Jumat, 23 Desember 2011

MANFAAT MENGAJI #1 : Pemberian Terbaik


Hadits di atas kalau dibaca secara bersambung bunyinya " ni'mal 'atuyatu kalimatu haqin tasma'uha tsuma takhmuliha ila akhin laka muslim fa tu'alimuha iyyahu" artinya sebaik2 pemberian adalah kalimat haq yang kau dengarkan kemudian kau bawa kepada saudaramu yang muslim maka engkau ajarkan kalimat itu kepadanya.

Namanya pemberian , siapa yang tidak senang ? apalagi gratis ...he he
Disebut sebaik2 pemberian tentu saja dilihat dari besarnya manfaat pemberian itu.

Kalau orang dikasih pekerjaan yang mapan, dikasih uang, mobil, seluas bidang tanah ya tentu saja senang dan gembira bukan?

Tapi ingat kawan, semua pemberian tadi sifatnya hanya dinikmati dan diambil manfaatnya selama di dunia, sedang kalau diberi "kalimat haq" berupa ilmu dan pengertian /hikmah yang terkandung dalam Kitab Suci al-Quran dan Kitab Sunah(hadits) maka akan bermanfaat dan dinikmati tidak hanya di dunia namun juga hingga di akhirat kelak.

Ilmu agama memberikan pemiliknya diberikan kedamaina dan ketentraman dari Alloh SWT, punya wawasan yang luas menjangkau hingga kehidupan setelah kematian kelak, sehingga dapat bersiap-siap sedini mungkin mengantisipasi hal-hal uang bakal terjadi.

Kemudian kalimat "yang kau dengarkan dan kau bawa kalimat itu" mengandung pengertian bahwa metode pengambilan dan penyebaran ilmu agama sejak masa hidup Rosulillahi SAW melalui pendengaran atau istilahnya "berguru" langsung kepada nara sumber.
Orang yang sudah mendengarkan pertama kali kemudian agar menyampaikan kepada saudara yang lain.

Minggu, 14 Agustus 2011

Apa Pedoman / Dasar Agama Islam ?

Asalamualaikum wa rohmatullohi wa barokatuh,
judul posting kajian kali ini saya kutip sebuah hadits sabda Rosulkullohi SAW :



Untuk memperbesar silahkan diklik , untuk kepentingan dokumen Anda, silahkan print out.

Kembali pada pertanyaan di bagian judul posting kali ini, hadits ini sebagai jawabannya.
Bahwa berdasarkan sabda Rosululloh tsb pedoman /dasar Agama Islam adalah Kitab Suci Al-Quran dan Kitab Sunah (tuntunan) Nabi Muhammad SAW atau istilahnya kitab Hadits.








Minggu, 31 Juli 2011

4 Alasan Utama Orang Datang ke Majelis Ta’lim


Kata serapan atau kata yang sudah lazim didengar dan diucapkan oleh masyarakat serta dimengerti maksudnya, “ majelis ta’lim “ berasal dari Bahasa Arab. Majelis dari asal kata dasar (fi’il madzi) jalasa = duduk => majelis = tempat duduk, sedangkan ta’lim asalnya alama = ta’al-lama = belajar. Sehingga maksud secara lengkapnya kurang lebih adalah tempat duduk bersama dalam rangka proses belajar dan mengajar ilmu agama atau istilah singkatnya “tempat pengajian”.

Karena banyaknya manfaat majelis ta’lim di balik berbagai kegiatan yang ada di dalamnya , maka hingga kini majelis ta’lim masih menjadi idola bagi masyarakat yang haus akan ilmu agama sebagai penerang jalan kehidupan.

Dari aspek tujuan pembelajaran, maka majelis ta’lim diibaratkan sekolahnya orang calon sukses akhirat” sedangkan pembelajaran umum di SD, SLTP, SLTA adalah “ sekolah orang calon sukses dunia .

Meskipun bentuk kegiatannya bersifat jama’ atau dikerjakan secara bersama-sama, namun dalam kenyataan pelaksanaanya boleh jadi dilaksanakan di masjid-masjid, mushola, rumah perorangan, bahkan tidak menutup kemungkinan dilaksanakan di alam terbuka.

Alhamndulillah kegiatan mengaji di tempat pengajian kami yang berlokasi di masjid an-Nur , sudah berusia 16 tahun hingga saat posting tulisan ini.

Dari tahun ke tahun jumlah peserta / jamaah majelis ta’lim kian bertambah jumlahnya.

Apa saja factor-faktor pendukung yang membuat mereka para jamaah selalu ketagihan mengikuti pengajian, sehingga tetap lestari hingga sekarang ?

Inilah , 4 Alasan Utama Orang Datang ke Majelis Ta’lim


>

1

Majelis ta’lim sebagai pusat pembelajaran ilmu agama Islam ibarat sumber mata air yang tiada habis-habisnya ditimba sebagai penyejuk jiwa, penyeimbang kehidupan. Para peserta pendapatkan siraman rohani. Pemahaman yang benar dari dasar ilmu agama Islam yaitu Al-Quran dan Al-Hadits para jamaah pengajian memiliki pandangan hidup yang jauh ke depan sehingga memiliki sikap positif dalam mengarungi kehidupan dunia yang sebentar ini.


