sudah terperikan dalam kitab suci Al-Quran dan Al-Hadits, ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua menurut tujuannya. Yaitu ilmu pengetauan umum untuk tujuan keberhasilan di dunia, dan ilmu agama demi kesuksesan di kehidupan akhirat ( setelah kehancuran kehidupan dunia).

Seorang yang tidak memiliki atau minim ilmu pengetahuan umum maka hidupnya akan terbelakang. Karena untuk segala sisi kehidupan seperti dunia kerja, baik sektor formal maupun informal pasti dituntut suatu kecapakan khusus (skill) , sedangkan kecakapan adalah perwujudan praktek dari ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Sama halnya dengan urusan agama, bagi yang tidak memiliki pengetahuan ilmu yang memadai maka dapat dipastikan tidak dapat mengamalkan (pekerjaan untuk akhirat) perintah Sang Pencipta yang sudah di"paten"kan rapih dalam Kitab al-Quran.

Sesuai dengan matan (isi) hadits di atas, orang yang hidup di dunia sebenarnya ada kesempatan tetapi tidak mau menggunakan sebaik-baiknya untuk mengkaji al-Quran dan Hadist maka dipastikan bakal menyesal dengan seberat-beratnya menyesal di akhirat. Karena penyesalannya tidak akan lagi berarti apa-apa, sudah terlanjur di alam akhirat. Makin disesali makin menambah penderitaan.

Saudaraku, jaman sekarang dimana segala macam fasilitas sudah tersedia, berbagai sumber informasi makin melengkapi nafas kehidupan kita, rugi sekali rasanya sampai tidak dapat menyisakan waktu dan perhatian untuk perencanaan kehidupan setelah kematian.

Sedangkan golongan kedua yang bakal menanggung penyesalan yang sangat besar manakala seorang yang memiliki ilmu pengetahuan agama, dia mengajarkan kepada orang lain. Namun sayang ilmu agama yang diajarkan itu hanya berguna bagi yang diajarkan karena mau mengamalkan, sedangkan yang mengajarkan justru tidak mengamalkan sendiri.

Seabreg ijazah sebagai simbol banyaknya ilmu pengetahuan dunia, tentu saja pemiliknya tidak akan mendapatkan gaji manakala tidak mau bekerja mengaplikasikan ilmu pengetahuannya itu.
Demikian juga ilmu al-Quran dan Hadits , tidak cukup sebagai bahan bacaan pelengkap ritual peribadatan, namun perlu dan "wajib 'ain" bagi tip individu muslim mengerti maksudnya dan mengamalkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel Terkait

۞

Meningkatkan Kesadaran dan Pemahaman Hidup di Dunia


۞

Barang Berharga yang DIGRATISKAN