Selasa, 21 Maret 2017

Tadabur Ke-2 : Sedia Payung Pasti Hujan

Sedia payung sebelum hujan.

Ungkapan bahwa persiapan segala sesuatu untuk mengantisipasi perkara yang mungkin terjadi, sehingga tidak tertimpa hal yang tidak diinginkan. Membawa payung bukan berarti agar tidak terjadi hujan, namun meminimalkan resiko basah kuyup jika sekujur badan tersiram air hujan. Karena orang hanya bisa melakukan perlindungan diri tidak dapat memanajement faktor luar dirinya, menghalangi terjadinya hujan.

Sedia payung sebelum hujan menandakan orang yang cerdas.
Tapi jika jelas di depan sana sudah terjadi hujan tetap saja nekat itu dalam terminologi Alqur'an disebut dzolim atau aniaya.

Hujan vs Kematian.

Lebih takut mana antar menghadapi hujan dan menunggu kematian.
Kawatir terkena hujan di perjalanan maka persiapan dengan membawa payung, jika dengan sepeda motor tentu dengan mantol, jas hujan.
Jika terpaksa lupa resikonya kena basah atau bersabar berteduh di tepi jalan, syukur-syukur tepat menjumpai angkringan. Di satu sisi menghindari resiko boleh jadi malah dapat menikmat hidangan. Resiko kebasahan jika tdk membawa alat perlindungan ada banyak cara.

Sedangkan menghadapi kematian tidak ada jalan lain, karena merupakan akhirnya kehidupan dan harus pindah ke etape kehidupan yang pasti dihadapi manusia.
Kematian dan kehujanan sama-sama faktor eksternal dari manusia. 

Lalu apa persiapan menghadapi kematian ?

Menghadapi kematian yang pasti datang tanpa persiapan yang cukup berarti nekat , dzolim, menganiaya diri sendiri.