>

2

Setiap kali pulang dari majelis ta’lim, para jamaah pengajian mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan agama yang berkesan di dalam hati sanubari sebagai bekal dalam memenuhi tugas melaksanakan ibadah, langkah hidupnya terasa ringan diterangi cahaya iman yang terang benderang.


>

3

Dengan metode pembelajaran yang “face to face” memudahkan para peserta pengajian dalam memahami suatu keterangan dari kajian Al-Quran dan Al-Hadits , dan apabila ditemukan suatu kejanggalan , masing-masing peserta mendapat kebebasan untuk mengajukan pertanyaan dan langsung ditanggapi. Inilah yang membuat mereka merasa puas dan mempertebal keyakinan.


>

4

Karena seringnya bertemu dalam suatu kegiatan, maka hubungan antar sesama jamaah menjadi semakin akrab, dimana-mana banyak teman dan tumbuh rasa persaudaraan. Amalan ibadah yang tadinya terasa berat karena banyak temannya maka menjadi terasa ringan.

Itulah diantara alasan yang membikin mereka lestari dan selalu hadir mengikuti pengajian di Majelis Ta’lim Bina Nurani Istiqomah yang dilaksanakan dua kali dalam satu pekan hari Senin dan Jumat, kecuali bagi jamaah yang sedang ada udzur mereka titip ijin kepada peserta lain yang hadir, atau menyampaikan langsung ke ta’mir.

Bagaimana tanggapan Saudara, silahkan ajukan usulan, comment dll.

Minggu, 10 Juli 2011

8 System Pembelajaran Dalam Islam


System pembelajaran dalam Islam dari tahun ke tahun semenjak masa hidup Rosulullohi SAW hingga era globalisasi sekarang ini kian menunjukkan pengembangan dalam hal model penyampaian ilmu dari guru kepada murid, apa saja , langsung mari semak bersama.

(1) As sama' : Guru membaca , murid mendengarkan (digunakan pada periode awal sahabat).

Cara ini paling direkomendasikan karena cara inilah yang rosululloh contohkan kepada para sohabat. Sebagaimana pesan Rosulullohi SAW “Kamu semua mendengarkan, kemudian didengar dari kamu dan kemudian didengar dari orang yang mendengarkan padamu”

Dengan metode mendengarkan, berarti antara guru dan murid berada dalam satu majelis, sehingga terjadi interaksi. Pemindahan ilmu dan pengertian sangat efektif, karena ketika murid tidak atau belum jelas tentang suatu pengertian maka dapat langsung bertanya sehingga menambah pemantapan dan keyakinan. Gerakan dalam memberikan penjelasan dapat lebih memperjelas pemahaman terlebih praktek gerakan ibadah seperti sholat, wudhu dll.


(2) 'Ard/Qiroah : Murid membacakan pada guru (kemudian mulai umum digunakan setelah assama')

Jumhur Ulama salaf (sahabat/tabiin) menyebutkan cara yang pertama lebih utama dibanding cara yang kedua, namun ada ulama setelah tabiut tabi'in yang menyebutkan bahwa kedua cara tersebut mempunyai nilai yang sama, antara lain Imam Thahawi (wafat 328 H) yang menuliskan dalam sebuah kitab tentang kesejajaran kedua metode tersebut. (Azamy hal. 45)

Cara yang demikian dilakukan manakala muridnya sudah lancar membaca kitab dan mempunyai pemahaman yang mendasar.

(3) Ijazah : mengizinkan seseorang untuk meriwayatkan hadits/kitab berdasarkan otoritas/wewenang (ulama yg punya kitab) tanpa dibacakan (muncul setelah abad ke 3, misal si A mengizinkan B menyampaikan sahih Bukhori maka B harus menemukan/ memakai salinan sahih Bukhori yang berisi sertifikat yang memuat nama si A).

Contoh : Jaman sekarang dilakukan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (wafat 1420 H / 1999 M) mendapatkan otoritas utk menyampaikan hadits berdasarkan Ijazah dari gurunya yaitu Allamah Shaykh Muhammad Raghib at-Tabaagh, dan tidak mendapatkan ilmu haditsnya dari baca-baca buku sendiri. Dikatakan juga di tulisan ini bahwa sekarang Ijazah (otoritas) penyampaian telah diserahkan Syeikh Albani kepada Syeikh Ali Hasan, dan ilmu hadits Syeikh Albani telah dites oleh Dr Azami.


(4) Munawalah : menyerahkan pada murid kitab/hadits. (misal Az Zuhri wafat 125 H menyerahkan kitabnya pada ulama-ulama), Ini riwayatku dari fulan, maka riwayatkanlah dariku maka kitab itu dibiarkannya padanya untuk dimiliki atau disalin.

Ini tidak umum pada masa awal (sahabat), Periwayatan seperti ini boleh dan derajatnya lebih rendah dari as-sama' dan al-qiro'ah.

(5) Kitabah : menulis surat pada seseorang (korespondensi).
Dilakukan pada masa khulafaur rasyidin, surat2nya (khulafaur rosyidin) sering mengandung hadits yang diriwayatkan para ulama.

(6) I'lam : menginformasikan seseorang bahwa dia (si pemberi informasi) telah mendapat izin untuk meriwayatkan bahan tertentu. Yaitu seorang syaikh memberitahu seorang muridnya bahwa hadits ini atau kitab ini adalah riwayatnya fulan, dengan tidak disertakan izin untuk meriwayatkan dari padanya. Para ulama juga berselisih dengan metode ini.

Adapun lafadz yang digunakan periwayat berkata "A'lamani syaikhi", artinya guruku telah memberitahu kepadaku. Sebagian ulama membolehkan, sebagian lain tidak. Cara ini sulit dilacak pada masa-masa awal juga kesohihannya diragukan.

(7) Wasiyah : mewasiyatkan bukunya pada seseorang. (seorang syaikh mewasiatkan disaat mendekati ajalnya atau didalam perjalanan, sebuah kitab yang ia wasiyatkan kepada sang perawi. Riwayat ini sebagian ulama mengatakan boleh, sebagiannya mengatakan tidak boleh dipakai, dan yang shahih adalah tidak boleh). Contoh Abu Qilabah (wafat 104 H) mewasiyatkan kitabnya pada Ayyub Al Sakhtiyani.

(8) Wajadah : menjumpai buku/hadits yang ditulis seseorang, seperti kita datang ke perpustakaan kemudian kita membuka / membaca2 hadits/kitab. Ini yg paling banyak ditentang ulama, karena sanadnya putus/mursal. Karena sanadnya putus , sedangkan mutashil (sambungnya) sanad merupakan salah satu syarat kesohihan matan (isi) hadits, dengan demikian pengertian yang diperolah dengan cara ini tidak sohih.

Sabtu, 19 Februari 2011

Inilah 3 Penyebab Malaikat (Rohmat) Tidak Masuk ke Rumah !


Sabda Nabi Muhammad SAW " Tidak masuk (siapa) malaikat ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing, gambar timbul, dan orang yang junub".

Catatan : kata siapa dalam kurung merupakan kata sambung atau kata bantu bahwa kata berikutnya adalah pelaku /subyek atau "isim fail ".

Keterangan , Malaikat yang tidak masuk ke dalam rumah adalah malaikat kebaikan yang menebarkan rohmat. Bukannya malaikat maut, kalau malaikat yang satu ini tidak peduli bagaimanapun dan di manapun seorang hamba kalau sudah habis batas umurnya maka akan didatangi dan dicabut nyawanya.

Anjing, cukup jelas. Dikisahkan ketika Malaikat Jibril akan menemui Nabi Muhammad SAW, setelah sampai rumah Nabi ternyata Malaikat tidak mau mendekat. Setelah Nabi bertanya ternyata malaikat menjawab bahwa di rumah /depan pintu ada seekor anjing.
Memelihara anjing bagi seorang mu'min adalah banyak mudhorotnya karena najisnya termasuk najis berat.

Kemudian penjelasan gambar timbul adalah gambar yang menyerupai makhluk hidup yang bernyawa, dan gambar itu dapat diraba. Relief termasuk, terlebih patung. Beda kalau hewan asli buatan Alloh yang dikeringkan dibikin sebagai hiasan misalnya, itu "laa ba'sa" tidaklah bahaya.

Sedangkan Orang Junub maksudnya orang yang menanggung keadaan yang mewajibkan mandi junub namun belum melaksanakan mandi junub secara benar atau sudah melaksanakan mandi junub namun belum sah karena tidak /belum sesuai dengan petunjuk Rosulullohi SAW.
Keadaan yang mewajibkan manji junub atau janabat antara lain seorang yang mimpi atau tidak lalu keluar sperma/mani, suami dan istri yang selesai dari berhubungan badan (jima'), seorang yang habis memandikan jenazah, atau kaum wanita yang selesai /telah selesai dari haidh/menstruasi.

Mengingat pentingnya dalil di atas maka perlu diperhatikan betul2 agar malaikat kebaikan tetap sudi masuk ke dalam rumah , agar rumah kita menjadi damai, bersinar dan barokah.


Senin, 14 Februari 2011

Demi Kebaikan, Bolehkah Berbohong ?

Melalui Forum Interaktif Belajar Islam di Madrasahonline.net
Saudara Azmi Desatrio menulis sbb :

Assalamu'alaikum wr wb

Bagaimana hukumannya berbohong tapi demi kebaikan?

Untuk membahas pertanyaan di atas dalil yang relevan di bawah ini



'An Asma' binti Yazida qolat qola Rosulullohi SAW laa yakhilul kadhibu il-la fii tsalatsin, yukhaditsu rojulu imroatahu liyurdhiyaha wal kadhiba fil kharbi wal kadhiba liyushliha baina nas.

Ok langsung kita artikan kata per kata dari hadits itu,

Dari Asma' binti Yazid, dia berkata (bahwa) Rosulullohi SAW bersabda tidak halal berbohong kecuali dalam 3 perkara, yaitu seorang laki2 (suami) berbohong kepada istrinya (bertujuan) untuk menyenangkan istrinya, berbohong dalam peperangan dan berbohong untuk mendamaikan sesama manusia.

Jadi begini, pada dasarnya berbohong/dusta atau berucap pada sesuatu tetapi tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya adalah perbuatan dosa dan dilarang dalam agama Islam, namun dalam urusan tertentu berbohong menjadi diperbolehkan bahkan dalam keadaan darurat sangat diperlukan dan harus "berbohong".

Seorang suami yang dibelikan baju oleh istrinya, dalam hati kecilnya tidak suka dengan baju itu, namun untuk menyenangkan istri dia jadi berbohong. Ketika ditanya " mas ini aku belikan baju buat suamiku tersayang, dipake ya...." lantas baju itu dipakai. Bahkan sering kali dipakai. Ditanya lagi sama istrinya " wah bajunya dipake terus ya mas..." dijawabnya " Terimakasih ya mah, aku suka sekali sama baju ini" dengan penuh semangat.
Padahal kenyataan dalam hati kecil " uh baju apaan ini , aku gak selera biar aja aku pakai terus supaya cepat rusak dan gak layak pakai lagi".
Nah itu kan bohong tapi hasilnya baik, istri jadi bangga. Coba kalau dari pertama suaminya jujur....wah bisa2 istrinya jadi mogok gak mau masak.....berabe.

Kemudian saat dalam peperangan seseorang berhasil ketangkap sama musuh lalu diinterograsi " di mana markasmu" dia jawab " saya tidak tahu" . Itu juga bohong. Tapi tujuannya baik yaitu menyelamatkan pasukannya yang jumlahnya banyak. Dia tetap berbohong sekalipun disiksa hingga dibunuh, prinsipnya biar aku disiksa hingga mati yang penting pasukanku selamat. Ya, kalau jujur maka dalam waktu tidak lama seluruh pasukan dengan segala perlengkapan akan dibinasakan musuh.
Bohong dalam perang adalah strategi supaya dapat mempertahankan diri atau menang.

Lalu berbohong untuk mendamaikan antara sesama manusia yang sedang berseteru, itu juga boleh.
Biasa seorang yang sedang tidak suka pada orang lain, dia akan mencari partner untuk memperkuat posisinya, dan merongrong lawan seterunya.
Bagaimana melihat antara sesama saudara beriman yang sedang berseteru , tentu saja tidak nyaman dan berusaha bagaimana biar antara mereka dapat ishlah / berdamai kembali.
Si rojul (seorang yang akrab dengan kedua orang yang berseteru ) ditanya sama Suto " gimana si Noyo menurutmu ? benerkan omonganku, dia tuh orangnya licik dan apa yang kau dengar darinya saat membicarakanku? " Nah si rojul ambil inisiatif untuk -berbohong- " ah tidak kok, tadinya memang dia begitu tapi sekarang dia berubah, sepertinya dia sudah sadar dan kemarin saat ketemu saya, dia berkirim salam buatmu ".
Karena itikad baik dari rojul tadi Si Suto pun jadi sadar juga, secara bertahap mereka mau menyadari kesalahannya dan saling memaafkan hingga berdamai kembali.
Itu juga boleh, justru kalau dilihat usahanya si rojul bahkan mendapatkan pahala karena telah berjasa mendampaikan diantara dua orang iman yang memangnya harus bersaudara.

Ok, jadi intinya berbohong demi kebaikan itu boleh. Tentu saja kebaikan itu ukurannya dilihat dari hasil akibat terakhir dari proses bohon itu. Si istri jadi tetap bangga dan setia kepada suami, pasukan perang dapat selamat bahkan menang dalam peperangan, dan dua orang yang tadinya berseteru menjadi damai kembali.

Catatan: seandainya memungkinkan , paparan dalil yang masih belum diartikan harap diprint out. Silahkan mempraktekkan mengartikan kata demi kata dengan cara menyontek dalil yang bagian bawah sudah ada artinya.
Simpan baik-2 sebagai ilmu simpanan yang tidak mungkin dicuri.

Ada ketidakjelasan dalam apapun hal, jangan sungkan2 layangkan pertanyaan ke dalam kolom komentar.


TTD
Hari Wuryanto, S.Pd
085868841535/082138073697










Senin, 07 Februari 2011

Bagaimana Cara Talqin dan Bolehkah Ziarah Kubur ?

Pada 4 Februari lalu Saudara Fadhli Abda melemparkan pertanyaan melalui Forum Interktif Belajar Islam.....

assalamu'alaikum...wr.....wb.
pak hari ini ada 2 pertanyaan berhubung masalah talkin manyit, bisakah ustad menjelaskanya dan adakah dalilnya
yang ke 2.masalah ziarah kubur karna ada faham yang mengharamkan ziarah kubur
alasan mereka nabi tidk melakukannya dan ada juga yang membolehkannya
mohon ustd jelaskan secara detail beserta dalailnya.

Baik !, kita akan bahas satu per satu, untuk membahas soalan ini saya sudah siapkan "jurus" dalilnya berikut ini

I. Bab Talqin

(Klik untuk melihat tampilan lebih besar)

Untuk mengetahui pengertiannya kita artikan kata demi kata,

Keterangan dari hadits di atas bahwa, sabda Rosulullohi SAW menyerukan kepada kita semua agar men-talqin , istilah mengajarkan atau menuntun kepada orang yang akan hampir meninggal dunia agar mengikuti membaca kalimah tahlil " laa ilaha il-laAlloh" tiada sesembahan kecuali Alloh.

Seorang yang mendekati saat meninggal dunia boleh jadi tidak dapt berpikir secara jernih lagi, perasaan takut dapat menyebabkan orang menjadi lupa perkara yang penting. Dengan dituntun diharapkan dapat mudah dan lancar membaca kalimah "dhikrulloh" . Sebuah hadits riwayat Abu Dawud menurut penuturan sohabat Muadz bin Jabal, Rosul bersabda bahwa barang siapa yang
akhir ucapannya " laa ilaha il-lalloh" maka dia masuk surga.
Tentu saja jangan justru hal ini menjadi ketergantungan bahwa untuk dapat masuk surga cukup dengan mengandalkan ucapan di akhir hayat. Adalah langkah yang bijaksana manakala dari sekarang juga kita segera berserah diri untuk mendekatkan diri kepada Ilahi, belajar dan mengindahkan apa yang menjadi kehendakNYA dalan Kitab suci al-Quran.
Kemampuan seseorang di akhir hayat berucap tahlil juga boleh jadi merupakan pemberian dari Alloh atas amal selama hidupnya agar makin menyempurnakan nikmat Alloh kepada hamba yang dicintainya.


II.Bab Ziarah Kubur

ok , yuk langsung kita artikan

Keterangan :
Sungguh saya telah melarang kamu jika pergi ke kuburan, (namun sekarang) sungguh telah diidzinkan (oleh Alloh) bagi Muhammad untuk ziarah ke kubur ibunya, maka berziarahlah kalian ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akhirat.

Pada awalnya memang Rosulullohi SAW melarang umatnya ziarah (pergi) ke kuburan karena dikawatirkan tercampuri dengan pemikiran2 jahiliyah kaum musyrikin, yang "mengeramatkan" roh kakek nenek moyang yang sudah meninggal dunia.
Karena perbuatan menganggap roh arwah orang yang mempunyai kelebihan , mampu sebagai "washilah" atau perantara terkabulnya doa adalah jelas perbuatan menyekutukan Alloh (syirik) dan bakal menuai dosa berat di akhirat.
Namun akhirnya pada masa berikutnya Rosululloh SAW diperbolehkan oleh Alloh untuk ziarah ke kubur ibunya, dengan tujuan untuk mengingatkan akan kematian. Bahwa ternyata saudara-saudara kita sudah ditanam di dalam areal pekuburan, suatu saat pasti kita juga akan menyusulnya.

Setiap saat kita mendengar berita meninggalnya seseorng, atau saat kita ta'ziyah/melayat maka rasanya kita ini juga dekat dengan kematian. Suhu iman tiba-tiba melonjak naik. Nah betapa baiknya manakala suhu iman ini dijaga agar tetap dalam keadaan tinggi dengan cara sengaja mendatangi kuburan, syukur dapat bertafakur (berpikir /merenung) kapan saya bakal mengalami nasib sama , dimandikan, digotong lalu ditinggal sendirian di kamar yang sempit lagi gelap menunggu eksekusi dua malaikat. Sensasi alam kubur segera menjemput.

Jadi teman-teman, dan special Saudara penanya Mas Fadhli Abda , demikian yang dapat saya sampaikan.
Semoga bermanfaat, jangan lupa , jika ada yang belum jelas, apakah penampakan dalil sudah dapat jelas dibaca? atau bagaimana , nah silahkan tinggalkan komentar.

Rabu, 02 Februari 2011

Tips: Menghindarkan Penyesalan Besar

Masih melanjutkan posting yang lalu, kita bahas pertanyaan seputar " Penyampai Ilmu Agama yang Tidak Mengamalkan " berikut saya tampilkan dalil dengan tema terkait

dan di bawah ini arti kata demi kata dari hadits riwayat Ibnu 'Asakir tersebut

Rangkaian artinya :
" Paling beratnya manusia penyesalan di hari kiyamat adalah seorang sebenarnya memungkinkan baginya mencari ilmu (mengkaji ilmu agama) di dunia tetapi dia tidak mencarinya, dan seorang yang mengajarkan ilmu agama tetapi orang yang diajarkan mengambil manfaat (dengan mengamalkan) selain yang mengajarkan".


Ilmu pengetahuan adalah pembuka wawasan cakrawala seseorang. Dengannya manusia dapat mewujudkan aktualisasi diri, mengembangkan dan meningkatkan taraf hidup.

Menurut terminologi (istilah dalam pemahaman) agama yang sudah terperikan dalam kitab suci Al-Quran dan Al-Hadits, ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua menurut tujuannya. Yaitu ilmu pengetauan umum untuk tujuan keberhasilan di dunia, dan ilmu agama demi kesuksesan di kehidupan akhirat ( setelah kehancuran kehidupan dunia).

Seorang yang tidak memiliki atau minim ilmu pengetahuan umum maka hidupnya akan terbelakang. Karena untuk segala sisi kehidupan seperti dunia kerja, baik sektor formal maupun informal pasti dituntut suatu kecapakan khusus (skill) , sedangkan kecakapan adalah perwujudan praktek dari ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Sama halnya dengan urusan agama, bagi yang tidak memiliki pengetahuan ilmu yang memadai maka dapat dipastikan tidak dapat mengamalkan (pekerjaan untuk akhirat) perintah Sang Pencipta yang sudah di"paten"kan rapih dalam Kitab al-Quran.

Sesuai dengan matan (isi) hadits di atas, orang yang hidup di dunia sebenarnya ada kesempatan tetapi tidak mau menggunakan sebaik-baiknya untuk mengkaji al-Quran dan Hadist maka dipastikan bakal menyesal dengan seberat-beratnya menyesal di akhirat. Karena penyesalannya tidak akan lagi berarti apa-apa, sudah terlanjur di alam akhirat. Makin disesali makin menambah penderitaan.

Saudaraku, jaman sekarang dimana segala macam fasilitas sudah tersedia, berbagai sumber informasi makin melengkapi nafas kehidupan kita, rugi sekali rasanya sampai tidak dapat menyisakan waktu dan perhatian untuk perencanaan kehidupan setelah kematian.

Sedangkan golongan kedua yang bakal menanggung penyesalan yang sangat besar manakala seorang yang memiliki ilmu pengetahuan agama, dia mengajarkan kepada orang lain. Namun sayang ilmu agama yang diajarkan itu hanya berguna bagi yang diajarkan karena mau mengamalkan, sedangkan yang mengajarkan justru tidak mengamalkan sendiri.

Seabreg ijazah sebagai simbol banyaknya ilmu pengetahuan dunia, tentu saja pemiliknya tidak akan mendapatkan gaji manakala tidak mau bekerja mengaplikasikan ilmu pengetahuannya itu.
Demikian juga ilmu al-Quran dan Hadits , tidak cukup sebagai bahan bacaan pelengkap ritual peribadatan, namun perlu dan "wajib 'ain" bagi tip individu muslim mengerti maksudnya dan mengamalkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel Terkait

۞

Meningkatkan Kesadaran dan Pemahaman Hidup di Dunia


۞

Barang Berharga yang DIGRATISKAN




Kamis, 27 Januari 2011

Penyampai Agama Tapi Tak Mengamalkan, Apa Hukumannya?

Saudara Ais Hary di dalam pesan inbox FB saya tgl 27 Januari mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
Assalamuallaikum..
Kang hari.. Amal sholeh.. Ais minta paparan (berikut dalil dari Quran dan Hadist) hukum bagi seorang ahli agama.. Yg senantiasa memberi pencerahan pada umat.. Tapi dia sendiri tidak melaksanakan..
Dan menggunakan agama utk menutupi kebusukkan perilakunya.. Atas amal sholehnya ais syukuri Alhamdulillah.. Jazakallahu khoiro.

Ok, langsung aja kita tampilkan dalil dari al-Quran Surah Shof (61);2-3 yang berkenaan dengan tema pertanyaan tersebut


Untuk mengetahui arti kata demi kata lihat yang di bawah ini.


Rangkaian arti secara keseluruhannya adalah :
(Alloh SWT mempertanyakan di dalam kitabNYA ) Hai orang iman, mengapa kau katakan apa yang tidak kau amalkan ?, (ketahuilah) bahwa dosa besar di sisi Alloh jika kau berkata tentang apa yang tidak kau amalkan".

Keterangan:
Dakwah adalah sebuah proyek besar "pengentasan manusia dari jurang api neraka" memang diawali dengan "al-kalam" / pembicaraan atau perkataan agar obyek dakwah dapat menerima pesan dari pelaku dakwah (da'i).

Banyak ayat al-Quran atau hadits yang bertemakan seruan agar manusia menyebarluaskan ajakan kepada jalan Alloh (sabilillah)

Teguran langsung dari Alloh SWT pada ayat di atas menitikberatkan kepada " mengapa sudah mengatakan (menyampaikan/mengajarkan) tetapi tidak mengamalkan untuk diri sendiri?" , dan bukannya " mengapa belum mengamalkan tetapi sudah menyampaikan".


Selasa, 25 Januari 2011

Melihat Kemunkaran, Diam Saja ?

Untuk menanggapi persoalan yang dilontarkan Saudara Rini Susilowati di Forum belajar Islam kita di FaceBook, berikut saya kutipkan "penampakan" dalil berkaitan sebagai berikut :



Bacaannya berbunyi " sami'tu rosulallohi sholallohu 'alaihi wa salam, man ro'a munkaron falyunkir-hu bi yadihi wa man lam yastati' fa bilisani-hi wa man lam yastati' fa biqolbi-hi wa dzalika adh'aful iman"

Supaya lebih mudah dalam memahami arti kata demi kata dalil di atas berikut sudah saya pisahkan arti masing2 penggalan kata Arabiknya.




Hadits di atas saya kutip dari himpunan dalil Kitab Mukhtarul Adilah , yang berisi kumpulan dalil dari al-Quran dan Hadits.

Keterangan dari uraian arti hadits itu :

Nabi bersabda " Barang siapa melihat kemungkaran maka hendaklah mengingkari (kemungkaran itu) dengan tangannya dan barang siapa tidak mampu (dengan tangannya) maka dengan lisannya, dan barang siapa tidak mampu (dengan lisan) maka dengan hatinya, demikian (dengan hati) adalah paling lemahnya iman".

Kemungkaran adalah suatu perkara yang diingkari menurut kacamata norma agama. Sudah sepatutnya seorang yang dalam hatinya tumbuh benih keimanan hasil semaian Alloh SWT, tidak nyaman manakala terjadi kemungkaran di sekitarnya.

Seperti di tuturkan Saudara Rini yang selalu melihat kebohongan di depan mata maka akan timbul reaksi atas kelakuan itu. Kecuali orang yang memang cuek akan lingkungan maka hidupnya seperti tidak peduli akan fenomena disekitarnya.

Dari kasus yang dipaparkan (tidak perlu menyebut nama individu biar tidak terseret غِبَة /ghibah/ngrasani) Anda dapat melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan Anda.
Syukur kalau mampu dengan tangannya sendiri , langsung hubungi suaminya baik2 dan tegur secara halus dan itikad baik. lakukan demi keharmonisan hubungan suami istri.
Terasa tidak mampu seperti itu maka cobalah dengan lisan. Hubungi dan sampaikan pesan melewati seorang yang dipercaya. Intinya bagaimana suami itu mendapat nasihat atas kelakuan selama ini.

Masih tidak mampu untuk mengutarakan perasaan Anda, maka minimal dengan hati. Artinya dalam hati Anda betul2 tidak setuju dan mengingkari kelakuan suami yang terus melakukan kedustaan kepada istri.

Tapi ingat ! Baginda Rosululloh memberikan warning " itulah paling lemahnya iman" . Karena hanya dengan hati tanpa " do something" boleh jadi hati akan makin lemah terus-menerus membiarkan kemungkaran, seakan membiarkan budaya baru. Tidak menutup kemungkinan akan semakin merajalela.

Jadi lakukanlah sebatas mana yang Saudara mampu, niyatkan untuk mendapat ridho Alloh, jangan lupa untuk selalu mohon pertolongan sama Alloh SWT agar kita selalu dibimbing dalam petunjukNYA.

Demikian jawaban yang dapat saya haturkan, ada kurang lebihnya mohon maaf.

Apakah paparan dalil di atas dapat dipahami ? atau ada kesulitan, jangan sungkan2 masukkan pertanyaan ke tampilan komentar di blog.

Semoga manfaat dan barokah

Minggu, 23 Januari 2011

Beda Antara Ulama dan Ustadz

Hadits Riwayat Ibnu Majah dalam Kitab Muqodimah. Cuplikan hadits tersebut sekarang sudah terhimpun dalam Kitab Mukhtarul Adilah.

Sehubungan pertanyaan dari Saudara
Azmi Desatrio dari Forum Interaktif Belajar Islam di Madrasahonline.net maka pada kutip hadits itu untuk membahasnya di sini.
Saudara Azmi Desatrio melemparkan pertanyaan "

apakah perbedaan ulama sama ustad???
bagaimana seseorang itu bisa disebut ulama???

Baik,
Dari urutan arti kata demi kata pada hadits qouli (sabda nabi) di atas bahwa " sesungguhnya ulama aadalah pewarisnya para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar (uang emas) dan tidak pula mewariskan dirham (uang perak), sesungguhnya mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil ilmu berarti dia telah mengambil bagian yang sempurna".

Para nabi tidak meninggalkan harta benda keduniaan namun meninggalkan ilmu agama. Dengan demikian yang dimaksud ulama itu ya menerima warisan ilmu agama dari para nabi.
Lafadz الانبي ( al-anbiya) adalah isim jama' yaitu kata benda jama' /lebih dari satu.
Para nabi yang di maksud adalah nabi-nabi dalam sejarah agama Alloh berarti juga berlaku untuk nabi-nabi sebelum Rosululloh Muhammad SAW. Sehingga orang-orang yang hidup pada masa silam dan menerima ilmu agama dari nabi mereka juga disebut ulama.

Bentuk tunggal (mufrodh) dari ulama adalah " عَالِمٌ " 'alimun = orang yang mengetahui /pandai ilmu agama.
Ini kadang terjadi miss persepsi, ketika seseorang diam , kalem, tidak berlaku aneh-aneh lalu disebut alim. Tapi yang benar menurut arti kata bahwa seorang itu disebut "alim" karena dia mengetahui banyak/pandai tenang ilmu agama.

Sedang kata "Ulama" adalah bentuk jama' dari "alim" artinya orang yang pandai ilmu agama, jumlahnya banyak.

sedangkan "ustadz" artinya orang yang mengajar ( guru) mengaji/ilmu agama.

Dengan demikian dapat dibuat dikotomi (pengkotakan pengertian) bahwa seorang ustadz pastilah seorang ulama, tetapi seorang ulama belum tentu menjadi ustadz, dalam kondisi tertentu boleh jadi seperti itu.

Bagaimana seorang ustadz, pengajar ilmu agama/pengajian tidak memiliki pengetahuan yang cukup banyak (mumpuni) lalu apa yang akan diajarkan?

Tetapi seorang ulama kalau tidak menyampaikan ilmunya ya tidak disebut ustadz.
Tentu saja ulama yang demikian kelak dapat dituntut di hadapan mahkamah akhirat, karena telah menyembunyikan ilmu dari Alloh yang telah dilewatkan melalui warisan para nabi.

Demikian Saudara Azmi Desatrio semoga dapat dipahami.

Ada pertanyaan , komentar, saran , kritikan silahkan masukkan komentar blog atau Coment Box (CBOX). Tetapi lebih disarankan masukkan saja di komentar blog bloger agar bertahan lama dibaca pengunjung lain dan leluasa memberikan komentar/pertanyaannya.

Kami tunggu !

Rabu, 12 Januari 2011

Pentingnya Ilmu Hadits dalam Islam.

Karena ketidakjelasan akan sumber yang dipakai sebagai rujukan, maka seorang ulama selesai dari memberikan nasihat di mimbar pengajian, maka seorang peserta bertanya” Pak, tadi haditsnya bagaimana dan riwayat siapa? “.

Kasus lain, saat ada keributan kecil sehingga menimbulkan kerumunan di tepi jalan raya, maka seorang pengendara sepeda motor yang baru di tempat tersebut bertanya kepada seorang yang ada di situ “ ceritanya bagaimana mas?”

Meski kedua kejadian itu berbeda situasi, namun kedua penanya sama2 menginginkan kejelasan tentang akar masalah yang sebenarnya.

Kata “ cerita “ inilah kemudian di dalam istilah ilmu agama di kenal dengan “hadits” yang merupakan perubahan bentuk dari “hadatsa” Bahasa Arab yang artinya cerita.

Adapun makna secara konteks dalam suatu kalimat “pedoman dasar ilmu agama Islam adalah Quran dan Hadits” adalah sebagai berikut.

Al-Quran seperti yang kita lihat sekarang dikenal dengan Kitab Suci Al-Quran adalah firman Alloh SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril Alaihi Salam.

Sedangkan Hadits merupakan kumpulan cerita / reportase dari seluruh kelakuan Nabi Muhammad dalam hal memberikan suri tauladan kepada para sohabatnya berkenaan dengan tugas beliau sebagai penyampai wahyu Al-Quran yang diwujudkan dalam amaliyah pada kehidupan nyata.

Jadi kitab hadits bukanlah karangan seorang ulama pada masa lampau, namun merupakan laporan tentang perbuatan Rosululloh SAW baik berupa ucapan maupun perbuatan yang dilaporkan oleh sohabat yang melihat kehidupan Nabi secara langsung kemudian laporan itu disebarluaskan secara sambung-bersambung layaknya penyerahan secara estafet .

Pada masa sekarang Kitab Hadits yang termashur dan popular karena kesohihannya antara lain yang tergolong dalam KUTUBUSITAH = Kitab yang enam.

Enam orang penghimpun Kutubusitah tersebut antara lain : Imam Bukhori, Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nas’I, Sunan Ibnu Madjah, dan Sunan Tirmidzi. Di samping ke-enam kitab sohih tersebut masih banyak kitab hadits lain yang juga dipakai sebagai pedoman Agama Islam

Kita ambil contoh Sunan Abu Dawud yang menghimpun Kitab Sunan Abu Dawud, beliau lahir pada tahun 202 Hijriah, sedangkan Nabi Muhammad SAW wafat pada hari Senin 12 Robiul Awwal 11 Hijriah. Dengan demikian Sunan Abu Dawud tidak sejaman dengan Rosululloh SAW.

Sunan Abu Dawud dapat menghimpun kisah kelakuan Nabi Muhammad SAW melalui perantara gurunya, gurunya juga mendapatkan ilmu hadits dari guru sebelumnya dan seterusnya.

Dalam ilmu al-hadits urutan guru berguru itulah disebut ISNAD / SANAD (sandaran).

Keberadaan isnad ini merupakan factor penting dalam penelusuran suatu hadits sebagai penentuan adakah hadits itu sohih, dho’if, ghoribun, dll.

Hadits dikatakan sohih (sohih Bhs Arab = sehat), yaitu hadits yang sehat, selamat dari cela dimana semua orang dalam rangkaian isnad , orang yang jujur, dapat dipercaya, urutan-urutannya bersambung sampai kepada Rosulullohi SAW.

Hadits yang sohih berarti apa yang kita dengar sekarang betul-betul persis seperti apa yang terjadi pada diri Rosulullohi SAW.

Istilah sohih kalau dalam bahasa ilmiah popular dikenal istilah “valid” yaitu data / apa yang dipaparkan betul-betul objektif menurut apa adanya

Kalau kita dengar hari ini (tahun 1429 H=2008 Masehi) bahwa menurut Sunan Nasa”I, “dari Abdil Jabar bin Wail dari Bapaknya berkata : aku solat di belakang Rosulullohi SAW , maka ketika memulai solat Nabi membaca takbir (Allohu Akbar) seraya mengangkat kedua tangan setinggi kedua telinganya …..dst

Nah yang terjadi pada diri Rosululloh adalah betul-betul seperti apa yang dituturkan oleh Bapanya Abdil Jabar.

Berdasar hadits tersebut sekarang kita dapat melaksanakan ibadah solat wajib, dengan cara pada permulaan solat dengan membaca takbirotul ihrom dan mengangkat kedua tangan (keterangan lain : telapak tangan membuka menghadap ke kiblat dengan jari-jari tangan rapat)